Tegal Laka – laka

Cuma ada di Tegal!
Nggak bakal bosen kalau bolak – balik ke Tegal, dan beruntungnya aku karena Tegal merupakan kampung halaman, menghidupkan kenangan sekaligus memberikan kesan liburan yang menyenangkan.

Dengan motonya yaitu Tegal Bahari, jadi nggak heran dengan cuaca Tegal yang hangat – hangat mesra di kulit, ibaratnya tuh seperti ketemu mantan yang jalan berdua bareng pacar barunya, panas! Tak perlu khawatir dengan cuaca panasnya, karena bikin bersemangat untuk menjelajahi kota Tegal.

Mudah saja mencari kuliner di Tegal, karena banyak pedagang di pinggir jalan yang setia untuk memuaskan perutmu yang lapar, seperti di Alun – alun Tegal, dalam satu tempat kamu bisa mencicipi berbagai kuliner Tegal, tinggal geser tempat duduk eh udah ke penjaja kuliner yang lain. Salah satu kuliner yang wajib dinikmati saat berada di Tegal adalah Kupat Glabed, atau bisa diartikan kupat (ketupat) yang disirami oleh kuah kuning kental yang gurih, dan ditambah dengan sambal goreng temped an di atasnya ditaburi remahan krupuk kuning dan bawang goreng, biasanya ada “teman sejati” si kupat glabed yaitu sate kerang, hmmm perut rasanya nggak sabar untuk melahap habis. Penjual kupat glabed di sekitaran alun – alun sangat banyak, jadi nggak perlu khawatir kalau kehabisan, rata – rata rasanya sama, sama – sama enak, gurih! Cukup rogoh kocek sekitar 8ribuan untuk menikmati seporsi kupat glabed, kalau sate kerang harganya sekitar seribuan.

kupat glabed
sate ayam dan sate kerang

 

Kalau perutmu masih ada “ruang”, yuk lah langsung capcus ke gang senggol, nggak jauh kok dari alun – alun. Butuh kesabaran untuk menikmati semangkok soto tauco gang senggol. Kalau judulnya soto tauco, pastinya yang jadi istimewa dari soto adalah tauco, di sini tauconya nggak terlalu kecut di lidah, balance antara gurih dan asamnya. Disajikan di dalam mangkok yang berukuran kecil tapi nasinya sampai munjung ke atas dan kuahnya sampah tumpah – tumpah, isian lauknya bisa pilih antara daging, ayam atau babat.

soto tauco

 

Eh ternyata perut sudah nggak muat lagi nih, lanjut aja jalan – jalan kuliner esok hari, karena di Pasar pagi Tegal, ada nenek yang menjajakan dawet beras. Dawet beras yang rasanya sederhana, manisnya dari gula merah, ada sedikit rasa jeruk nipis yang segar, cocok diminum di cuaca yang panas, sementara dawet berasnya memiliki rasa yang plain, tapi kalau semuanya dijadikan satu dalam mangkok, nikmat tiada tara! Harga semangkok dawet beras yaitu 5000 rupiah saja. Oiya, nenek yang jual dawet beras, menjajakan dawetnya di depan pasar, jualan di trotoar.

Dawet beras yang segar
masih sederhana cara jualannya.

Lokasi kulineran di Tegal.

Alun – alun Kota Tegal bisa dibilang surganya kuliner, kalau siang hari tampak biasa saja, tapi kalau malam hari, berubah menjadi kawasan kuliner. Kebanyakan pengunjungnya berasal dari luar kota yang mungkin rindu kampung halaman atau sekedar singgah kemudian melanjutkan perjalanan. Bisa dibayangkan dong, alun – alun yang penuh dengan penjaja kuliner pastinya bikin macet dan kurang cantik untuk penataannya, hanya sebagai wadah berkumpulnya penjaja kuliner dan terkesan jorok (eh tapi kenapa masih setia jajan di pinggir jalan ya :)) ). Sempat mendengar obrolan dari Om yang memang orang Tegal asli, Pemerintah Kota Tegal sudah berusaha untuk merelokasi para PKL, namun ada perlawanan dari PKL dan menganggap pemerintah tidak pro dengan rakyat kecil.

Hmmm.. susah ya kalau menyangkut hidup orang banyak, maklum penjual di sekitaran alun – alun tidak hanya berasal dari Tegal saja, melainkan dari luar kota, seperti Brebes dan Purwokerto. Selain di alun – alun, ada juga beberapa lokasi yang biasanya padat akan penajaja kuliner kurang cantik untuk penataannya. Seperti di Pasar pagi, jangan harap ketemu sayur – mayur, di Pasar pagi malah banyak penjual baju dan aksesoris, padat banget, antara pembeli dan penjual sama – sama banyak, dan di sekitar trotoar banyak pedagang yang berjualan di sana, sangking padatnya, sampai ada ada mobil patroli untuk mengingatkan para pengunjung agar tetap waspada dengan barang bawaan dan jika membawa anak, jangan sampai lengah untuk pengawasan.

Jika kota – kota lain di Indonesia sedang semangat untuk menggalakkan atau mempercantik taman kota, Kota Tegal mungkin masih akan menenmpuh “perjalanan” yang jauh untuk mewujudkan taman kota yang cantik dan asri. Dibutuhkan pendekatan personal agar pedagang mau direlokasi, biasanya pedagang takut jika direlokasi yang bermakna di tempatkan di lokasi yang sepi pengunjung. Tak hanya sekedar relokasi, pemerintah harus membuat pesebaran lokasi kuliner, membuat jadwal festival kuliner dari lokasi satu ke lokasi lainnya agar merata, pengunjung tak hanya berpusat di satu lokasi (hanya di alun – alun saja), dan tentu saja melakukan promosi yang intensif melalui sosial media. Ya, untuk menata Kota Tegal menjadi lebih baik memang tidak bergantung pada pemerintah saja, semoga penjaja kuliner, masyarakat Kota Tegal dan para wisatawan dapat bersinergi.

1 Comment

Leave a Reply