Taman Nasional Sebangau, Sehari Menjadi ‘Jungle Officer’

Taman Nasional Sebangau

Camp Punggualas, hotel ‘berbintang’ di tengah hutan.

 

Tak banyak yang tahu, apa sih, sebetulnya yang dikerjakan para earth warrior? Dalam hal ini, orang-orang atau lembaga yang menjaga hutan yang menjadi habitat satwa liar. Ruang kerja mereka bisa menjadi destinasi ekoturisme  yang menantang.

Itulah yang saya rasakan ketika mengunjungi Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah . Area konservasi seluas 568.700 hektare ini memiliki sejumlah danau alam yang indah, sungai-sungai kecil, desa-desa tradisional, dan kawasan hutan yang ditumbuhi pepohonan lebat yang menjadi habitat bagi spesies orang utan liar.

Perjalanan menuju ke sana lumayan jauh. Empat jam bermobil dari kota Palangka Raya, singgah di desa Baun Bango, Kabupaten Katingan, desa terakhir sebelum sampai ke Taman Nasional. Dilanjutkan dengan jalur sungai berperahu 30 menit melewati Sungai Katingan, singgah lagi semalam di Dusun Jahanjang, tempat Danau Bulat berada.

Sungai Katingan sendiri panjangnya mencapai 650 km, Taman Nasional Sebangau berada di sebelah hulu sungai. Di daerah yang dikelilingi kawasan sungai besar, transportasi air menjadi bagian vital untuk menghubungkan satu desa dengan desa lainnya.

Taman Nasional Sebangau

Panorama Danau Bulat, sungguh menenangkan!

 

Menginap semalam di bale-bale yang terletak tepat di atas danau, keesokannya kami melanjutkan perjalanan dengan perahu kelotok. Memasuki Sungai Punggualas, lebar sungai menyempit. Permukaan air pun warnanya berubah kehitaman. Meski hitam, tapi sebetulnya airnya jernih. Warna hitam berasal dari gambut di dasar tanah. Pohon-pohon kian lebat. Saya melewati tempat konservasi new trees yang diinisiasi WWF. Bibit-bibit pohon yang ditanam di situ baru akan bisa ‘dinikmati’ hasilnya setelah 30 tahun.

Tak lama kemudian, sampailah kami di camp Punggualas yang berfungsi sebagai tempat penelitian dan informasi yang dikelola WWF dan Balai Taman Nasional. Kampung terdekat dari sini adalah Desa Karuing. Di camp ini pula, kami akan tidur. Ada beberapa ruang kamar yang biasa disediakan untuk para peneliti.

 

Taman Nasional Sebangau

Jembatan kayu yang hanya beberapa meter, selebihnya…alam!

 

Saya disambut oleh ular Peat Viper hijau yang bertengger di atas pohon. “Ular itu sudah ada sejak beberapa hari yang lalu ketika saya ke sini. Konon, ular itu mengeluarkan bisa hanya pada bulan purnama,” ujar Labay, salah satu petugas lapangan dari WWF.

Saya dan rombongan lalu diajak masuk ke tengah hutan. Untuk itu, peserta tracking ini pun harus sudah mempersiapkan amunisi: sepatu gunung, kaus kaki selutut, lotion antinyamuk, senter, dan bekal minuman. Lima belas menit pertama, kami masih melewati papan kayu titian. Setelah itu, kami harus melompat ke permukaan tanah.

 

Taman Nasional Sebangau

 

Kekhasan hutan Kalimantan yakni merupakan kawasan hutan rawa gambut. Hampir sebagian besar permukaan tanahnya berupa area basah atau rawa. Perjumpaan pertama kami dengan rawa gambut ini cukup mengejutkan. Rawa yang kami kira hanya berupa becek  seujung mata kaki, ternyata salah besar. Rawa ini bisa tak terduga dalamnya. Beberapa kali teman rombongan terperosok hingga lebih dari 1 meter. Di beberapa bagian kawasan, kedalaman gambut bahkan ada yang 3-12 meter.

Di perjalanan, Labay, guide kami, menunjukkan tutup kabali, yang disebut juga sebagai manggis hutan, yang menjadi makanan utama orang utan. Di antara pepohonan besar, kami juga berpapasan dengan sarang semut, kantung semar, dan sarang rayap. “Sepertinya belum lama tempat ini dilewati beruang madu,” tutur Labay, melihat tebaran kayu dan ranting. Sempat terbersit kecemasan, bagaimana jika binatang buas tiba-tiba menghampiri. Kira-kira, bayangan saya seperti adegan Leonardo DiCaprio di film The Revenant.

Selain orang utan, hutan ini juga ditinggali oleh beruang madu, macan dahan, bekantan, monyet ekor panjang, kukang, tarsius, dan berbagai jenis elang.

‘Misi utama’ trip kami hari itu adalah mengidentifikasi sarang orang utan. Diperkirakan, sejumlah 6000 orang utan hidup di kawasan ini, populasi orang utan terbesar di dunia. Jumlah itu sudah jauh berkurang, mengingat maraknya praktik illegal logging dan perburuan satwa di Kalimantan.

Sarang orang utan berada di pucuk pohon. Mereka mengikat tiga pucuk pohon menjadi satu, lalu dirimbuni dengan daun-daun. “Biasanya, mereka membuat sarang setiap pukul 15.00 sore. Setiap hari mereka selalu berpindah tempat,” jelas Labay.

Hampir setiap hari selalu ada petugas yang ke lapangan. Ada yang bertugas mengamati pohon, menandai kapan sebuah pohon berbuah, dan mengamati gugur daunnya (planologi).   Ada pula yang bertugas mengukur air (hidrologi), meneliti primata, konservasi dengan menanam tanaman baru, dan ada pula yang membina ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, supaya tidak hidup dari menebang kayu lagi. Begitulah kira-kira aktivitas para ‘jungle officer’. Lebih kebayang sekarang.

Masuk ke hutan ternyata bukan pekerjaan yang gampang. Gigitan nyamuk dan serangga hutan tak kenal ampun menyerang, sampai tembus ke dalam baju dan celana. Tak jarang, harus melompati batang-batang pohon, menghindar dari rotan-rotan yang berduri, mewaspadai binatang buas, belum lagi cuaca ekstrem. Bukan seperti piknik senang-senang sama sekali. Belum lagi, berkali-kali harus terperosok ke dalam rawa.  Sungguh, sebuah pekerjaan berat. Padahal, selain rintangan alam, para earth warrior itu juga kadang menghadapi ancaman dari manusia, pihak-pihak yang tak ingin aktivitasnya terusik.

Cerita Lain: Mudik Ke Kenawa

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah berhasil menemukan beberapa sarang di atas pohon yang tinggi, kami mendapat kejutan. Seekor orang utan bertubuh besar berada hanya beberapa meter jaraknya. Aih, senang sekali bisa bersua dengan orang utan liar langsung di habitatnya. Andai alam terus lestari adanya!

Cerita Lain: Menutup Senja Istimewa di Pantai Tanjung Pendam

 

Tip Menuju ke Taman Nasional Sebangau:

  • Dari Jakarta pilih penerbangan menuju ke Palangka Raya. Dari Palangka Raya menuju Desa Baung Bango, ditempuh selama 4 jam.
  • Transportasi menuju ke Taman Nasional Sebangau harus menggunakan transportasi air. Sewa perahu sekitar Rp750.000. Sebaiknya pergi dengan rombongan sehingga bisa sharing biaya.
  • Untuk akomodasi di Desa Jahanjang, Katingan, menginap per malam di guest house Danau Bulat Rp350.000/ malam. Kontak: Sarwepin, 0852-1531-7555.
  • Mengurus perizinan ke manajemen Taman Nasional Sebangau: Jl. Mahir Mahar kilometer 1.5, Palangka Raya, Telepon (0536-3359595). Atau di kantor Kasongan (ibukota Katingan) Telepon (0536-4041353).

 

Freelance writer who love travel

Leave a Reply