Senandung Dieng

“Everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you’re climbing it” – Andy Rooney

Ketagihan. Itu yang saya rasakan ketika pertama kali naik gunung. I want more, more, and more!

The heroes of the story:

  • Febriyara Ardhi Putra
  • Medina Basaib

Liburan terakhir saya ditemani oleh pemandangan pantai, saya rindu pemandangan di atas gunung. Kali ini Febry menyarankan untuk ke Gunung Prau. Kenapa Gunung Prau? Satu, karena tidak jauh, jadi hanya memakan waktu saat weekend saja. Kedua, Gunung Prau medannya tidak terlalu berat, cocok untuk pemula seperti saya. Ketiga, dia sudah pernah ke sana, jadi sudah ada gambarannya.

Setelah berganti-ganti rencana jadwal keberangkatan, akhirnya kami membeli tiket kereta secara online tujuan Stasiun Purwokerto PP. Untuk keberangkatan, kami membeli tiket KA Serayu Malam dan pulangnya naik KA Senja Utama Yogya, dengan jumlah Rp526.000, berarti 1 orang Rp263.000.

Jumat, 27 Mei 2016

Agar tidak dihitung cuti, kami pergi hari Jumat malam. Saya memutuskan untuk ke Stasiun Senen langsung dari kantor selepas kerja. Dari kantor saya di Matraman, setelah re-pack tas, saya naik angkot 01A ke Stasiun Senen. Sampai di Senen sekitar pukul 20.00, masih ada waktu sejam sebelum kereta berangkat, jadi kami makan dan print tiket dulu. Pukul 21.00, kereta kami berangkat menuju Purwokerto. Bismillahirrahmanirahiim..

Kereta cukup ramai, dan namanya juga kereta ekonomi, yaa.. begitulah keadaannya; duduk tidak nyaman, susah selonjoran, jangan harap bisa tidur nyenyak. Tapi somehow menurut saya naik kereta ekonomi selalu berkesan. Selain harganya yang murah, kereta ekonomi selalu menyimpan cerita. Salah satu scene kereta ekonomi yang menarik kali ini datang dari tempat duduk di sebelah kami. Di sana ada anak batita yang cukup rewel, sehingga agar anaknya bisa tidur nyenyak, sang ibu rela untuk duduk dan tidur di lantai kereta, sedangkan sang ayah keluar gerbong (mungkin di sekitaran kamar mandi).

20160528_002136

Sabtu, 28 Mei 2016

Kami sampai di stasiun Purwokerto pukul 07.33 pagi, langsung menuju kamar mandi untuk ganti baju dan siap-siap. Karena memakan waktu cukup lama, sudah banyak rombongan pendaki yang berangkat, sedangkan kami ingin nebeng bersama rombongan lain, agar biaya transport murah. Untunglah ketika keluar stasiun, ada rombongan yang sedang mencari transport juga. Setelah negosiasi dengan beberapa penyedia jasa transport, kami dan rombongan itu (8 orang, ditambah saya dan Febry jadi total 10 orang) memutuskan untuk charter angkot yang langsung menuju Patak Banteng, jalur pendakian kami. Harga charter angkotnya Rp130.000 per orang, untuk PP Purwokerto-Patak Banteng-Purwokerto. Kalau tidak PP (hanya perginya saja), Rp70.000 per orang.

Pukul 08.15 kami berangkat, dengan perkiraan kami sampai di Patak Banteng sekitar jam 12 siang. Di jalan, namanya juga minoritas, jadi ikut saja ketika semua memutuskan untuk sarapan dulu. Oleh Pak Supir, kami diajak ke sebuah warung nasi rames di Purwokerto, karena di sana nasi ramesnya cukup terkenal.

Saya memilih lauknya sayur bayam, telor ceplok, dan perkedel, harganya Rp8.000. Murah yhaaaa… Kalau di Jakarta mungkin bisa Rp12.000.

Lanjut jalan lagi menuju Patak Banteng. Sepanjang perjalanan, sang supir mengoceh terus. Pak supir bilang, kalau lewat jalan biasa (jalur besar), macet sekali hari itu, karena sedang ada perbaikan jalan. Jadi si bapak mengambil jalur pedesaan yang jalannya masih tidak terlalu bagus. Ternyata di jalur itu pun jalanan sedang dicor, sehingga dibuat buka-tutup jalur yang membuat macet.

20160528_115919_HDR
Banyak mobil jemputan anak sekolah yang anaknya duduk di atap mobil – sedang mengantri buka-tutup jalur.

Selain itu, di perjalanan juga kami menemukan rombongan anak SD, TK, dan PAUD yang sedang pawai diiringi drum band di dekat Dieng.

After the loooong andddd winding roaaddd jreng jreng (The Long and Winding Road -The Beatles).. akhirnya kami sampai di Patak Banteng pukul 15.00! Meleset beberapa jam dibanding perkiraan :/ kami berpisah dengan rombongan teman seperjalanan, karena mereka memutuskan untuk makan siang dulu, sedangkan saya tidak ingin terlalu malam ketika sampai di tempat kemah.

Di Patak Banteng, jangan lupa daftar di pos pendaftaran. Biaya masuk Gunung Prau sebesar Rp10.000, nanti kamu akan dikasih kertas berisi map, peraturan, dan nomor yang bisa dihubungi. Pukul 15.10 kami mulai naik!

PETA-JALUR-PENDAKIAN-GUNUNG-PRAU
Peta jalur pendakian lewat Patak Banteng – credit: infopendaki.com

Di awal perjalanan, kami disambut oleh anak tangga melewati beberapa rumah menuju kaki gunung. Mungkin karena terlalu lama duduk di perjalanan dan langsung naik tangga, rasanya nafas saya pendek sekali, jadi terasa cepat lelah. Rasanya mau melambaik-lambaikan tangan ke kamera. Melihat lapak jualan tongkat bambu, rasanya saya ingin beli agar lebih mudah ketika mendaki. Tapi ketika melihat harga dan bentuknya yang rasanya tidak worth it, akhirnya saya urungkan niat membeli tongkat. Beruntung, setelah Pos 1 Sikut Dewo, saya menemukan tongkat tak bertuan yang cukup kokoh. Tanpa pikir panjang, saya langsung ambil, karena saya jarang olahraga dan stamina saya tidak sekuat itu hehe..

1464677317726
Pemandangan setelah melewati pos 1. The lepek hair tho..

Jalur Patak Banteng ini konon jalur yang paling ekstrim dibanding jalur lain. Maksudnya ekstrim, jalurnya tidak landai dan di beberapa spot mendaki memang harus mendaki dengan bantuan tangan, tapi masih cukup ringan untuk pemula kok. Karena kondisi jalurnya yang cukup curam, katanya waktu tempuhnya paling cepat dibanding jalur lain.

1464677389787

Setelah melewati pos 2 Canggal Walangan, cuaca mendung diiringi gerimis. Saya mulai berpikir, mungkin karena cuaca seperti ini saya tidak bisa melihat sunrise atau pemandangan seperti di pencarian Google. Semakin ke atas udara semakin dingin, apalagi ditambah gerimis dan kabut. Tak terasa (eh kerasa juga sih), kami sudah sampai di pos 3 Cacingan. Di sana banyak orang yang istirahat, namun saya dan Febry tidak berlama-lama di pos itu, hanya foto di papan pos, lalu berangkat lagi.

Langit semakin gelap, hujan semakin deras, udara semakin dingin, jarak pandang semakin pendek, hingga akhirnya kami menemukan penampakan tenda dan kemah. Sampai di kemah sekitar pukul 17.50 (kira-kira pas setelah adzan maghrib), kami mencari spot yang kosong, dan diiringi hujan dingin, membuat tenda.

Alhamdulillah tenda sudah jadi dan saya bisa merasakan sedikit kehangatan. Sedikiiit saja. Makaaaannnn!

Sayang sekali di luar hujan deras, sehingga malam itu saya tidak bisa melihat hamparan bintang yang biasanya saya tunggu. Boro-boro melihat bintang, keluar tenda saja tidak bisa.

Minggu, 29 Mei 2016

Tidur saya gelisah karena kedinginan, kebasahan, keberisikan (suara angin dan hujan yang seperti mencabik tenda sangat menyeramkan!). Khawatir tidak bisa melihat pemandangan. Saya terbangun sekitar 2 jam sekali. Sudah waktunya subuh, berarti sebentar lagi matahari akan terbit! Saya intip keluar, masih hujan dan berkabut. Akhirnya memutuskan untuk tidur lagi. Begitu terus, hingga akhirnya matahari sudah muncul namun masih berkabut. Saya tidak tahu apakah orang lain bisa lihat sunset atau tidak, tapi saya dan Febry melewatkannya.

Pagi itu saya terbangun pukul 06.40 dalam keadaan kebelet buang air kecil. Ditemani Febry, saya naik ke hutan di atas kemah, mencari spot yang tenang. Rasanya di sela-sela pepohonan itu memang spot buang air, karena banyak bekas tisu dan ampas tubuh. Sambil melihat sekeliling, saya melihat pemandangan yang ada di pencarian Google, namun hanya sekitar 5 detik sebelum kabut kembali menutup pemandangan Gunung Sindoro itu. Ah, sayang sekali saya hanya diberi waktu sebentar, dan tidak sempat mengabadikan pemandangan itu.

Sekitar pukul 08.00 kami beberes tenda dan sampah, lalu naik ke bukit Teletubbies. Suasana masih berkabut.

1464677014253

Kami memutuskan untuk pulang lewat jalur Dieng, yang lebih landai dibanding jalur Patak Banteng, karena kami masih ingin menikmati pemandangan dan tidak terburu-buru.

Untuk menuju Dieng, kami melewati puncak gunung Prau. Saya pikir area perkemahan adalah puncak Gunung Prau, namun ternyata bukan. Dari perkemahan ke puncak gunung sangat sepi, sehingga saya benar-benar takut tersesat, untunglah ternyata jalan yang kami tempuh benar.

Akhirnya sampai di puncak Gunung Prau, 2.565 mdpl! Pemandangannya malu-malu, masih ditutupi kabut, hanya sesekali terlihat.

Lanjut jalan, kami lebih santai menikmati pemandangan, tidak seperti naiknya. Masih ditemani kabut, kami melewati berbagai spot foto menarik.

14646769030601464677718326

20160529_113223

Ditambah kabut, hutan-hutannya terasa seperti di Fairy Tale yang gelap 🙂 I love it!

1464677819980
Namanya Nganjir!

Lewati hutan, tanah rawan longsor, 3 pos, perkebunan seluas mata memandang, dan pos registrasi, pukul 12.55 akhirnya kami sampai kota Dieng.

1464677009200

*Jangan lupa memberi kabar orang di pos kamu naik, saya naik di Patak Banteng dan turun di Dieng, langsung lapor ke pos Dieng dan hubungi nomor yang tertera di kertas yang dikasih sebelumnya, kabari kalau kamu sudah sampai tujuan dengan selamat.

Istirahat di Dieng, makan mie ongklok dan beli manisan Carica kesukaan saya, saya dengar katanya semalam badai. Whaaaaaat……?

Di Dieng (tepat di depan tulisan DIENG yang terkenal), banyak bus yang menawarkan transport ke Wonosobo. Berhubung kami pisah dengan rombongan, kami menuju Purwokerto secara terpisah. Naik bus kecil ke Wonosobo seharga Rp20.000, di terminal Mendolo Wonosobo, lanjut lagi naik bus lebih besar ke terminal Purwokerto seharga Rp35.000.

Sampai di terminal Purwokerto pukul 18.30, langsung naik taksi ke stasiun. Pakai argo ya, karena banyak taksi yang nakal tidak mau pakai argo. Di stasiun, kami bertemu kembali dengan rombongan teman seperjalanan. Pukul 20.50 naik kereta Senja Utama Yogya menuju Stasiun Senen dan sampai di sana pukul 02.35. It’s a wrap deh!

Things I’ve learned from this trip:

  • Memang, tidak dapat melihat sunrise rasanya cukup mengecewakan. Namun, ternyata saya tidak sekecewa itu. Saya baru sadar kalau ketika naik gunung, bukan sunrise yang saya cari, namun rasa puas ketika saya bisa berdiri di puncaknya, tersenyum karena saya berhasil mengalahkan rasa capek, dingin, mengesampingkan ego, saya bisa mengalahkan diri saya sendiri. Ternyata, saya bisa berdiri di sana!
  • Sepertinya saya akan beli tongkat untuk mendaki gunung 🙂
  • Hey, saya menepati janji saya ketika ke Dieng 2 tahun lalu. Saya harus kembali ke Dieng ketika tidak sedang festival!

Signature food I’ve tried:

  • Lagi-lagi Mie Ongklok. Namun tidak ada satenya kali ini. Entah karena lapar atau bukan, rasanya lebih enak dibanding pengalaman saya 2 tahun lalu.
  • Manisan Carica. Luv.

Total cost: +- Rp550.000

What I think about this trip:

Keb, if you read this, I’m looking forward to this again for the rest of my life – with you..

Sedang lihat kalender, cari tanggal merah,

Cheers!

Medina

1464677435146

Seorang gadis yang penasaran dengan dunia

Leave a Reply