TALAGA DENUH JEJAK SEJARAH YANG TERPUTUS

Post

danau denuh img

Situ Denuh dalam Gambaran Wilayah Kabupaten Tasikmalaya

Nama Situ (Danau) Denuh yang berada di Selatan Kabupaten Tasikmalaya mungkin masih sangat asing terdengar di telinga, tidak seperti Situ Cibeureum dan Situ Gede yang mungkin sudah akrab dan identik dengan objek tujuan wisata di Tasikmalaya. Situ Denuh merupakan danau sebuah cekungan yang cukup luas yang berada di puncak jejeran perbukitan di Selatan Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya berbatasan dengan Kecamatan Cipatujah.

Perihal terbentuknya Situ Denuh ini masih belum diketahui secara pasti, apakah terbentuk secara alami akibat letusan gunungapi, jumlah mata air yang ada, berapa sungai yang menjadi sumber aliran masuk atau sungai yang alirannya berasal dari danau ini dan sebagainya. Tidak diketahui juga tanggal pembuatan, tujuan pembuatan, hingga dokumen lainnya yang menyebutkan bahwa Situ Denuh merupakan sebuah danau buatan.

Situ Denuh secara administrasi berada di Kampung Daracana, Desa Cikuya, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dengan koordinat 7036’06.8” S 107059’16.2” E dan terletak pada ketinggian 430 maml. Kecamatan Culamega merupakan ksalah satu kecamatan yang berada di Selatan dan berbatasan langsung dengan kecamatan Cipatujah yang sudah merupakan daerah pesisir Selatan Kabupaten Tasikmalaya. Lingkungan di sekitar Situ Denuh berupa areal yang berada di tengah-tengah perbukitan terjal dengan jurang yang cukup dalam. Situ Denuh termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Culamega, tetapi ada juga yang menyebutkan sebagai bagian dari Kecamatan Bojonggambir.

img_20141108_142419

Posisi Situ Denuh berada pada perbatasan antara Kecamatan Bojonggambir dengan Kecamatan Culamega yang dibatasi secara alami oleh aliran Ci Patujah. Letak Situ Denuh yang hanya berjarak kurang lebih 16-20 Km dari pesisir Selatan Tasikmalaya menajdikan udara di sini sedikit lebih hangat dibandingkan dengan udara di Kecamatan Bojonggambir yang masih berupa dataran tinggi dan cukup dingin. Kondsi geografis Situ Denuh berada pada daerah perbatasan dataran tinggi dan pesisir.

Terdapat sungai yang mengalir di kaki bukit disekitar Situ Denuh yaitu Sungai Cisenggong, yang kemudian akan menyatu dengan aliran Sungai Cipalu disekitar Darawati dan akhirnya menjadi satu aliran Sungai Cipatujah yang bermuara di Pantai Cipatujah di pesisir Selatan Kabupaten Tasikmalaya. Penduduk disekitar Daracana lebih sering menyebut aliran Sungai Cisenggong sebagai aliran Sungai Cipatujah.

Hulu Sungai Cisenggong berada disekitar Pasir Karang, salah satu bukit yang mengelilingi Talaga Denuh. Talaga Denuh sendiri dikelilingi oleh perbukitan lainnya, seperti Pasir Gunungputri di sebelah Barat dan Pasir Cikudakeling di sebelah Timur serta areal pesawahan Kampung Daracana dan Sungai Cisenggong di sebelah Selatan.

img_6203

Rute Menuju Situ Denuh

Perjalanan menuju Situ Denuh dari Kota Bandung akan memakan waktu selama 6 jam perjalanan dan dapat ditempuh melalui dua pilihan rute untuk menuju Kota Tasikmalaya. Rute pertama yaitu melalui Malangbong, Ciawi, Kota Tasikmalaya dan rute kedua yaitu melalui Garut, Cilawu, Salawu, dan Singaparna. Berikut uraian pilihan rute menuju Kota Tasikmalaya:

  1. Bandung-Nagreg-Malangbong-Limbangan-Ciawi-Kota Tasikmalaya
  2. Bandung-Nagreg-Cipanas-Garut-Cilawu-Salawu-Singaparna-Kota Tasikmalaya

img_6202

Perjalanan dari Kota Tasikmalaya kemudian dilanjutkan dengan mengambil jalur ke arah Selatan, jalur yang sama dengan yang menuju Kecamatan Cipatujah dengan patokan pertama yaitu pertigaan Desa Darawati. Di pertigaan Darawati, ambil jalur menuju Desa Cikuya hingga patokan kedua, yaitu pertigaan Genteng. Perjalanan menuju Genteng tidak akan terlalu sulit, hanya tinggal mengikuti jalur utama dan sangat jarang ditemukan persimpangan jalan. Setibanya di Genteng, yang merupakan pangkalan ojek, ambil jalan yang berada di sebelah kiri dengan kondisi yang cukup rusak. Ikuti terus jalur tersebut hingga melewati kantor Desa Cikuya.

Tidak jauh dari Kantor Desa Cikuya, tepatnya di depan SD, ambil jalan kecil yang menanjak di sebelah kiri jalan. Ikuti terus jalan yang menanjak hingga tepat di atas bukit. Jalur ini sudah masuk ke dalam wilayah Kampung Daracana. Patokan terakhir yaitu SDN Denuh, lokasi terakhir yang bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Secara keseluruhan, rute menuju Situ Denuh dari Kota Tasikmalaya dapat diuraikan sebagai berikut:

Kota Tasikmalaya – Kawalu – Urug – Sukaraja – Janggala – Singajaya – Cibalong – Parung – Eureunpalay – Cikukulu – Karangnunggal – Bantarkalong – Darawati – Culamega – Cikuya – Nangelasari – Genteng – Bojongsari – Daracana – Situ Denuh

img_6182

Jalan setapak menuju Talaga Denuh berada diseberang SDN Denuh dengan kondisi yang berubah menjadi lumpur apabila musim hujan sampai menemui lapangan sepak bola. Di lapangan sepak bola ini ambil jalan yang berada tepat disebrang jalan setapak tempat kita tiba, karena memang cukup banyak percabangan jalan disekeliling lapangan sepak bola ini. Medan yang ditempuh akan berupa turunan selama kurang lebih 10-15 menit melalui jalan setapak di dalam kebun milik warga yang kemudian akan sedikit menyusur di samping pematang sawah hingga akhirnya turun terus hingga ke pematang sawah tepat di pinggir aliran Sungai Cipatujah.

Tidak ada jembatan untuk menyebrang aliran sungai ini, sehingga kami sempat diperingatkan oleh warga untuk tidak nekat menyebrang bila airnya meluap dan ketika hujan. Ketika hujan seluruh trek yang berupa jalan setapak yang sangat sempit itu akan menajdi sangat licin dan dikhawatirkan tergelincir jatuh langsung ke jurang yang tepat berada di sisi jalan setapak ini. Setelah menyebrang sungai, maka perjalanan dilanjutkan dengan medan jalan setapak yang semakin kecil, tertutup semak belukar dan ranting pepohonan yang akan terus menanjak hngga puncak bukit yang dapat kita lihat sebelumnya pada saat berjalan keluar dari jalan setapak di kebun warga sebelum pematang sawah.

Areal di sekitar Situ Denuh kebanyakan sudah berubah menjadi lahan produksi, terutama untuk tanaman Kapulaga, Picung, Kayu, Bambu, dan areal sawah. Ada tiga jalur jalan setapak menuju Situ Denuh, yang pertama yang melalui SDN Denuh, kedua yang melewati rumah Kuncen menuju ‘Jalur Tengah, serta yang ketiga yaitu yang melalui kaki Bukit Tenjolaut. Jalur yang melalui Bukit Tenjolaut merupakan jalur yang terjauh dan jarang dilewati. Tanaman Kapulaga dan Kayu menjadi komoditas hasil kebun yang utama di Kampung Daracana. Di sepanjang jalur jalan setapak, baik dari SDN Denuh dan jalan tengah kondisinya cukup tertutup oleh batang pohon, ranting pohon, dan dedaunan.

img_6132

Perjalanan dari Kampung Daracana menuju Situ Denuh akan ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam dengan medan yang bervariasi. Pertama-tama, perjalanan akan melalui pematang sawah yang cukup licin, kemudian menyusuri pinggiran bukit menuju aliran Sungai Cipatujah. Tidak ada jembatan untuk menyeberangi Sungai Cipatujah, sehingga untuk menyeberanginya harus berjalan di atas bebatuan. Bila hujan, arusnya akan sangat deras, bahkan jika sungainya meluap, biasanya warga pun tidak berani untuk menyeberang. Jika sungai ini meluap, maka biasanya warga akan menunggu sekitar dua hingga tiga jam atau setidaknya hingga sungainya sedikit surut.

Setelah menyeberangi sungai, medan akan kembali menanjak dan bila musim hujan akan menjadi sedikit licin. Medan berupa tanjakan ini tidak terlalu panjang. Di ujung tanjakan, jalan setapak mulai sedikit melebar kemudian memasuki area kebun Kapulaga, Picung, Bambu, dan lain sebagainya. Begitu memasuki area kebun ini, akan ditemui banyak percabangan jalan, jika kesulitan sebaiknya bertanya pada warga. Selain banyaknya percabangan, kondisi jalan setapak di sini cukup tertutup oleh batang pohon yang tumbang, daun, bahkan buah-buah yang jatuh, sehingga akan cukup sulit untuk mencari jalur menuju Situ Denuh yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi.

Saung kecil tepat di depan area tanam pisang yang dibatasi dengan pagar bambu dapat dijadikan petunjuk, karena jalan setapak yang berada di depan saung tersebut merupakan jalur menuju tepat di samping Situ Denuh. Secara keseluruhan, area di sekeliling Situ Denuh masih cukup banyak ditumbuhi berbagai pepohonan, meskipun sudah merupakan lahan produksi yang dimanfaatkan sebagai sumber mata pencaharian warga sekitar. Untuk mengelilingi Situ Denuh, kita dapat berjalan kaki menyusuri pinggiran danau. Jalur yang biasa digunakan yaitu yang mengarah ke Petilasan Eyang Mudik Purbakawasa di sebelah Barat Situ Denuh.

img_6130

Petilasan ini berada di puncak bukit yang juga merupakan bagian dari jalur tengah menuju Situ Denuh. Belum ada prasarana dan sarana yang layak untuk mengelilingi Situ Denuh, jalan setapak untuk mengelilinginya pun dapat dikatakan tidak layak, bahkan ada beberapa titik yang harus melewati batang-batang bambu yang tumbang tepat di bibir danau. Untuk mengelilingi keseluruhan tepi Situ Denuh masih belum bisa dilakukan karena memang tidak ada jalur untuk jalan setapak yang layak hingga ke sekeliling situ. Jalan yang bisa dilalui hanya sebatas bagian tengah di sisi Barat danau.

Bila menyusuri sisi Barat Situ Denuh, maka perjalanan akan kembali menaiki bukit yang jalurnya hampir semua tertutup daun dan ranting bambu kemudian turun kembali ke arah Situ Denuh. Jalur ini memang hanya satu-satunya jalur unruk menuju bagian tengah Situ Denuh. Selebihnya, jalur untuk mengelilingi Situ Denuh dapat ditempuh dengan menyusuri bagian bibir danau dengan medan yang cukup sulit.

Untuk mencapai sisi Utara Situ Denuh, jalur yang ditempuh berberda dari jalur yang biasa digunakan, yaitu jalur sisi Selatan Situ Denuh. Cara lain untuk mengelilingi Situ Denuh adalah dengan menggunakan rakit. Rakit yang dimaksud di sini adalah yang biasa digunakan oleh warga untuk memancing ikan. Kapasitas rakit ini hanya bisa digunakan oleh dua orang saja dan memang bukan diperuntukan sebagai sarana pelengkap objek wisata.

suasana talaga denuh pic

Sejarah

Situ Denuh di Kampung Daracana tidak lepas dari peranan tokoh-tokoh dalam sejarah kebudayaan di tanah Sunda. Kepercayaan dan cerita turun temurun mengenai Situ Denuh masih sering disebarkan secara lisan oleh orang-orang yang dituakan, atau biasa disebut dengan ‘Kuncen’. Kisah mengenai Situ Denuh yang banyak berkaitan dengan sejarah kerajaan-kerajaan di tanah Sunda, khususnya Priangan Timur ini sayangnya tidak didokumentasikan secara baik, sehingga hanya dapat dikisahkan secara lisan kepada keturunan dan warga-warga yang bermukim di sekitar Situ Denuh.

Kurang tersebarnya informasi (dalam hal ini hanya mengandalkan lisan) mengenai kaitan Situ Denuh dengan sejarah-sejarah di tanah Sunda pada zaman dahulu salah satunya disebabkan karena keberadaan Situ Denuh sendiri yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Menurut penuturan salah satu kuncen di Situ Denuh, Bapak Ta’an,arti kata Denuh dapat diartikan sebagai Denah. Mengenai pembahasan arti Denah yang lebih spesifiknya masih belum dapat dijabarkan karena kurangnya referensi yang ada. Denuh dapat juga diartikan sebagai merenah, sopa santun.

Secara umum mungkin Situ Denuh dapat diartikan sebagai suatu daerah yang nyaman dan masyarakatnya menjunjung sopan santun baik terhadap sesama maupun terhadap sejarah serta kepercayaan yang ada. Denuh dalam artiannya sebagai Denah sering dikaitkan dengan bentuk Situ Denuh yang jika dilihat dari atas (pada peta) akan tampak seperti telapak kaki, selain itu juga, denga di sini bisa dikaitkan dengan pembagian-pembagian wilayah kepemilikan tokoh-tokoh yang memiliki peranan dalam sejarah di tanah Sunda.

img_6018

Berdasarkan penuturan singkat dari kuncen, daerah di sekitar Situ Denuh erat kaitannya dengan Kerajaan Galuh, salah satu kerajaan besar dan tua di tanah Sunda. Salah satu tokoh yang mendiami daerah di sekitar Situ Denuh yaitu Rahiyang Kidul/Eyang Jantaka yang memiliki gelar Batarahiang Karangnunggal (Batara Karang). Eyang Jantaka merupakan salah satu putera dari Raja Galuh yaitu Wretikandayun. Eyang Mudik Batara Karang diyakini sebagai tokoh pertama yang mendiami daerah di sekitar Situ Denuh, yaitu Sembah Lodong.

Petilasannya berada di tempat yang disebut Cikudakeling, nama yang sama dengan salah satu Situs Purbakala yang bernama Situs Cikudakeling yang berada di Barat Situ Denuh. Menurut penuturan Bapak Ta’an, selaku kuncen di Situ Denuh, Eyang Mudik Batara Karang mendirikan kerajaan di Sembah Lodong karena menurutnya daerah di skeitar Kerajaan Galuh sudah terlalu Bincarung (ramai, padat, sumpek) dan daerah di sekitar Situ Denuh masih sangat sepi. Selain Situs Cikudakeling, ada juga peninggalan berupa pedang yang digunakan oleh Eyang Batara Karang yang saat ini tersimpan di Museum Alit di Sukaraja, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Tasikmalaya.

Dalam salah satu sumber, nama Eyang Mudik Batara Karang pun dikenal sebagai sososk yang berkaitan erat dengan Kampung Naga dan Sembah Eyang Singaparna. Eyang Singaparna sendiri merupakan salah satu abdi dari Sunan Gunung Jati yang ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam hingga tiba di Sukapura (Tasikmalaya). Dalam beberapa sumber sejarah, Eyang Singaparna ini merupakan salah satu pendiri Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Eyang Mudik Batara Karang sendiri merupakan salah satu dari enam saudara Eyang Singaparna dengan nama asli Ratu Ineng Kudratullah.

img_6014

Eyang Mudik Batara Karang dimakamkan di Karangnunggal dan memiliki kesaktian menguasai ilmu kekuatan fisik “Kabedasan”. Dengan adanya dua sosok Eyang Mudik Batara Karang (putera dari Raja Galuh dan saudara Eyang Singaparna) dan tidak adanya bukti sejarah mengenai Situ Denuh, maka kejelasan sejarah di sekitar Situ Denuh menjadi semakin kabur.

Daerah di sekitar Situ Denuh pun konon dijaga oleh Eyang Purbakawasa, salah satu karuhun yang mendiami Situ Denuh. Petilasan Eyang Purbakawasa ini dapat ditemui di puncak bukit yang berada di sisi Timur Situ Denuh. Tidak diketahui lebih jauh mengenai Eyang Purbakawasa. Masyarakat di sekitar Situ Denuh menganggap Eyang Purbakawasa sebagai karuhun (leluhur) mereka yang menjaga Situ Denuh sementara Eyang Mudik Batara Karang mendirikan kerajaan tidak jauh dari Situ Denuh, di daerah bernama Sembah Lodong.

Keterbatasan informasi ini disebabkan oleh tidak adanya dokumentasi sehingga sejarah mengenai asal usul Situ Denuh dan tokoh-tokoh yang berhubungan dengannya pun sangat terbatas. Selain di Sembah Lodong dan Situ Denuh, Kampung Daracana pun konon dijaga oleh Eyang Tugu yang memiliki nama asli H. Muhammad Ibrahim yang berasal dari Jawa. Dilihat dari namanya, pada masa Eyang Tugu sudah memasuki zaman penyebaran agama Islam, sehingga ada rentang waktu antara masa Eyang Mudik Batara Karang, Eyang Purbakawasa dan Eyang Tugu.

persawahan sekitar talaga denuh img

Kepercayaan, cerita, serta sejarah mengenai segala sesuatu yang behubungan dengan Situ Denuh masih dipegang oleh masyarakat di sekitar Kampung Daracana. Hal ini ditandai dengan masih dipercayanya penjagaan Situ Denuh kepada seorang Kuncen. Kuncen Situ Denuh saat ini sudah berusia lanjut dan fisiknya sudah tidak sekuat dahulu, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan Situ Denuh diserahkan kepada menantunya. Kuncen di Kampung Daracana ini diturunkan berdasarkan garis keturunan. Selain itu, ada juga Bapa Ta’an (70 tahun) yang masih merupakan keturunan ke-10 dari masa Eyang Mudik Batara Karang.

Meskipun sejarah mengenai situs-situs purbakala di sekitar Situ Denuh masih dipegang erat dan diceritakan secara lisan oleh kuncen-kuncen di Situ Denuh, tetapi asal mula pembentukan Situ Denuh sendiri masih belum dapat dijelaskan, baik secara keilmuan maupun secara sejarah dan mitos. Tidak dituturkan hubungan datangnya Eyang Mudik Batara Karang dengan terbentuknya Situ Denuh. Hingga saat ini, anggapan yang ada adalah Situ Denuh sudah ada ketika Eyang Mudik Batara Karang pertama kali mendirikan kerajaan di Sembah Lodong hingga wafatnya.

Eyang Purbakawasa yang memiliki petilasan di atas bukit pun, semasa hidupnya, Situ Denuh sudah terbentuk, bahkan dijaga oleh Eyang Purbakawasa hingga Tilem. (Tilem adalah kondisi di mana seseorang yang berilmu tinggi menghilang kemudian berubah wujud dan muncul kembali di tempat lain dengan wujud yang berbeda).

img_5889

Bila kita mencari informasi mengenai Talaga Denuh di internet, pasti akan muncul juga “Situs Klasik Denuh”, Situs Klasik yang berupa peninggalan sejarah dan arkeologi yang berada tersebar di bukit-bukit yang mengelilingi Talaga Denuh. Situs tersebut terdiri dari 3 buah Situs dari batu, 4 buah situs berupa Goa, beberapa benda cagar budaya, 2 sumur kecil, serta makam keramat. Sayangnya pada kesempatan kali ini, kami tidak berhasil mengunjungi lokasi situs-situs tersebut karena keterbatasan waktu. Adapun situs-situs klasik tersebut adalah

  1. Situs Tugu
  2. Situs Balekambang
  3. Situs Lemah Badong
  4. Situs Goa Binuang
  5. Situs Goa Potong Kujang
  6. Situs Cikuda Keling
  7. Situs Goa Pasir Leungit
  8. 2 buah sumur kecil
  9. Makam Prabu Batara Karang
  10. Situs Pasir Karang
  11. Kikis Kampung
  12. Batu Lumpang 1 (Sang Hyang Lulumpang)
  13. Batu Pangcalikan
  14. Batu Lumpang 2 (Sang Hyang Lulumpang)
  15. Batu Bedil
  16. Padepokan
  17. Artefak koleksi penduduk

Dari sekian banyaknya situs purbakala yang ada di sekitar Situ Denuh, hanya sedikit informasi yang dapat diperoleh, bahkan lokasinya pun masih perlu ditinjau ulang untuk memastikan posisi dan kondisi situs purbakal itu sendiri. Sulitnya akses dan minimnya informasi menjadi salah satu penghambat pengumpulan data dan pengecekan ulang situs-situs yang memiliki potensi nilai sejarah dan budaya di Selatan Kabupaten Tasikmalaya ini.

img_5848

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.