Ternyata Dusun Pingit Juga Punya Sumber Air Hangat Alami

Saya percepat langkah kaki saat melintasi perumahan warga di Desa Gumelem Wetan, Kec.Susukan, Kab.Banjarnegara. Siang itu cuaca begitu teriknya. Sudah semingguan ini tidak diguyur hujan sepertinya.

Sepeda motor yang sedari tadi dititipkan di depan halaman rumah warga, kini saya ambil guna melanjutkan perjalanan berikutnya seorang diri. Sebotol air mineral yang tersisa di ransel pun saya raih. Sungguh siang itu rasanya sangat haus dan kering tenggorokan ini.

Setelah sedari pagi tadi mengikuti acara Nyadran Gede bersama penduduk Desa Gumelem, saya merasa belum puas jika langsung pulang ke rumah sementara waktu masih menunjukan pukul dua belas kurang.

Sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya, terlebih dahulu saya mampir ke sebuah Masjid Bersejarah di tengah desa ini. Tercatat sudah dua kali saya menunaikan sholat dzuhur di masjid yang pada bagian belakangnya masih menggunakan tiang-tiang penyangga dari kayu jati yang diukir sedemikian rupa.

Niat saya adalah ingin melihat sebuah sumber mata air panas alami yang jarang ditemukan di bagian selatan kota Banjarnegara ini. Biasanya sumber mata air panas alami bisa ditemui di Dataran tinggi Dieng. Tapi kali ini beda. Mata air panas ini berada di Dusun Pingit, Desa Gumelem. Perjalanan ditempuh dengan mengendarai sepeda motor melewati pinggiran saluran irigasi dan perkampungan penduduk.

Sebenarnya terdapat plang petunjuk arah menuju lokasi sumber mata air panas ini, namun karena jarak yang jauh, sebentar saja saya sudah bertanya beberapa kali kepada penduduk sekitar yang ditemui di sepanjang jalan yang dilewati.

Jalan menuju lokasi ini berupa jalan aspal namun kondisinya sudah rusak parah. Lubang menganga di tengah jalan dan di sepanjang badan jalan, ditambah lagi jalan ini membelah perbukitan curam dan sudah barang tentu menanjak terus.

Sepanjang jalan yang saya lewati, rata-rata berupa tebing tinggi di samping kiri dan jurang yang sangat dalam di sisi kanan, sementara dari kejauhan terlihat barisan perbukitan hijau.

Pada beberapa bagian pinggir jurang terlihat mengalami longsor dan membuat jalan yang dilewati menjadi lumayan sulit. Tak heran jika di beberapa pinggir jalan terdapat papan tanda waspada bahaya longsor, jalur evakuasi serta lokasi titik kumpul jika sewaktu-waktu terjadi bencana longsor.

Butuh waktu berkendara selama kurang lebih lima belas menit hingga sampai di lokasi yang dituju. Mendekati pemukiman warga kembali, aroma nira-nira yang dimasak menjadi gula jawa akan tercium tajam. Memang di desa ini merupakan salah satu sentra produksi gula kelapa atau gula jawa maupun gula aren. Di pinggir jalan dan di teras rumah warga juga bisa ditemui tumpukan gula jawa yang dicetak menggunakan batok kelapa dan sudah terbungkus rapi dalam plastik-plastik transparan.

Lokasi mata air panas ini bisa dijumpai setelah saya sampai di seberang Gedung Puskesmas Pembantu yang terlihat masih baru. Di situ terdapat lokasi parkir yang siang itu sangat sepi dan hanya ada sepeda motor saya yang terparkir. Baru saja memarkir sepeda motor, seorang pemuda desa keluar dari rumah dan menunjukan lokasi jalan menuju sumber mata air panas. Sebenarnya saya paham maksud sesungguhnya pemuda tadi, ingin menarik uang parkir tapi saya pikir nanti saja pas pulangnya.

kalianget pingit4
Aliran air campuran (air dingin dan hangat)

Di balik plang dan gapura terdapat jalan menurun menuju arah sungai. Sebentar saja kini saya sudah sampai di pinggiran sungai dengan disambut sebuah pohon beringin raksasa yang mungkin saja dikeramatkan oleh penduduk sekitar karena saya mendapati sebuah sesajen yang diletakan di bagian akarnya yang terlihat besar. Di sampingnya terdapat sebuah bangunan semi permanen untuk dijadikan ruang ganti bagi pengunjung yang hendak bermain air.

20170525_132717
Pohon beringin keramat di pinggir sungai

Bayangan awal saya, sumber mata airnya akan besar dan bisa berendam langsung di kolamnya, tapi ternyata dugaan saya salah. Hanya ada sebuah bak penampungan kecil di pinggir tebing yang menyalurkan air hangatnya dari sebuah batang bambu. Dari bambu yang telah dilubangi menyerupai pipa inilah, keluar pancuran-pancuran kecil air hangat sebesar jari telunjuk. Aroma di sekitar sini khas sekali dengan belerang.

kalianget pingit
ternyata air hangatnya hanya seperti ini penampakannya

Sementara itu aliran sungai jernih dengan bebatuan beraneka ukuran menjadi pemandangan lainnya. Jadi sebenarnya pengunjung bisa berendam dengan air dari sungai yang berhawa sejuk, bukan hangat. Walaupun alirannya tidak terlalu besar karena memasuki musim kemarau tapi airnya begitu jernih dan seperti menggoda saya untuk menceburkan diri ke dalamnya. Sayang, saya tidak membawa baju ganti. Saya hanya merendam kaki sambil merilekskan diri setelah beberapa jam yang lalu berpanas-panasan dan berjalan kaki saat mengikuti Nyadran Gede.

kalianget pingit3
Merendam kaki untuk melepas rasa lelah dan pegal-pegal
kalianget pingit5
Karena memasuki musim kemarau tapi kadang masih hujan, jadi sungai alirannya tidak terlalu deras

Persis di bawah pancuran kecil air hangat terlihat sepasang suami istri dan seorang anaknya yang tengah mandi. Dari sekilas yang terlihat, sepertinya si bapak tadi sedang melakukan terapi karena terlihat seperti dalam proses penyembuhan sehabis patah tulang. Itu terlihat dari tongkat kayu untuk memapah yang tergeletak di sampingnya sementara kaki yang masih diperban dibiarkan terkena pancuran air hangat.

Setelah puas merendam kaki di aliran sungai yang dingin dan menutupnya dengan mencuci muka dengan air hangat, saya memilih untuk pulang. Inginnya sih berlama-lama di pancuran air setelah kedinginan merendam kaki di sungai tadi tapi ditunggu-tunggu beberapa waktu, si bapak tadi tak kunjung selesai.

Motor yang terparkir saya ambil dan dengan membayar uang parkir sebesar dua ribu rupiah, saya meninggalkan lokasi sumber air panas alami di Dusun Pingit, Desa Gumelem, Banjarnegara.

blogger paruh waktu dari Kota Dawet Ayu Banjarnegara

Leave a Reply