Solo Travelling Ke Lombok

“Tempat mana yang ingin kamu kunjungi?” tanya seorang laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai HRD sebuah penerbit mayor di Jogja.

“Lombok,” saya menjawab singkat meyakinkan.

“Kenapa Lombok?” tatapnya tajam.

“Saya melihat di internet Lombok begitu indah. Saya belum pernah ke sana jadi saya harus ke sana.”

“Kamu tahu pelamar sebelum kamu itu sudah bolak-balik ke Lombok berkali-kali. Bahkan tadi ada yang baru pulang dari Jepang, Turki, Thailand. Dan kamu belum pernah ke Lombok? Kami tidak bisa merekrut orang seperti kamu.”

Saya harus pulang dengan muka lusuh, hati remuk, dan badan yang sangat lelah. Perjalanan ke Jogja 6 jam hanya membawa pulang hinaan. Itu terjadi tahun 2013, ketika saya baru menjadi freshgraduate yang luntang lantung cari kerja. Saya sebenarnya hanya iseng melamar sebagai editor buku travelling. Tapi hati ini terasa benar-benar remuk, hanya diwawancara sepuluh menit dan langsung ditolak.

Sepanjang perjalanan pulang saya terus berdoa suatu saat nanti saya pasti bisa ke Lombok. Dan, ….

Di malam yang syahdu sehabis hujan, doa itu terjawab. Saya mendapat hadiah perjalanan ke Lombok gratis karena lomba menulis di blog. Ini lah kekuatan doa, bila kamu benar-benar menginginkannya seisi semesta akan mendukungmu. Hari itu pun datang, saya bisa sampai ke Lombok dengan selamat.

Berbekal nekad saya seorang diri dari Cilacap naik kereta lebih dari 6 jam. Sampai Stasiun Pasar Senen tengah malam sedangkan penerbangan jam 9 pagi. Alhasil harus menunggu sampai pagi di depan emperan toko. Bersama penumpang lain yang menunggu jadwal perjalanan berikutnya.

Sebelum subuh saya sudah memesan ojek online untuk mengantar saya ke Stasiun Gambir. Bukan untuk naik kereta lagi, tapi agen Bus Damri memang adanya di Stasiun Gambir. Bus Damri ini yang nantinya mengantarkan saya ke Bandara Soekarno Hatta.

Tepat adzan subuh saya sampai di Bandara Soekarno Hatta terminal 1A. Sambil menunggu jadwal penerbangan, saya habiskan waktu dengan sholat, membersihkan diri, sarapan seadanya, dan duduk leyeh-leyeh sambil membaca buku Antalogi Rasa-nya Ika Natassa.

Penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara International Lombok berjalan dengan lancar. Walau aku terlihat clingak-clinguk karena ini penerbangan pertamaku, secara keseluruhan baik-baik saja. Travelling di Jawa sendirian sih sudah sering. Tapi keluar Jawa, ini baru pertama saya lakukan. Cukup membuat jantung mengembang sedikit lebih besar, untungnya tidak sampai meledak.

Hari pertama

Karena saya menginap di daerah Mataram, saya naik Bus Damri dari bandara cukup dengan 25 ribu rupiah saja. Turun di Terminal Mandalika lanjut naik ojek ke Golden Palace Hotel. Iya, saya yang cupu ini menginap di hotel bintang empat. Sampai kamar sujud syukur, guling-guling kegirangan. Untung saya tidak cupu banget. Masih tahu bagaimana cara buka pintu, nyalain lampu, manasin air, dan fasilitas lainnya.

Hotel tempat saya menginap.
Hotel tempat saya menginap.

Kelegaan itu hanya berlangsung beberapa menit. Saya ingat belum dapat kendaraan untuk menemani saya keliling Lombok. Saya memilih menyewa motor karena jalannya sendirian biar lebih irit. Selama di Lombok saya harus menanggung biaya sendiri karena yang gratis hanya tiket pesawat dan penginapan saja. Tapi ini sudah lebih dari cukup untuk saya yang pada awalnya menjadikan Lombok hanyalah gelembung-gelembung doa.

Banyak pilihan penyewaan motor, hubungi satu-satu yang dekat di Mataram sudah full booking. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada penyewaan motornya Mas Kia. Saya dijemput di hotel dan ke tempat sewa motornya Mas Kia di Senggigi. Awalnya mau sekalian jalan menikmati sore di Pantai Senggigi atau sekitarnya. Eh, malahan hujan deras.

Karena dari pagi cuma makan roti dan cemilan, saya mencari makan di sekitar Mataram. Dapat rekomendasi makan dari Mas Kia, ayam taliwang yang lumayan dekat dengan hotel. Sekalian satu arah jalan pulang saya pun akhirnya menemukan rumah makan yang dimaksud.

Ayam taliwang ini adalah makanan khas Lombok. Sama seperti gudeg di Jogja, lumpia di Semarang, atau ketoprak di Jakarta. Rasanya kurang lengkap kalau ke Lombok belum makan ayam taliwang. Dari tampilannya sama seperti ayam bakar, tapi rasanya berbeda. Ada rasa pedas dan gurih dari rempah-rempah.

Disajikan dengan sambal, lalapan, dan nasi hangat cukup membuat perut saya kekenyangan. Apalagi porsi ayam taliwang ini seharusnya untuk dua orang. Kalau sambal ayam bakar biasanya sambal terasi. Ayam taliwang ini berbeda, sambalnya ada dua, yang pedas dan yang tidak pedas.

Selesai bersantap, niatnya mau cari oleh-oleh sekalian muter-muter Mataram. Tapi hujan masih rintik-rintik dan hari mulai petang. Saya pun kembali ke hotel untuk istirahat. Meluruskan badan yang semalam tidur ala ayam di kereta.

Hari Kedua

Travelling sendirian bukan berarti saya hebat dalam segala hal. Banyak yang harus direncanakan supaya meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Sebelum perjalanan harus cari info dulu. Hari kedua ini saya berencana ke daerah Kuta, Lombok Selatan. Menurut info dari internet dan hasil tanya-tanya Mas Kia kemarin sore, daerah Kuta belum aman untuk perempuan apalagi jalan sendirian. Ditambah kalau pulangnya petang, yang laki-laki saja belum tentu aman.

Sebelum sarapan Mas Kia sudah kirim pesan via whatsapp, “Ati-ati di jalan. Jangan pulang sore.” Oke, saya tidak mau gegabah, harus ada teman yang menemani saya jalan. Akhirnya saya mencari teman lewat grup di facebook Lombok Backpacker. Ada yang membalas kalau hari ini mereka juga ada yang ke Kuta.

Selesai sarapan di hotel, saya bergegas ke rumah singgah Lombok Backpacker di Jalan Bangil V No. 6. Rumahnya tidak jauh dari hotel tempat saya menginap. Di sana ada Mamak dan Bapak pemilik rumah dan beberapa teman-teman yang sedang menginap dari berbagai daerah. Untuk menginap di rumah singgah ini tidak dikenakan biaya. Kalau saya tidak dapat hotel gratis, saya pasti akan menginap di rumah singgah ini.

Walau seadanya, rumah singgah ini sudah cukup nyaman untuk kalian yang ke Lombok dengan low budget. Bukan hanya nyaman karena tempatnya, tapi karena orang-orangnya. Mereka sangat ramah kepada siapa saja yang datang bertamu, termasuk saya.

Perjalanan kami mulai dari rumah singgah sekitar jam setengah 9. Dengan enam motor, kami ber-12 pun berangkat. Saya tidak perlu khawatir lagi hari ini jalan ke mana. Dari ber-12 ini ada 10 laki-laki dan dua perempuan. Jadi perjalanan kali ini dipastikan aman dan saya tinggal membonceng menikmati perjalanan.

Tujuan pertama kami ke Air Terjun Benang Sekotel dan Benang Kelambu. Sebelumnya beli bekal sarapan dan air minum karena anak-anak belum sarapan. Jalan raya di Lombok memang mulus tapi agak sedikit rusak saat memasuki jalanan kecil.

Air Terjun Benang Sekotel atau pun Benang Kelambu sama-sama di kaki Gunung Rinjani tapi masih masuk wilayah Lombok Tengah. Hanya butuh sekitar satu jam dari Mataram untuk sampai ke sana. Saat saya sampai sana di parkiran sudah ramai pengunjung. Banyak rombongan study tour yang datang.

Untuk masuk lokasi wisata cukup membayar 3.000 dan 2.000 untuk parkir. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menaiki dan menuruni tangga yang sudah dibuat. Tujuan pertama ke Benang Sekotel dulu. Sekitar sepuluh menit berjalan kami sudah sampai di Benang Sekotel.

img_9420
Air Terjun Benang Sekotel

Benang Sekotel ini adalah dua air terjun yang bersebelahan sama tingginya. Waktu saya ke sana aliran airnya tidak begitu deras karena sedang musim kemarau. Sementara nunggu anak-anak yang baru sarapan, saya sendirian foto-foto di sekitar air terjun. Banyak anak kecil mandi di bawah air terjun. Fasilitas di Benang Sekotel ini tergolong sudah memadai, ada kamar mandi dan gasebo buat duduk-duduk santai.

Setelah anak-anak selesai sarapan, perjalanan dilanjutkan ke Benang Kelambu. Perlu jalan kaki lebih jauh dari pada tadi ke Benang Sekotel. Cukup membuat saya mandi keringat dan napas yang setengah pengap. Jalannya pun belum semuanya dibuat tangga atau pun setapak. Tidak perlu membayar lagi saat masuk Benang Kelambu karena sudah satu paket dengan Benang Sekotel.

Di Benang Kelambu lebih banyak lagi pengunjung yang sudah datang. Saya sampai tidak bingung mencari spot foto yang bagus. Air terjun ini dinamakan Benang Kelambu karena aliran airnya seperti kelambu, melebar di antara pohon-pohon dan kecil-kecil. Tidak seperti air terjun pada umumnya yang memiliki aliran air yang deras pada satu tempat. Udara di Benang Kelambu ini juga sangat sejuk dan dingin.

Kami ber-11 di Benang Kelambu, yang 1 fotoin.
Kami ber-11 di Benang Kelambu, yang 1 fotoin.

Selesai menikmati pesona air terjun, perjalanan kami lanjutkan ke pantai yang ada di Lombok bagian selatan. Sekitar satu setengah jam perjalanan kami sampai di Pantai Mawun. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan perbukitan yang kering dan gersang. Nyaris tidak ada satu pun pohon yang berdaun. Di Lombok bagian selatan ini memang belum hujan, berbeda dengan daerah Lombok yang lainnya. Tapi jalanannya mulus dan sepi, meliuk-liuk di antara bukit-bukit.

Sampai di Pantai Mawun mata ini dimanjakan pemandangan pantai yang pasirnya putih, airnya biru begitu jernih, dan bukit di sisi kiri dan kanannya. Pengunjung di pantai ini tidak begitu ramai, jarang terlihat wisatawan lokal yang datang sebagian besar wisatawan asing. Pantai ini sangat cocok untuk bersantai dengan angin yang sepoi-sepoi sambil minum es kelapa muda.

Enaknya bersantai di Pantai Mawun
Enaknya bersantai di Pantai Mawun

Konon katanya pantai ini dinamakan mawun juga karena artinya tempat berkumpul. Ada satu pohon besar yang sangat rindang, enak buat leyeh-leyeh, di sekitarnya juga banyak tempat duduk. Sudah setengah hari saya jalan dengan 11 orang ini, baru di Pantai Mawun ini kami ngobrol saling mengenal satu sama lain. Mereka ada yang dari Bekasi, Palembang, Surabaya, Tegal, Bantul, dan Makasar.

Saya yang anak baru di antara mereka dicecar banyak sekali pertanyaan. Tapi saya senang mengenal mereka, karena kalau hari ini saya jalan sendiri mungkin akan nyasar atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Selain duduk santai sambil bercerita, saya juga jalan-jalan di bibir pantainya. Dan panas sekali. Seolah-olah sinar matahari memancarkan jarum, menusuk-nusuk setiap sendi kulit saya.

Cukup lama kami berada di Pantai Mawun, sampai sekitar jam 3 sore perjalanan kami lanjutkan ke tempat selanjutnya. Masih di sekitar Lombok bagian selatan, kami melewati Pantai Kuta menuju Tanjung Ann. Sebelum tadi ke Pantai Mawun, sebenarnya kami juga sudah melewati daerah Kuta. Cuma tadi belok kanan ke arah barat dulu untuk ke Pantai Mawun.

Tanjung Ann ini tidak jauh dari Pantai Kuta, sekitar 15 menit ke arah timur sudah sampai. Sama dengan Pantai Mawun, di Tanjung Ann ini pasirnya juga putih dan airnya jernih. Ada beberapa perahu yang bersandar di Tanjung Ann. Perahu itu bisa disewa kalau pengunjung mau ke Batu Layar.

Saya dihampiri tiga anak kecil ketika duduk di tepian pantai. Anak-anak itu menawarkan gelang, souvenir, dan perahu. Teman saya memperingatkan saya untuk menolaknya. Karena kalau kita membelinya satu, nanti anak-anak yang lain akan datang memaksa agar dagangannya dibeli juga. Saya kasihan pada anak-anak itu, bekal roti sobek yang ada di tas saya berikan ke mereka satu-satu.

img_9573
Gelang-gelang anak Tanjung Ann.

“Emmm, enak banget, Kak. Makasih, ya,” ucap salah satu di antara mereka dengan senangnya. “Aku belum pernah makan roti seenak ini,” sahut anak yang satunya lagi.

Hati saya meleleh selembek coklat yang ada di dalam roti sobek itu. “Maafkan Kakak tidak membeli gelang kalian, ya. Semoga kalian mendapat rejeki dari orang lain,” ucap saya dalam hati.

Kami pun akhirnya mengobrol, bercerita, bermain, dan tertawa bersama. Mereka mengajari saya beberapa bahasa Sasak yang sekarang sudah tidak saya ingat lagi. Maklum, belajarnya cuma sebentar saja. Kami pun mengadakan lomba lari, siapa yang kalah harus menggendong yang menang. Ya, saya mengalah saja. Masa mereka harus menggendong saya.

Tanjung Ann
Tanjung Ann

Hari makin sore tapi masih enggan untuk pulang. Kami berjalan ke atas bukit di sebelah barat Tanjung Ann. Bukit Merese, namanya. Di bukit ini hanya ada satu pohon yang tumbuh. Waktu saya ke sana pohonnya hanya berupa ranting dan batang saja, tidak ada satu pun daun yang tumbuh.

Hanya beberapa menit kami di puncak bukit, senja mulai datang. Sungguh ini senja terbaik yang pernah saya lihat. Pelupuk mata saya sampai basah saking terharunya. Senja yang hangat walau hanya sesaat. Saya sampai nyaris lupa tidak mengabadikannya. Rasanya ingin menghentikan waktu, tidak ingin beranjak dari situ. Senja yang syahdu membuat saya rindu ingin ke sana lagi.

Satu-satunya pohon di Bukit Merese
Satu-satunya pohon di Bukit Merese

Kami bergegas pulang ketika hari mulai petang. Sepanjang jalan sangat-sangat-sangat sepi, lebih sepi dari tadi siang. Seolah-olah semua orang sudah terlelap begitu hari mulai gelap. Mungkin ini sebabnya juga mengapa di Lombok bagian selatan ini rawan tindak kejahatan. Untungnya kami ramai-ramai.

Akhirnya kami sampai Mataram dengan selamat dan perut keroncongan. Perjalanan saya hari ini ditutup dengan makan ayam taliwang (lagi). Tapi kali ini ditambah plencing kangkung. Kalau di Jawa plencing kangkung ini semacam sayur urab, sayuran direbus dengan bumbu ampas kelapa. Rasanya juga sebelas dua belas.

Hari Ketiga

Badan saya terasa pegal di pagi ini. Tapi hati masih semangat untuk jalan lagi. Hari ini sebelum check out harus beli oleh-oleh pesanan dari teman. Selesai sarapan saya ke daerah Pasar Cakranegara yang sangat dekat dengan hotel tempat saya menginap. Di pasar ini oleh-oleh dijual sangat murah, saya sampai bingung mau beli yang mana. Ya, namanya juga perempuan, mahal bingung murah juga tetap bingung.

Setelah semua urusan selesai, saya membawa semua barang bawaan menuju Senggigi sekalian check out. Hari ini saya jalan sendirian karena niatnya nanti sore saya langsung balik ke bandara, tidak ke Mataram lagi. Kalau mengajak teman yang kemarin, nanti teman yang memboncengku bingung balik ke mataramnya bagaimana. Tas isi pakaian saya titipkan di tempat Mas Kia jadi tidak perlu menenteng tas yang berat.

Dari Senggigi perjalanan saya lanjutkan ke Gili Trawangan. Sepanjang perjalanan ramai orang-orang sedang pawai membawa bendera. Sedang ada kampanye atau apa saya juga tidak tahu. Butuh waktu sekitar setengah jam saya sampai di Pelabuhan Bangsal. Memarkir motor dan memesan tiket kapal di sebelah kanan pelabuhan.

Pelabuhan Bangsal
Pelabuhan Bangsal
img_20160527_212603
Kapal yang mengantarkan saya ke Gili Trawangan.

Ada dua macam tiket, fast boat dan public boat. Saya memilih public boat saja yang murah walau harus menunggu sampai kuota penumpang terpenuhi baru kapalnya berangkat. Sambil menunggu saya jalan-jalan di sekitar pelabuhan. Selama tiga hari di Lombok, baru sekali ini saya melihat pantai berpasir hitam hanya di Pelabuhan Bangsal ini.

Menunggu sekitar 15 menit, akhirnya kapal saya jalan juga. Awal perjalanan biasa saja, setelah sampai di tengah laut ombak besar bertubi-tubi menghantam kapal kami. Baju sampai basah terkena air laut yang masuk ke kapal. Untungnya kapal menepi di Gili Trawangan dengan selamat.

Salah satu dermaga di Gili Trawangan
Salah satu dermaga di Gili Trawangan

Sampai di Gili Trawangan, saya duduk mengatur napas sambil menyemil kudapan yang saya bawa. Di Gili Trawangan ini ramai sekali pengunjung yang datang. Cafe, tempat nongkrong, hotel, toko, dan berbagai macam fasilitas ada di sini. Tidak ada kendaraan bermotor di Gili Trawangan ini. Kalau mau keliling pulau pengunjung bisa menyewa sepeda atau naik cidomo, semacam delman.

Cidomo di Gili Trawangan.
Cidomo di Gili Trawangan.

Saya sudah niatkan hari ini khusus untuk motret jadi saya tidak menyewa kendaraan, cukup dengan jalan kaki. Menikmati setiap sudut Gili Trawangan yang bisa saya jangkau, mengamati pengunjung lain dan memfotonya. Mau apalah itu namanya, pokoknya saya kangen motret yang model begini dan hanya ingin berjalan lambat. Kalau perempuan pada umumnya memilih belanja atau ke salon, ini salah satu me time versi saya, motret dan jalan sendirian. Saya akui foto saya belum keren tapi hati ini rasanya puas kalau selesai motret.

Gili Trawangan
Gili Trawangan

Selesai me time, saya memesan tiket public boat lagi untuk pulang ke Pelabuhan Bangsal. Sama seperti waktu berangkat, pulangnya pun ombak makin besar. Saya memutuskan untuk tidur sepanjang perjalanan supaya makan siang saya tidak keluar. Benar saja setelah turun dari kapal, perut rasanya habis dikocok. Untungnya mulut saya bisa menahan agar tidak keluar.

Hari nampaknya masih siang. Sebelum ke Senggigi, saya mampir ke Bukit Malimbu. Saya mengeluarkan kamera lagi, seorang tukang parkir menghampiri saya dan bilang, “Di ujung sana pemandangannya bagus, Mba.” Baiklah, saya menurut kata-katanya.

img_9702
Angin menerpa pohon di Bukit Malimbu.

Belum sampai di ujung bukit, badan saya terhuyung-huyung mau roboh. Sekuat tenaga saya menjaga keseimbangan. Semakin ujung, angin semakin kencang menerpa tubuh saya. Hembusannya bising sekali di telinga. Kalau saya teruskan sampai ujung, tidak ada seorang pun yang tahu saya terbawa hembusan angin.

Tidak mau ambil resiko, saya berbalik arah lebih baik duduk-duduk saja di tepian bukit. Seorang bapak menghampiri saya dengan membawa kopi yang wanginya sungguh khas. Menawari saya secangkir kopi dan memulai obrolan basa-basi. Ternyata bapak itu asli Kebumen tapi sudah lama tinggal di Kalimantan Timur, obrolan kami pun berlanjut dengan bahasa Ngapak.

Kami bercerita tentang banyak hal. Bapak dan rombongan adalah pramuka yang baru saja mengikuti perkemahan yang diikuti pramuka dari seluruh Indonesia. Pantas saja tadi di Gili Trawangan saya melihat beberapa orang memakai seragam pramuka sedang mengumpulkan sampah. Tidak terasa kopi sudah habis dan hari pun sudah sore.

Warung kopi di Bukit Malimbu.
Warung kopi di Bukit Malimbu.

Saya balik ke Senggigi, ke tempat Mas Kia mengambil tas dan mengembalikan motor. Keliling Lombok tiga hari ini cukup murah naik motor. Sewa motor per hari cuma 70.000 rupiah, bensinnya total saya mengisi 60.000 rupiah.

Dari tempat Mas Kia, saya diantar ke agen Bus Damri di Senggigi. Dan telat! Ya, saya sampai sana tepat jam 5 sore sudah tidak ada bus lagi. Akhirnya saya naik taksi ke bandara dengan ongkos 196.500 atau lebih tepatnya 200.000. Ya, dari pada tidak bisa pulang.

Jam 8 pesawat yang mengantarkan saya ke Jakarta terbang. Perjalanan 3D2N saya sendirian di Lombok selesai. Tapi kenangan tentang itu semua sampai sekarang belum selesai juga. Kenangan itu selalu menarik saya, membuatnya ingin ke sana lagi.

Sebenarnya ke mana pun tempatnya, travelling itu bikin ketagihan. Apalagi kalau jalannya sendirian, sensasi di setiap langkahnya begitu berbeda dengan jalan bersama teman. Kalau kalian ingin travelling sendirian harus sabar menghadapi pertanyaan, “Mba, kok jalannya sendirian? Temannya mana? Pacarnya mana?” Karena sepanjang perjalanan, semua orang yang saya temui selalu tanya itu.

Selain itu, jalan sendirian persiapannya harus matang. Karena semua yang terjadi di jalan, harus ditanggung sendirian. Terlebih mental harus kuat. Duit banyak kalau tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan dan mengatasi masalah yang terjadi, ya percuma. Duit memang segalanya tapi tidak segalanya butuh duit.

Dan ingat, tetap terus berdoa. Semoga perjalanannya baik-baik saja dan bisa jalan lagi, lagi, dan lagi.

Leave a Reply