Selamat Datang di Negeri Laskar Pelangi

Menginjakan Kaki di Kota Tanjung Pandan

Jalanan di Ibukota Kabupaten Belitong Barat, Tanjung Pandan ini cukuplah lengang. Jalannya lebar, mulus, rata dan sangat rapi. Pada sepanjang jalan yang kami lewati banyak sekali hutan-hutan serta simbol Daun Simpor yang menjadi ciri khas Belitong. Lampu-lampu penerangan di pinggir jalan pun menggunakan simbol daun ini sebagai ornamennya.

Satu yang membuat ganjil adalah, hampir setiap jalan yang dilewati tidak terlihat angkutan umum macam bis, angkot, atau taxi sekalipun. Yang ada hanyalah mobil-mobil pribadi yang biasanya dijadikan sebagai mobil jemputan untuk para agen perjalanan dari bandara. Sisanya adalah sepeda motor yang berlalu lalang namun intensitasnya pun tidak sepadat di kampung sendiri, Banjarnegara.

Tata kotanya sangat rapi dan teratur, mulai dari bangunan pemerintahan, sekolah hingga yang paling banyak adalah ruko-ruko berlantai lebih dari satu yang mayoritas dimiliki oleh saudara kita dari etnis Tionghoa. Satu hal lagi yang unik atau beda adalah tidak ditemukannya trotoar untuk para pejalan kaki, walaupun jalanan lebar namun tidak satupun terlihat trotoar.

Pada pusat kotanya, kami disuguhi sebuah tugu khas di Belitong yaitu Tugu Batu Satam atau konon katanya batu yang berasal dari meteor yang jatuh ke bumi. Di pusat kota terdapat tugu ini yang berukuran besar persis di tengah-tengah persimpangan lima pusat kota. Sementara itu di sekelilingnya banyak terdapat ruko-ruko khas tradisional Tionghoa yang ditata dan dilestarikan sedemikian rupa hingga terlihat unik.

Mencicipi Sajian Mie Atep Yang Terkenal di Seantero Belitong

Mobil yang kami tumpangi bareng Tim KitaINa kini terparkir persis di depan sebuah ruko yang menjual sajian mie khas Belitong. Mie Atep nama rumah makan ini. Seorang perempuan berambut ikal dan berkulit cerah tengah duduk di meja kasir sambil mengamati pengunjung yang datang, beliaulah Ibu Atep, pemilik rumah makan yang menyajikan mie khas Belitong ini.

Mie Belitong Atep yang cukup terkenal di Kota Tanjung Pandan

Aroma udang dan bumbu rempah menyeruak dari panci-panci besar yang terus mengeluarkan asap dari kompor-kompor yang terus menyala di bawahnya. Lokasi memasak yang persis di samping meja makan, membuat para pengunjung bisa menyaksikan langsung proses memasak maupun meramu sajia mie yang terdiri dari : Mie kuning, tauge kuning, irisan udang kecil, irisan mentimun, irisan kentang rebus, bakwan udang, tahu, serta kripik melinjo untuk kemudian disiram dengan kuah kental yang beraroma seafood serta rempah.

Mie Belitong, satu yang selalu ada adalah daun Simpor sebagai alas atau penutup makanan

Mie Atep ini berada di Jl. Sriwijaya No.27, Parit, Tanjung Pandan, Belitong. Seporsinya dihargai sekitar lima belas ribu rupiah dengan disajikan dalam piring datar bukan di dalam mangkok. Satu hal lagi yang tidak ketinggalan adalah penggunaan Daun Simpor untuk penutup hidangan agar rasanya menjadi khas.

Dulunya Daun Simpor ini digunakan untuk membungkus mie yang masih dalam keadaan panas namun sekarang kebanyakan orang makan langsung di tempatnya dan penggunaan Daun Simpor hanya dijadikan untuk penutup piring-piring yang siap disiram kuah kental.

seporsi Mie Atep lengkap dengan kripik melinjo

Mie Atep ini sudah ada sejak tahun 1973 dan hingga kini masih eksis hingga menjadi buruan wajib para pelancong yang mengunjungi Pulau Belitong.

Dalam sehari Mie Atep ini bisa menghabiskan seratus porsi mie yang lahap dimakan oleh para pengunjung. Satu yang membuat saya jatuh cinta dengan kuliner Belitong adalah rasa manisnya yang tak beda jauh dengan lidah saya yang sangat Njawani ini, tak perlulah menambahkan kecap manis yang tersedia di meja-meja makan.

Wawancara singkat saya dengan Ibu Atep diakhiri dengan sesi foto yang awalnya tak pikir bakalan enggan difoto, malah sebaliknya, beliau minta difoto dalam pose yang “cakep” dan diminta diulangi lagi hehehe.

Di dalam Mie Atep ini banyak terdapat foto-foto para pejabat, mantan Presiden Megawati hingga artis ibukota yang pernah mampir dan berfoto dengan sang pemilik.

Hari makin siang, dan rombongan trip ke Belitong bareng Tim KitaINA pergi meninggalkan kota menuju daerah Belitong Timur.

 

blogger paruh waktu dari Kota Dawet Ayu Banjarnegara

Leave a Reply