Sunyi Di Curug Sinini, Purbalingga

Perhentian kami kali ini persis di depan Gedung Balai Desa Pagerandong Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.

Setelah sekian lama tidak NDAYENG bersama, kini saya dan Wedwi punya kesempatan lagi untuk mengunjungi curug yang sudah menjadi kebiasaan kami saat kebetulan bisa pergi bersama.

Seorang lelaki paruh baya terlihat santai berdiri di depan halaman balai desa ini. Kesempatan baik ini tidak kami lewatkan begitu saja untuk menanyakan lebih lanjut mengenai keberedaan Curug Sinini yang dari hasil googling menunjukan berada di Desa Pagerandong ini.

“Permisi pak, mau tanya, lokasi Curug Sinini itu dimana ya?”

“Lewat samping balai desa ini, mas, terus ikuti saja jalanan setapak nanti pas mentok di ujung jalan tanya saja pada warga, nah lokasi curugnya persis di belakang rumah warga tadi”

Berbekal informasi tadi, kami mengarahkan motor menuju petunjuk tadi. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan rumah warga di ujung jalan, beberapa saat saja kami sudah berada persis di halaman rumah warga dan memakirkan sepeda motor sekalian. Ini merupakan curug yang sangat mudah ditemukan karena persis di belakang rumah warga, dari kejauhan saja sudah terdengar  aliran deras sungai dan curug. Cuaca siang itu tidak terlalu terik dengan jalanan tanah yang masih terlihat basah, sepertinya sisa hujan semalam.

Rumah-rumah warga nampak seperti biasa saja namun yang membuat istimewa adalah pekarangan rumah mereka yang dihiasi aneka bunga-bunga berwarna cantik. Anggrek putih, tanaman bunga merambat terlihat cantik dengan pagar bambu sebagai pembatas jalan dengan halaman rumah mereka. Pada beberapa bagian terdapat kolam ikan dengan berbagai macam ikan mas aneka warna . Semua terlihat jelas dan jernih karena aliran airnya lancar dari pipa-pipa yang disalurkan dari sumber air persis di belakang rumah.

Sebentar saja melewati rumah warga, kini kami sudah bisa melihat dengan jelas saluran air milik warga yang terlihat sangat rapi dengan aliran air yang sangat deras serta begitu jernih. Rimbunan tanaman bambu membuat lokasi ini begitu teduh, lembab dan sejuk. Jalanan berikutnya berupa undakan tak beraturan dan juga menurun dengan kondisi basah karena dari beberapa celah bebatuan tadi terlihat mengeluarkan tetesan air.

Dari balik rimbunnya dedaunan dan batang bambu, kini kami sudah bisa melihat dengan jelas sosok Curug Sinini yang tidak terlalu tinggi namun alirannya begitu deras dengan air yang lagi-lagi begitu jernih. Lokasi curug sinini dikelilingi oleh rimbunnya tanaman bambu yang terlihat hijau dengan semilir angin lembut saat angin berhembus.

Dari kejauhan terlihat bocah-bocah sekitar yang kebetulan memasuki musim libur sekolah dan sedang bermain air dengan riangnya. Pada bagian lain terlihat bapak-bapak yang sedang mengumpulkan pasir dari pinggiran sungai. Saya bisa merasakan kedamaian di tempat ini. Sudut-sudut tertentu di sekitar sungai dijadikan sebagai tandon air untuk menampung air bersih dengan cara disalurkan dengan pipa-pipa. Sebuah pohon besar dan tinggi serta rindang seakan menjaga lokasi curug ini dan berdiri persis di sebelah curug sinini ini. Pohon ini seakan menonjol sendiri karena hampir kesemuanya merupakan rimbunan tanaman bambu.

Setelah melepas jaket dan berganti celana pendek, saya mencoba merasakan kesegaran air dari curug sinini ini. Niat awal ingin berendam di kolam yang tidak terlalu dalam serta jernih ini tapi apa mau dikata, hawa dingin mengalahkan segalanya, terpaksa jaket saya pakai lagi dan meneruskan berfoto-foto dengan keindahan curug sinini.

Dari kejauhan terlihat dua orang pemuda yang juga hendak menuju ke sini. Setelah makin dekat, saya coba menyapa mereka dan berkenalan. Mereka berdua adalah pemuda dari Kabupaten Pemalang dan sengaja datang ke sini (Kabupaten Purbalingga) untuk mengunjungi curug ini. Mereka berdua adalah Alif dan Helmi, salah seorang dari mereka memakai jaket almamater Universitas Diponegoro. Dari perbincangan dengan mereka, kami jadi tau kalau Banjarnegara akhir-akhir ini dikenal dengan curugnya yang beragam dan juga indah. Mereka pun heran, kok kami malah datang ke sini? Kami pun menjawab kalau hampir semua curug yang ada di Banjarnegara sudah kami datangi.

Mereka pun penasaran dengan keberadaan tiga curug yang begitu kontras di daerah Giritirta-Pejawaran dan saya pun pernah menulis tentang curug tadi. Curug di Giritirta terdiri dari tiga dan salah satunya berupa curug dengan mata air panas dan inilah yang membuat orang-orang tertarik serta penasaran.

Setelah kami memperkenalkan potensi wisata di daerah kami, mereka pun menyarankan kami untuk berkunjung ke daerah Petungkriyono-Pekalongan. Walaupun lumayan jauh, sebenarnya ke Pekalongan bisa diakses melalui Dieng namun jalurnya masih sulit untuk diakses.

Karena perkenelan inilah, kami memutuskan pergi bersama untuk mengunjungi curug selanjutnya yang lokasinya tidak jauh dari sini. Kami sepakat untuk bertemu di balai desa Pagerandong dan kami duluan yang beranjak pergi untuk menunggu di lokasi yang sudah disepakati.

Hampir lima belas menit sudah berlalu dan keberadaan mereka belum juga terlihat. Minusnya kami belum bertukar nomor agar bisa saling menghubungi, jadilah kami memutuskan untuk berangkat saja terlebih dahulu dan berharap bisa bertemu kembali di lokasi curug berikutnya, namun sayang hingga kami pulang kami tidak bertemu dengan mereka lagi.

Siang itu kami pergi meninggalkan desa Pagerandong untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Di depan kami masih terlihat Gunung Slamet yang jaraknya lumayan dekat. Perjalanan kami pun ditemani sosok sang gunung tadi di sepanjang jalan yang kami lewati.

blogger paruh waktu dari Kota Dawet Ayu Banjarnegara

Leave a Reply