Simfoni Keindahan Negeri Di Atas Awan

Post

Perjalanan Dieng dan Gunung Prau sudah lama di idamkan, siapa yang tidak akan terpesona dengan pemandangan indah yang di sajikan melalui gmabar-gambar yang mengihiasi timeline media sosial. Sempat kecewa  karena rencana sebelumnya yang batal disebabkan sakit tak terduga. Bersama 11 orang lainnya  menuju Dieng, Wonosobo. Bertolak dari terminal Kampung Rambutan – Jakarta menggunakan bus, lama pejalanan yang harus ditempuh kurang lebih empat belas jam.

dieng-pletau

Ya, singkat cerita sekitar pukul 08.00 pagi kami tiba di daerah Banjar Negara berbatasan dengan Wonosobo, dan disana kami sudah di jemput dengan warga setempat yang akan menemani perjalanan selama di Dieng. Menggunakan angkutan umum semacam ELF yang telah disediakan perjalanan menuju destinasi pertama kami yakni ke Candi Arjuna yang merupakan salah satu gugusan dari 4 candi Dieng.

Mengintip informasi sejarah Candi-Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di kaki pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa tengah. Kawasan Candi Dieng menempati dataran pada ketinggian 2000 m di atas permukaan laut, memanjang arah utara-selatan sekitar 1900 m dengan lebar sepanjang 800 m.Kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa yang diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9 ini diduga merupakan candi tertua di Jawa. Candi Dieng terbagi dalam 3 kelompok dan 1 candi yang berdiri sendiri yang dinamakan berdasarkan nama tokoh dalam cerita wayang yang diadopsi dari Kitab Mahabarata. Ketiga kelompok candi tersebut adalah Kelompok Arjuna, Kelompok Gatutkaca, Kelompok Dwarawati dan satu candi yang berdiri sendiri adalah Candi Bima.

candi-arjuna

Dari kesekian banyaknya Candi Arjuna lah yang sering menjadi icon wisata kota Dieng, selain lokasinya yang cukup startegis kawasan ini pun menyuguhkan panorama alam yang indah dan menyegarkan mata. Diresmikan pada 28 Juli 2008 Oleh Ir. Jero Wacik, SE selaku menteri kebudayaan dan pariwisata kala itu  kawasan candi arjuna terakhir dilakukan purna pugar terakhir.

Melanjutkan ke kawasan telaga warna, saat itu kami melewati gapura yang bertuliskan Wana Petak 9 Dieng, lokasi yang agak sunyi dan perjalanan yang menanjak serasa seperti pemanasan sebelum menanjak sungguhan ke Gunung Prau. Jika saya bisa sebutkan mungkin lokasi yang kami kunjungi itu semacam bukit.

telaga-warna

Setelah berhasil menuju lokasi teratas kami bisa melihat keindahan kawasan Telaga Warna yang indah dan mempesona. Perpaduan warnanya yang sempurna sungguh membuat takjub mata memandangnya. Fenomena alam di Telaga Warna adalah berupa pergantian warna air dari telaga tersebut. Kadang, telaganya berwarna hijau dan kuning atau berwarna-warni seperti pelangi. Secara ilmiah pergantian warna di Telaga Warna karena di dalam air tersebut terdapat kandungan sulfur cukup tinggi. Sehingga saat sinar Matahari mengenainya, maka warna air telaga nampak berwarna-warni.

selanjutnya adalah Kawah Sikidang. Penduduk setempat mempercayai legenda yang melatar belakangi tempat wisata ini berhubungan dengan asal muasal anak-anak Dieng yang berambut gimbal. Area vulkanik seluas 200m terletak di kawasan yang cukup datar sehingga pengunjung dapat melihat gelagak lumpur kawah dari dekat. Kawasan ini disertai semburat air mendidih berwarna kelabu dan hal menarik lain disatu sudut ada seorang penduduk yang menawarkan jasa memasak telur dengan air kawah. Meskipun memiliki kadar belerang yang cukup rendah jika saya boleh menyarankan alangkah lebih baik tetap menggunakan masker, karena organ tubuh dalam manusia pun tidak baik menghirup uap belerang terlalu banyak. Tekstur tanah dan suasana Kawah Sikidang mengingatkan saya perjalanan semasa Ke Papandayan, kurang lebih hampir serupa.

kawah-sikidang

perjalanan di lanjutkan untuk persiapan summit Gunung Prau yang berada di ketinggian 2565 mdpl, sedikit ulasan tentang gunung Prau, terletak di perbatasan kabupaten Kendal dengan Wonosobo, Jawa tengah. Gunung yang juga di kenal sebagai gunung seribu bukit, asal muasal nama prau sendiri disematkan karena  Gunung Prau ini terlihat seperti perahu terbalik bila kita melihat ke arah selatan dan barat daya dari jalan raya di sekitar Weleri, Kendal, dan sekitarnya.

Meskipun sempat terjadi silang pendapat. Akhirnya kami memtuskan untuk menanjak melewati jalur Dieng, dibanding jalur petak banteng informasi yang kami dapat track Dieng setidaknya jauh lebih bersahabat dan ternyata tidak sedikit yang melewati jalur tersebut, selain itu kabar yang kami dapatkan bahwa jalur petak banteng yang menjadi favorite beberapa pendaki sering terjadi longsor.

Kami melewati jalur dieng dimana view awal yang kami saksikan adalah hamparan perkebunan sayur yang sangat luas dan subur. Tanaman tumbuh dengan sangat baik di sana, ah..sungguh takjub dibuatnya. Untuk trecking kami saat itu tidak terlalu sulit, perjalanan yang cukup landai dengan hanya beberapa tanjakan, meskipun begitu tetap saja rasa lelah menggelayuti dan tidak sedikit di beberapa langkah perjalanan kami beristirahat, saling sapa dengan pendaki lain.

Karena kami memulai pendakian sekitar siang hari sekitar jam 2 an jika tidak salah. Kami pun sempat menyaksikan sunset di ketinggian, ah..betapa indahnya maha karya Tuhan. Berpadu bersama alam di langit senja yang mulai temaram bersama kawan-kawan seperjuangan. Itulah yang akan selalu menjadi kisah untuk bisa dikenang.

Perjalanan terus kami selusuri, hari semakin gelap dan dingin mulai menusuk-nusuk. Melewati hamparan bukit gunung teletubies kami terus berjalan di bawah langit yang mulai kelam. Akhirnya tiba juga kami di tempat camp, kalau saya memperkirakan sekitar tepat magrib karena saat itu ada seorang pendaki yang melantunkan adzan, semakin membuat teduh dan hikmat dikala bisa mengagungkan nama ilahi di hamparan alam nan luas seperti itu.

Sekitar pukul 5 pagi usai menunaikan shalat subuh saya menyusul yang lain berjalan ke arah perbukitan. Dinginnya pagi kala itu sungguh-sungguh menusuk tulang, menggigil di buatnya. Menyaksikan hamparan samudera awan yang sangat memikat, mananti sang surya menyapa dunia. Dari sebrang bisa terlihat sangat jelas gunung sindoro dan sumbing yang bisa disaksikan dari gunung Prau ini.

prau

Sebelum bertolak kembali ke domisili masing-masing, tak ketinggalan Kami menyempatkan untuk menikmati kuliner khas Dieng yang di kenal dengan Mie Ongklok. Komposisinya terdiri dari mie, kol, dan kucai yang dicampur dengan bumbu kacang lalu diberi kuah jenang. Kuah jenang sendiri terbuat dari bahan dasar gula jawa, ebi, pati, serta rempah-rempah yang diolah. Setelah bumbu kacang dan kuah jenang dicampur lalu di ongklok (diaduk), kemudian diberi kecap, merica, dan bawang goreng. Untuk mendapatkan hidangan yang lebih sempurna, Mie Ongkok pun dapat dinikmati dengan lauk pendamping seperti sate.

mie-ongklok

Selain itu yang menjadi ciri khas lain dari Dieng Wonosobo adalah Carica buah mirip pepaya namun berukuran lebih kecil atau biasa dikenal juga dengan nama pepaya gunung.  buah khas ini memang tumbuh subur seperti Dieng dengan ketinggian sekitar 1500-3000 meter di atas permukaan laut. Keunikannya ini kerap menjadi primadona bagi petani tanaman tersebut yang dapat meraih penghasilan melalui olahan dari Carica seperti manisan yang kerap dijadikan buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke Dieng.

Berada di ketinggian 2093 meter sehingga Dieng  sering dikenal dengan sebutan negeri di atas awan. Kunjungan kami saat itu baru memasuki zona wisata Dieng 1. Sungguh tak akan pernah menyesal untuk mengunjungi Dieng, yang lagi-lagi tak akan bosan saya menyebutnya salah satu potongan surga Indonesia. Udaranya yang sejuk, bersih serta tanahnya yang subur sungguh menjadi nilai plus tersendiri suatu anugerah Tuhan terhadap negeri khatulistiwa ini.

 

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.