Surakarta Kota Kelahiranku

Aku, terlahir di kota Surakarta. Kota asal ayah dan ibu.

Sudah cukup lama aku tak kembali kesana. Semenjak kakek dan nenek meninggal Surakarta sudah tak seindah dulu. Aku seperti kehilangan jalan pulang. Tapi meskipun kakek dan nenek telah tiada, Surakarta telah digariskan menjadi kampung asalku.

Aku masih memiliki kakek dan nenek dari ayahku. Tapi justru hal itu membuat hatiku semakin sakit untuk kembali ke kota itu. Semenjak nenek terserang Stroke beberapa tahun silam, aku merasa tak tega. Aku tak tahu harus apa karna bahkan bicara pun nenek tak bisa. Dan kakek, dia selalu setia mendampingi nenek. Selalu duduk manis disamping tempat tidur nenek tanpa sedikitpun pergi meninggalkannya. Menyisir rambut nenek ketika rambutnya terlihat kusut, menenangkan nenek ketika ia mulai menangis meronta. Aku, selalu menangis jika melihatnya.

Tahun ini, entah mengapa aku tiba-tiba #ingetkampung. Meskipun Surakarta tak seindah dulu ketika ada orang-orang tercinta didalamnya, tapi Surakarta tetaplah kampungku. Aku selalu punya jalan pulang kesana.

Berawal dari #ingetkampung itulah aku memutuskan untuk ikut mudik bersama ayah dan ibu. Kami sekeluarga berangkat ketika gema takbir mulai berkumandang. Jalanan lengang karena para pemudik rata-rata sudah sampai di kota tujuannya masing-masing.

Sesampainya di kota Surakarta, banyak memori yang mulai kembali satu per satu. Segala sesuatu tentang kota Surakarta. Dan aku mulai menikmati setiap napak tilasnya.

Pasar Gede Hardjonegoro, fragmen sejarah kota Solo

Hari pertama ku isi dengan menemani ibu berbelanja ke pasar yang menjadi saksi sejarah kota Surakarta. Pasar ini terletak di jalan Jendral Sudirman menuju jalan Urip Sumoharjo.

Bunderan Pasar Gede Hardjonegoro

Pasar ini dirancang oleh arsitektur Belanda bernama Thomas Karsten, Pasar Gede mulai dibangun tahun 1927 dan selesai pada tahun 1930. Pasar ini menjadi pasar tertua di kota Surakarta. Tahun ini pasar ini berusia 87 tahun.

Kondisi di dalam Pasar Gede

Masuk ke dalamnya, pasar ini terasa sangat nyaman. Bersih dan sangat teratur. Setiap penjual ditempatkan sesuai dengan jenis barang yang dijajakan.

Jajanan tradisional kota Surakarta

Sesampainya didalam, aku langsung tertuju pada aneka cemal-cemil jajanan tradisional khas Surakarta, lenjongan namanya. Lenjongan ini terdiri dari beberapa macam makanan, misalnya tiwul, ketan hitam, ketan putih, gethuk, sawut, cenil dan klepon. Dan yang pasti, semuanya enak dan murah meriah! kalau jalan-jalan ke Surakarta gak perlu takut untuk memasuki warung-warungnya, karena harganya dijamin murah!

Aneka Jamu tradisional

Di Surakarta, masih banyak pedagang rempah dan jamu-jamuan komplit. Masih banyak orang yang rajin minum jamu, berbeda dengan orang yang tinggal di kota metropolitan yang lebih memilih aneka vitamin untuk menjaga kestabilan tubuhnya. Dan ibuku, sudah pasti mampir untuk membeli paket wedang uwuh kesukaan ayah.

Timlo Solo

Sepulangnya dari pasar Gede, kami mampir ke salah satu warung makan favoritku sejak aku kecil. Disana ada timlo yang rasanya enak sekali. Timlo Solo sebenarnya mirip sekali dengan sop, hanya saja ada rasa rempah yang membuatnya terasa berbeda. Timlo Solo ini memakai jahe di dalamnya. Isiannya pun berbeda dengan Sop. Karna isiannya ada kembang tahu, telur dan ayam. Ah nikmatnya!

Taman Bermain Sriwedari

Diperjalanan pulang saya melewati Taman Sriwedari. Sewaktu kecil, aku dan adik sering diajak kesana oleh ayah dan ibu, namun seiring perjalanan waktu alias semakin tua usia, membuat kami tak bisa lagi berkunjung kesana. Mungkin bisa saja kalau kami hanya menonton ketoprak.

Pada akhirnya saya akui, jika Surakarta tetap indah seperti sediakala tergantung darimana sudut padangnya saja. Surakarta tetaplah sama, hanya orang-orang tercintaku saja yang satu persatu meninggalkan dunia ini seiring dengan usianya yang semakin senja.

 

Leave a Reply