Secercah Pesona Magis Bromo

Post

Malam itu terasa begitu dingin menggigit. Tubuh kami begitu lelah karena telah berkeliling Malang seharian, menyisakan kantuk teramat sangat namun mata ini tak bisa terpejam. Badan yang baru kurebahkan di ranjang, sudah dibangunkan kembali oleh Mbakyu pemilik hostel. Bangun, bangun, katanya sambil mengetuk sopan. Rupanya mobil sewaan telah menjemput kami.

img_4241

Untuk pergi ke Bromo, kami memilih untuk mengikuti Open Trip. Bukan saja karena harganya cukup murah, Rp 250.000 sudah mencakup ongkos jeep serta tiket masuk dan guide selama perjalanan; tetapi juga karena simple dan tidak ribet. Banyak yang bercerita kepada saya bahwa harga sewa jeep berbeda-beda, membuat saya malas mengatur sendiri perjalanan. Bromo sendiri terletak di Taman Nasional Gunung Semeru, tepatnya desa Cemoro Lawang dengan ketinggian 2392 m dari permukaan laut. Ia merupakan gunung vulkanik yang masih aktif dengan kaldera pasir seluas +- 6000 hektar!

Pak Supir memberikan sekotak roti dan minuman gelas. Ia menyuruh kami beristirahat, karena perjalanan akan memakan waktu kurang lebih tiga jam dari Kota Malang menuju Bukit Pananjakan, tempat masuk Bromo. Namun bagaimana mata bisa terpejam? Gubrak Gubruk!! Jeep melewati jalanan berbatu-batu dengan medan yang sepertinya sulit ditempuh. Bahkan beberapa kali jeep sempat turun ke bawah, mungkin keberatan dengan kami berenam. Untung saja malam begitu gelap, karena saya baru mengetahui saat pagi menjelang, bahwa yang kami lalui ialah jurang!

 

img_4034Sesampainya di Bukit Pananjakan, kami menunggu sejenak. Banyak yang menjajakan makanan hangat serta menyewakan jaket tebal. Sedingin apa sih nanti? Saya setengah ragu. Begitu banyak orang berkerumun, menantikan spot terbaik untuk melihat sang mentari terbit. Betulkah sebagus itu? Saya hanya berdiri dari kejauhan, tidak berharap banyak.

Saat mentari mulai menunjukkan cahayanya, saya yang ragu mendadak terpesona. Semburat kemerahan muncul dari balik langit gelap tak berbintang. Cahaya demi cahaya merekah, bagai menyinari jiwa saya. Begitu banyak orang terdiam, tak sanggup berkata-kata. Ooh Tuhan, nikmat apalagi yang ku dustakan? Saya merasa diri ini tersinari dan tercerahkan karenanya.

img_4075Ternyata, kekaguman saya belum sampai di sana saja. Setelah puas memandangi matahari terbit, kami dibawa ke Bukit Cinta. Suatu bukit yang unik dengan hamparan kabut dan bunga edelweiss. Saya begitu bersemangat berlari hingga hampir terjatuh.

Berikutnya kami dibawa ke Kawah Bromo dan Lautan Pasir Berbisik. Pasir hitam hasil vulkanik bagai membuatmu sedang berada bukan di dunia. Jika kamu ingin turun ke bibir kawah, kamu dapat menunggang kuda yang membawamu berlari cepat, melesak di tengah gurun pasir. Menaiki jeep sendiri di tengah deruan pasir hitam bagai membuatmu sedang berpetualang, melupakan segala jenuh dan masalah yang ada.img_4220

Belum cukup saya terpana, kembali saya dibuat terlena dengan Padang Savanna. Ooh, di sinilah penyanyi terkenal Raisa membuat foto ikonik senyumannya. Saya dan sahabat berlari dan menari dengan gembira. Lupa dengan semua persoalan yang tertinggal di dada. Betapa cantik nan menawannya!

img_4179img_4231

Perjalanan sudah hampir menuju akhir, kami pun mencapai kimg_4239limaks ceritq di Bukit Teletubbies. Hamparan rumput hijau dengan bukit yang bersatu naik turun, tampak seolah ingin berdendang riang bersama kami. Saya dapat membayangkan Teletubbies berlarian dan menggelinding gendut, karena pemandangan ini tampak seperti lukisan. Bunga-bunga yang bergoyang malu-malu, kuncup edelweiss yang terbang dengan penuh haru.

Secercah pesona magis Bromo membuat saya lupa akan semua rasa jengkel dan marah di hati. Bromo, oh Bromo, saya pasti akan datang kembali!