Tanoh Alas Keindahan Alam Tak Terlihat

Cerita ini merupakan cerita tempat asliku, kampung halamanku yang akan kuceritakan sedikit tentang detail keindahannya. Kampungku ini bertepat di Desa Gusung Batu Kutacane Kab. Aceh Tenggara Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam. Disini, aku akan menceritakan tidak hanya tentang Desa Gusung Batu semata tetapi, ikut bercampur dengan Kutacane sendiri, yang merupakan Ibukota daerah ini. Aceh Tenggara merupakan kabupaten yang dimayoritasi penghuninya ialah suku alas. Dan aku merupakan salah satu dari mereka, keunikan kabupaten ini dengan kabupaten NAD (Nanggroe Aceh Darusalam) lain yaitu kabupaten ini memiliki suku yang bermerga.

Aku sendiri bermerga munthe yang merupakan salah satu merga alas daerah ini.Tapi ini bukan cerita mengenai asal usul mergaku, melainkan sejuta pesona kampung halamanku. Sekitar 4 jam merupakan waktu tempuh kami ke sini dari daerah perantauan kami kota Berastagi kabupaten Karo Sumatera Utara. Tapi,begitulah setiap memiliki rezeki yang cukup kami selalu menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman ini.Tetapi,untuk tahun ini dan kedepannya mungkin butuh waktu yang lama untuk kami balik lagi dikarnakan suatu halnya. Let’s go kita menceritakan tentang kampungku yang kaya alam nan indah ini. Ketika anda menginjak kaki ke Kutacane pasti anda sudah bisa merasakan sentuhan islami di kota ini. Ini contohnya;

Lafadz asmaul husna (nama nama Allah) sudah berkumandang di sepanjang jalanan kota. Taksalah memang kalau NAD dijuluki negeri serambi mekah, sebab kabupaten yang jauh dari ibukotanya saja mengumandangkan asmaul husna di sepanjang jalannya. Tak jauh kira kira 5 km dari kota tibalah kita di kampung tercintaku. Dengan, menaiki becak mesin sekitar 30 menit sampai kita di Desa Gusung Batu. Sepanjang jalan desa ini kita sudah langsung disambut dengan hamparan padi hijau yang tunduk bak menyambut datangnya raja Alas hehehe...

Tak lama tibalah kami di Desa Gusung Batu yang merupakan kediaman Apek dan Amek (Ayah dan Ibu) dari Ayahku yaitu Saluddin Munthe dan Rubaiyah Sinaga. Kami langsung dikerumuni anak anak kecil yang merupakan anak anak dari kakak dan adik ayahku yang melepaskan rasa rindunya kepada keluarga jauh. Kata mereka “Ngo roh nde kalak Berastagi”(“Udah datang ini orang Berastagi) kata,mereka semua. Kam pun sangat senang dengan sambutan meriah dari mereka. Satu hari sampai di Gusung Batu kami memenuhkan hari itu dengan istirahat sebelum esoknya langsung keliling menikmati hamparan keindahan alam Gusung Batu dan sekitarnya.

Pagi ini kami langsung mandi dan bergegas ganti pakaian untuk bergegas mencicipi keindahan alam yang tak sabar ingin kami cicipi. Sebelum kami ke tujuan pertama kami, kami sarapan untuk mengisi perut kami sebelum melakukan perjalanan panjang hehehhe...

Trip pertama kami ialah sawah kakek yang sudah lama tak kami kunjungi..

This is...

Jalan ke sawah ini termasuk sudah hebat loh. Sebab sudah tidak berbecek dan sudah full berbatu yang memudahkan kita melihat keindahan hamparan sawah. Sawah sawah ini merupakan sawah kakek yang sebelumnya diturunkan secara turun temurun oleh kakek buyutku dan nantinya akan diturunkan ke ayahku baru lah aku.

Lebar toh sawahnya, sebab inilah sawah turun temurun yang sengaja dipersiapkan oleh kakek kakek buyut terdahulu.

Setelah puas menikmati hamparan sawah yang diiringi oleh pohon kelapa. Kami menyiapkan lagi perjalanan ke tempat yang bernama Natam sekitar 40 menit dari Gusung Batu dengan becak mesin kalau untuk ongkosnya sendiri 20 ribu rupiah.

Di Natam kami ingin menyejukkan mata dengan ikan ikan di kolam bik ayang ( bibi yang lahir setelah ayah) jadi bik ayang ini memiiki banyak ikan yang sekaligus diternakkan olehnya. Ini dia..

Kalau ini aku dan kolamnya bukan ikannya hehehe... , dan rumah kayu itulah rumah bik ayang, mau lihat isinya? Cek this..

Itu udah nampak toh ikan ikannya warna oranye, karna disini biasanya ikan yang diternakkan khusus ikan mas.

Itu sebelum dilempar makananan ikan, ini sesudah..

Gemezz kan, aku jugak gemezz dan pengen makan hahaha, ini masih sedikit yang keluar kalau udah banyak yang keluar dari permukaan. Kita langsung pengen nyebur deh tuh ke kolam.

Setelah puas menikmati pemandangan ikan yang gemezz gemezz, trip berikutnya ialah kami berkunjung ke tempat penghidupan suku alas, dan merupakan sungainya suku alas, yaitu sungai alas, sungai ini katanya merupakan sungai yang panjang dan juga akhirnya gak bakal bikin kita cepet pulang.Selain airnya, jernihnya luar biasa jugak arusnya bagus tuh untuk arum jeram.

Nampakkan jernihnya, langsung pengen nyebur kan? hihihihi, saya diluan ya hehehhe..

Itu saya dengan 2 anak bik ayang dan ayah saya di belakang sebelah kiri saya, kalau kamu kesini pokonya kamu bakal tersenyum senyum deh, dan gak pengen pulang kalau udah ngerasai dinginnya air sungai alas ini.

Dan sungai alas lah menjadi trip terakhir kami di kampung halaman, setelah dari sungai alas kami langsung beristirahat dan esoknya langsung sungkeman dengan keluarga sekaligus membagikan THR (Tunjangan Hari Raya) kepada anak anak dari saudara kami. Dan menunggu jemputan mobil BTN yang merupakan mobil Kutacane – Berastagi – Medan. Kalau kamu ke Kutacane masih banyak lagi yang bisa kamu nikmati untuk kunjungan wisata atau pun pulang kampung ke daerah ini ada masjid yang seperti di Brunei,ada Taman Gunung Leuser yang diisi orang utan.

Nih foto foto terakhir sebelum kembali ke rumah atau daerah perantauan..

Ini ibuku Rosmawati Br Sinuhaji,ayahku Sabarudin Munthe, dan aku diujung.

Dan ini...

Miranda Kartika Br Munthe yang merupakan satu satunya saudari ku, dia adalah satu satunya kakakku. Ok jadi sekian cerita dariku Azhari Alaska Munthe dari Berastagi menuju kampung halamanku di Kutacane

#ingetkampung

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.