Terdampar di Suwarnadwipa, Pulau Penuh Pesona

“Pulau Suwarnadipa, dimana nih? Thailand?”

Mendengar nama pulau tersebut sebagian orang mungkin bertanya, dimana lokasi pulau ini? Pulau Suwarnadwipa yang artinya pulau emas dalam bahasa sansekerta berlokasi di kawasan kepulauan Mandeh, Sumatra Barat. Pulau cantik ini belum banyak tersentuh tangan manusia, sehingga masih sangat alami. Pesona gugusan kepulauan mandeh di kombinasikan dengan air laut biru serta hutan kecil yang masih sangat rimbun menghasilkan pemandangan yang luar biasa indah. Ketenangan dan keindahan alamnya sangat cocok untuk melepas penat setelah lelah bekerja, sekedar menghabiskan waktu libur ataupun untuk bercumbu rayu bagi para pasangan baru. Saya menuju pulau tersebut dalam rangka honeymoon 😛

 

Menuju pulau suwarnadwipa bukanlah hal yang sulit.

Dari Jakarta kami berangkat menggunakan pesawat langsung menuju bandara International Minangkabau, Padang. Bandara Minangkabau lokasinya cukup jauh dari kota Padang sendiri. Kurang lebih jarak dari bandara ke pusat Kota Padang adalah 24Km. Berbeda dengan Kota Jakarta yang penuh macet, jarak tersebut dapat ditempuh kurang dalam waktu 30 menit saja.

Jarak Bandara ke Pelabuhan Bungus
Jarak Bandara ke Pelabuhan Bungus

Dari Bandara ada beberapa alternatif transportasi yang dapat digunakan untuk menuju kota padang, mulai dari Bus, Taxi bahkan hingga kendaraan pribadi yang akhirnya disulap menjadi taksi gelap.

Untuk menghemat waktu kami menggunakan taxi, memang biaya yang harus dikeluarkan lebih mahal dibanding naik Bus, tapi berhubung kami sedang menikmati manisnya bulan madu, sedikit mahal tidak masalah.

Jika kalian menggunakan Bus damri / bus tranex kalian dapat turun di pusat kota Padang atau kantor Gubernur. Untuk sampai ke pelabuhan yang akan mengantarkan ke pulau Suwarnadwipa dapat ditempuh menggunakan taxi ke arah bungus atau teluk bayur. Kurang lebih jarak 20 KM yang harus di tempuh. Tapi karena dari awal kami sudah mengunakan taxi, maka dapat langsung menuju ke lokasi.

Jangan khawatir, melewati teluk bayur kalian akan melewati jalan berliku yang pemandangannya cukup indah, sebelah kiri adalah tebing, dan sebelah kanan jurang yang langsung menuju lautan lepas. sayangnya saya tidak sempat mengabadikan dengan kamera. Lebar jalan yang tak lebih dari 7 meter dan banyak transformer (red. Truck gandeng) berkeliaran, memberikan sedikit adrenalin sebagai hiburan pembuka. Untungnya driver taxi yang membawa kami ke lokasi cukup handal, sehingga walaupun jalan berkelok-kelok tetap dapat ditempuh dengan cepat dan tidak membuat mual sama sekali.

 

Kurang lebih pukul 10 pagi kami sudah tiba di dermaga bungus disambut dengan rintik-rintik hujan. Dermaga Bungus adalah tempat kami melakukan penyebrangan ke pulau. Jangan bayangkan dermaga bungus seperti pelabuhan-pelabuhan besar lainnya. Dermaga ini merupakan perkampungan nelayan yang disulap menjadi checkpoint sebelum melakukan penyebrangan, sehingga suasana dan bau asin lautan khas kampung nelayan masih tercium dengan sangat pekat.

Tiket ke suwarnadwipa
Tiket ke suwarnadwipa

Cuaca kali itu kurang baik, hujan yang tadinya hanya rintik-rintik seketika berubah menjadi deras. Nelayan yang akan membawa kami mengurungkan niatnya untuk berangkat, sehingga kami harus menunggu dan berharap hujan sedikit reda dan kami bisa melanjutkan berangkat ke pulau.

Waktu sudah menunjukan pukul 12, hujan tetap turun walaupun tidak sederas sebelumnya. Nelayan tersebut menyarankan kami tetap berangkat menggunakan kapal yang besar. Agak sedikit ngeri sih, tapi berhubung sudah jauh-jauh dari jakarta, kami ambil pelampung sebagai pengaman dan langsung menuju ke kapal.

Kapal yang dibilang besar itu ternyata tidak sebesar yang dibayangkan, kapal tersebut merupakan kapal nelayan ukuran reguler dengan sedikit terpal sebagai atap. “Hari ini yang nyebrang ke pulau ya cuma kalian ber empat”, sambil menunjuk pada kami dan dua orang lainnya yang kebetulan bertemu dilokasi, mereka pasangan yang berasal dari jambi, juga sedang berbulan madu.

Benar saja, kapal yang dibilang besar itupun tidak ada apa-apanya di banding lautan luas. Perjalanan dari pelabuhan bungus yang harusnya dapat di tempuh 45 menit dengan kapal, berubah menjadi hampir satu setengah jam. Ditengah lautan cuaca kembali berubah menjadi hujan yang deras. Alhasil kapal kami diombang-ambing di tengah laut dengan ombak yang cukup tinggi. Sedikit was-was, tapi berhubung kami sudah menggunakan pelampung dan kami berdua pun memiliki tingkat ke ekstreeman yang agak tinggi, perjalanan yang mengerikan itu berubah menjadi menyenangkan. Bukannya takut karena ombak yang tinggi, tapi kami menikmatinya sambil tertawa seolah-olah sedang menaiki kora-kora yang ada di Dufan Jakarta.

Mendekati pulau, cuaca tiba-tiba berubah menjadi cerah, ombak yang tadinya menggila pun berubah menjadi tenang, seolah pulau sedang menyambut kedatangan kami. Dari jauh tulisan ‘Suwarnadwipa’ yang menjadi sign resort di pulau tersebut mulai terlihat. Air laut kehijauan yang jernih, Rumah utama ber atap ‘begonjong’ khas Sumatra Barat dan gugusan beberapa pulau kawasan mandeh menyambut kami. Langsung saya mengambil HP dari dalam tas. Ternyata operator merah yang jaringannya terluas se Indonesia pun mengaku kalah, tidak ada sinyal sama sekali ! benar-benar seperti terdampar di pulau antah berantah.

Tebing batu :0
Tebing batu :0

dscf7444

Kami turun dari perahu dengan keadaan basah kuyup akibat hujan di tengah laut tadi, tapi kami tetap antusias sampai di pulau ini. Kenapa? Karena ternyata pengunjung di pulau tersebut hanya ada 4 orang, hanya kami dan pasangan tadi. Sangat pas untuk honeymoon. Sedikit tips bagi kamu yang ingin menikmati pulau ini dengan maksimal, datanglah di hari kerja karena hampir tidak ada pengunjung lain sama sekali, berbeda dengan weekend yang pengunjungnya bisa mencapai 60 orang, kata pengelola pulau.

Sampai di pulau kami langsung melahap santapan ayam kecap yang sudah disiapkan. Udara yang sangat sejuk selepas hujan, musik ala-ala steven & coconut tree, lautan biru yang cerah dan perut yang sangat lapar, makanan yang sudah disiapkan tak sampai 30 menit sudah hilang tak berbekas masuk ke dalam perut.

Selepas makan kami langsung check-in. Tenyata kamar yang sudah kami pesan via tour & travel adalah kamar yang berada di bangunan utama, yang merupakan bangunan pusat aktifitas. Berbeda dengan pasangan satu lagi yang memesan cottage. Tak mau kalah, berbekal sedikit kemampuan lobi-lobi kami pun bisa pindah ke cottage dengan memberikan sejumlah uang tambahan.

Kondisi cottage berbeda dengan kamar kami sebelumnya. Rumah pangung mungil dengan lokasi yang agak sedikit terpencil, jauh dari bangunan utama. Kasur yang empuk dengan kelambu sebagai pelindung dari nyamuk. Teh, kopi, gula dan air panas lengkap menghiasi meja kecil di pojikan. Yang paling penting kami mendapat Kamar mandi pribadi dengan nuansa ‘outdoor’ yang memberikan sedikit sensasi ‘takut di intip’ namun tetap tertata dengan baik sesuai dengan fungsi kamar mandi pada umumnya.

Menikmati kelambu sambil makan cokelat
Menikmati kelambu sambil makan cokelat

Tidak membuang waktu lama untuk check in, segera kami bersiap-siap untuk menjelajah pulau ini. Tujuan utama kami adalah ayunan kayu bertuliskan suwarnadwipa di bagian atasnya yang sedari tadi diombang-ambing oleh ombak. Konon ini adalah point of interest di pulau ini. Dua atau tiga kali jepretan kamera tidak cukup rasanya.

Ayunan Suwarnadwipa
Ayunan Suwarnadwipa

Melihat kondisi area resort yang indah dan tertata rapi dan tidak ada penghuni lainnya, tiba-tiba muncul ide untuk membuat video timelapse untuk menggambarkan kondisi resort tersebut, dan begini hasilnya:

Bermain air, menulis nama pasangan di pasir sambil bercanda, duduk diam menikmati alam dengan atmosfer yang tidak biasa kami lihat di perkotaan. Tak sadar matahari mulai terbenam dan berganti malam. Sayang malam hari itu tidak cukup cerah, seharusnya kami bisa melihat gugusan bintang dengan sangat jelas, karena di lokasi pulau tidak banyak polusi cahaya seperti di perkotaan, paling tidak itu yang dikatakan oleh pengelola pulau. Akhirnya kami hanya menghabiskan malam dengan duduk di bilik kecil yang menjorok di tengah lautan sambil menikmati masa-masa bulan madu yang tentunya sangaaat indah.

seting kamera biar hasilnya oke
seting kamera biar hasilnya oke
Cari sinyal untuk update path :p
Cari sinyal untuk update path :p

Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, kami sudah standby seolah tidak ingin menghabiskan waktu dengan sia-sia di pulau ini. Hari ini adalah jadwal kami untuk snorkling dan menikmati watersport lainnya. Kawasan gugusan kepulauan mandeh ini pun memiliki area untuk snorkling, walaupun tidak seindah bunaken, tapi lebih dari cukup untuk dinikmati. Dari pulau kami menggunakan speedboat menuju spot snorkling. Ber empat termasuk kami dan dua pengemudi, Boat langsung berjalan dengan cepat membelah lautan. Tidak beberapa lama, kami sudah sampai di spot snorkling.

persiapan snorling
persiapan snorling

Belum selesai hitungan satu..dua..tiga, byurr langsung saya terjun ke laut. Di kedalaman air laut kurang lebih 3 meter dari titik karang tertinggi, air cukup jernih dengan ikan-ikan warna warni bergerak tidak jauh dari saya berada. Konon jika sedang beruntung kita bisa melihat ikan paus melintas di titik tersebut. Ia ikan paus. Tak heran karena lokasi spot snorkling berada mengadap langsung samudra hindia yang menjadi perlintasan ikan paus. Walaupun ikan paus hanya makan plankton, agak ngeri-ngeri sedap juga sih membayangkan berenang dengan ikan paus, siapa tau ada ikan paus yang karnivor dan langsung hap ! tapi hari itu tidak ada satupun paus yang melintas.

Bawah lautnya bagus looh
Bawah lautnya bagus looh

Tak lama kami bersnorkling, hanya foto khas underwater, bermain sebentar dengan ikan-ikan. Kami memutuskan untuk tidak bermain banana boat, langsung kembali ke pulau.

Sampai di pulau kami langsung packing untuk persiapan kembali ke kota Padang. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada staff pengelola pulau, pukul dua siang kami kembali menuju pelabuhan bungus. Ia, tak lama, kami hanya berkesempatan menikmati pulau untuk satu malam saja karena kami harus melanjutkan ke lokasi wisata lainnya yang sudah di rencanakan dari jauh hari.

 

Berikut rincian biaya yang kami keluarkan:

  • Tiket pesawat Jakarta-Padang dengan Singa Terbang Rp.500.000
  • Taxi dari Bandara ke Pelabuhan Bungus Rp200.000

(FYI jika menggunakan Bus Damri dan menyambung Taxi hanya Rp125.000)

  • Penginapan di pulau termasuk akomodasi, penyebrangan PP, makan 3x dan watersport Rp.1.700.000
  • Biaya upgrade cottage Rp.500.000

Total biaya yang harus di keluarkan dengan asumsi pulang pergi jakarta-padang-jakarta hanya Rp3.600.000 rasanya bukan biaya yang terlalu mahal jika dibandingkan dengan suguhan pemandangan Indahnya. Lagipula tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk menikmati keindahan negeri orang, ternyata di negeri sendiri pun masih banyak sekali lokasi-lokasi wisata yang jarang terekspose keindahannya.

See yaa suwarnadwipaa
See yaa suwarnadwipaa

Walaupun hanya satu malam di pulau suwarnadwipa, tetapi pulau tersebut memberikan pengalaman yang tidak akan kami lupakan. Alam yang indah dipadukan dengan tidak adanya sinyal seluler membuat kami menjadi seperti manusia pada hakikatnya, manusia yang hanya bercengkrama dengan alam, menikmati lukisan yang maha Indah dari Sang Kuasa.

 

Leave a Reply