Thank You For Everything, Rinjani!

Kelihatan banget dari judulnya “Thank You for Everything, Rinjani!”, yap, Rinjani telah memberiku segalanya. Penasaran doi memberi apa aja? Kepo nih? Aaaaaaaaa…

Gunung Rinjani. Gunung Rinjani. Gunung Rinjani. Ah!

Gunung keren ini berada di Pulau Lombok bagian utara. Kalo mau menuju puncaknya, ada 2 jalur umum yang bisa dilewati: jalur Sembalun dan jalur Senaru. Gunung yang mempunyai ketinggian 3.726 mdpl ini dinobatkan menjadi gunung tertinggi ke-3 setelah Cartenz Pyramid dan Gunung Kerinci. Menurutku, Gunung Rinjani merupakan salah satu destinasi you must visit before you die. Aku kesini ditemani oleh Bre, Dimas, Gentong, Afi. Kita berlima. Berasa Pandhawa.

DAY 1

Minggu, 10 Agustus 2014

Meet point kita di Terminal Terboyo, Semarang. Pukul 21.00 WIB. Aku berangkat dari rumah dengan Dimas, karena rumah kita berdekatan. Pukul 22.00 WIB sampailah di terminal. Baru ada Afi disana. Bre dan Gentong belum datang. Nggak lama kemudian, mereka berdua datang. Lumayan lama kita memilih-memilih bis, kek milih jodoh aja yak. Iya, memang harus milih-milih. Pukul 23.30 WIB, naiklah kita ke bis dan langsung berangkat menuju Surabaya.

DAY 2

Senin, 11 Agustus 2014

Errrhhh.. Udah masuk hari ke-2 aja yak. Entah pukul berapa dan sampai mana, kita yang sedang tertidur dibangunkan oleh kondektur untuk sarapan, sarapan dipagi buta. Oke, kita makan. Selesai makan, lanjutlah kita. Lanjut jalan iya. Lanjut tidur juga iya. Jalan sambil tidur dong.

Aku dibangunkan sinar matahari, ternyata sudah sampai terminal tujuan terakhir kita yaitu Terminal Bungurasih, Surabaya. Sesampai di terminal, kita santai-santai, karena jadwal pesawat kita masih siang nanti. Tidak lupa sarapan lagi, karena perut mulai nggak nyantai. Pukul 07.00 WIB kita memutuskan untuk langsung menuju bandara. Naik bis lagi. Bis yang langsung menuju bandara. 15 menit perjalanan, sampai juga di Bandara Internasional Juanda. Nah, sesampai di bandara kita bingung mau ngapain di bandara sampai jam 1 siang. Skip aja yak.

Pukul 13.00 WIB, masuklah kita ke pesawat dan terbang menuju Pulau Lombok~ btw, ini pertama kali seumur hidup naik pesawat, jadi rasanya rada-rada gimana gitu. Takut jetlag juga. Wkwkwkwkwk!

Sejam terbang, sampailah di Bandara Internasional Lombok. Keluar dari bandara, langsung kita diserbu supir-supir travel. Karena kita juga bingung mau lanjut naik apa, akhirnya kita naik travel. Sebelum menuju Desa Sembalun, kita meminta travel tersebut untuk mengantarkan ke Mataram. Di Mataram ada sebuah rumah singgah yang biasa digunakan para backpacker untuk sekedar numpang tidur, numpang mandi, atau numpang me-charge gadget. Kita meletakkan barang yang sekiranya tidak terpakai dahulu dan mandi sebelum berangkat ke Sembalun. FYI, kita akan naik lewat jalur Sembalun dan turun lewat jalur Senaru.

Pukul 19.00 WITA, menuju Sembalun. Mataram-Sembalun membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Lumayan jauh juga.

Pukul 23.00 WITA sampai juga di pos registrasi Sembalun. Disini sudah banyak para pendaki yang sedang tertidur. Kita segera mengeluarkan sleeping bag dan bergegas tidur. Dingin sekali malam itu, kita yang hanya tidur beralaskan matras dan beratapkan bintang. Karena merasa cukup kedinginan, tidur pun tak nyenyak.

DAY 3

Selasa, 12 Agustus 2014

Pukul 05.00 WITA, aku terbangun, tak kuasa menahan dinginnya pagi itu. Segera kubangunkan yang lain. Kita mempersiapkan segala kekurangan dan packing ulang.

Pukul 09.00 WITA, semua sudah siap, tidak lupa berdoa dan pendakian pun dimulai! Eits, tapi… dari pos ini kita naik mobil pick-up dulu menuju pintu rimba. Lumayan jauh. Kalo jalan kaki, bisa 1 jam lah. Kan lumayan bisa menghemat energi..

Sesampai di pintu rimba, kita langsung jalan. Disinilah awal perjalanan panjang dimulai!

Jalan menuju pos I masih didominasi debu dan alang-alang, pohon pun hanya sesekali adanya. Padang savana yang tadinya hijau sekarang agak menguning. Bahkan dari sini, kelihatan kepulan asap kebakaran yang membakar savana disetelah pos II nampaknya.

Kita terus berjalan melawan teriknya matahari. Angin sesekali berhembus menyegarkan nafas. Satu pohon sangat berharga disini, untuk sekedar berteduh dan mengambil nafas.

Trek ini dinamakan trek “tai kerbau” karena sering kali dijalan ada ranjau dari hewan herbivora tersebut. 2 jam jalan, ketemu juga dengan pos I. Karena disini penuh dengan bule beserta porternya, kita memutuskan untuk lanjut menuju pos II.

Jalan menuju pos II masih sama seperti sebelum pos I. Lumayan landai. Pos II sudah terlihat dari pos I. Jadi lumayan dekat. Sejam kita sampai di pos II. Langsung saja kita membuka tas dan mengeluarkan nasting beserta gas untuk masak. Mie instan, jadi penunda lapar kita siang itu. Disini banyak sekali pendaki yang juga beristirahat. Selesai makan, lanjutlah kita menuju pos III. Jalan menuju pos III mulai nanjak, mungkin disinilah Bukit Penyesalan itu dimulai, yang katanya ada 7 bukit. Entahlah, kita menghiraukan sebutan dan jumlah bukit itu, yang penting kita jalan terus.

Sampai di pos ekstra, sebelum pos III, kita sempatkan untuk istirahat dan sholat.

Lanjut jalan, 10 menit sampai di pos III, tanpa istirahat kita langsung jalan menuju Plawangan Sembalun, tempat dimana para pendaki mendirikan tenda dan mempersiapkan diri untuk summit attack keesokan harinya.

Hari semakin gelap. Bukit pun tak ada habisnya, malahan tenaga kita yang sudah mulai habis. Pikirku, “bukan lagi bukit penyesalan ini mah namanya melainkan bukit penyiksaan” Ah sudahlah! Mengeluh tidak akan mempercepatmu sampai di Plawangan Sembalun.

Pukul 19.00 WITA akhirnya kita sampai di Plawangan Sembalun, ternyata sudah banyak tenda yang sudah berdiri disini, kita pun nggak mau kalah dan segera mendirikan tenda.

Tenda berdiri. Makan malam. Lalu tidur. Karena saking kecapekannya, kita tidak ada target untuk summit attack jam berapa. Sebangunnya saja.

DAY 4

Rabu, 13 Agustus 2014

Benar saja. Kita terbangun ketika matahari terbit. Waw! Pemandangan dari sini begitu indah. Segara Anak terlihat jelas. Puncak pun terlihat dengan gagahnya. Sementara kita baru bangun, ada juga pendaki yang sudah turun dari puncak. Hahahahaha bodo amat lah!

Tidak lupa sarapan dan segera packing untuk persiapan summit attack.

Pukul 12.00 WITA kita summit attack, bro! Gila dah ini, benar-benar anti-mainstream banget.

Trek menuju puncak didominasi oleh pasir. Trek seperti ini cukup menguras tenaga, ditambah terik matahari yang cukup membuat tenggorokan kering.

Baru sejam jalan, Gentong memutuskan untuk turun.

15 menit kemudian, Bre yang sejak awal merasa kepalanya pusing pun juga memutuskan untuk turun, ditemani oleh Afi.

Tinggal aku berdua dengan Dimas. Kita berdua tetap lanjut sampai titik darah penghabisan.

1 jam awal, jalan kita selalu bersama.

1 jam berikutnya, Dimas mulai ketinggalan dibelakangku dan memutuskan untuk stay ditempat teduh untuk istirahat dan menungguku. Sedangkan aku masih tetap lanjut. Iya, lanjut, SENDIRIANNNN. Gila lagi dah ini. Sendirian digunung yang gedenya segede gunung (?) Ah nggakpapa, rasa semangatku berhasil mengalahkan rasa kesendirianku. Aku terus berjalan.

10 menit….

20 menit…..

30 menit…..

40 menit…..

Berpapasanlah aku dengan pendaki yang hendak turun. Langsung saja kulayangkan pertanyaan,

*liat jam tangan* (16.00 WITA)

“Bang, diatas masih ada orang nggak?” tanyaku penasaran,

“Wah, kita terakhir ini, bro. Gila, anginnya kenceng banget, mending lo turun aja, muncak lagi besok pagi. Udah sore juga. Ini masih 2-3 jam lagi.” jawabnya dengan nafas tersenggal-senggal,

Hmmm… Jawaban dari si pendaki itu sempat membuatku bingung. Namun, aku tetap harus membuat keputusan.

Yak, aku memutuskan untuk turun dengan beberapa pertimbangan:

1. Aku sendirian. Iya, sendirian.

2. Sudah terlalu sore.

3. Dimas juga menungguku. Begitu juga mama papa dirumah.

4. Puncak adalah bonus, yang penting selamat sampai rumah.

Oke jalan turun, bertemu dengan Dimas, tidak lupa foto-foto.

Sampai di Plawangan Sembalun, aku sempatkan untuk menikmati sunset. Kerennya bukan main! Sunset di pantai Kuta mah kalah! HUAHAHAHA!

Tanpa beristirahat tidur, kita langsung lanjut turun menuju danau. Yap, Segara Anak. Waktu turun ini lah yang membuatku menjadi payah. Kondisi tubuh sudah lelah. Tapi, harus tetap berjalan. Untung aku orangnya pantang menyerah. EYAAAA. Canda deng.

4 jam jalan. Sampai juga di danau. Ah, tinggal tidurnya doang mah ini. Bangun tenda-makan malam-tidur.

DAY 4

Kamis, 14 Agustus 2014

Selamat pagi, Segara Anak!!! Pagi itu udara sejuk sekali. Banyak pendaki yang sudah sibuk memancing ikan. Ada juga yang membersihkan tempat makan sisa semalam di danau. Air di danau tidak boleh diminum, karena cukup kotor. Disini juga ada mata air kok. Disini pun juga ada air terjun!! Disini juga ada pemandian air panas!! Ah surga lah pokoknya.

Hari mulai siang, kita tidak lama-lama di danau. Pukul 12.30 WITA pun kita pulang. Menuju Senaru.

Pertama harus ke Plawangan Senaru dahulu. Disini treknya naik. Gila, orang mau pulang masih aja disuruh naik.

Hampir 4 jam kita jalan, sampai juga di Plawangan Senaru. Disini, kita mengisi perut dahulu. Disini pula kita kedapatan rombongan dari Jakarta, dan akhirnya pun kita turun bersama.

Pukul 18.30 WITA perjalanan turun dimulai. Kita jadi bersebelas orang. Trek menuju pos IV didominasi batu. Hanya butuh 60 menit untuk sampai pos IV.

Sesampai di pos IV, tanpa istirahat, lanjut ke pos III. Treknya berdebu, jadi harus pake masker. 60 menit jalan pula kita sampai di pos III.

Di pos III, kita makan dulu sambil istirahat.

30 menit istirahat. Kita lanjut turun ke pos II. Mulai masuk hutan. Kadang dingin. Kadang panas. Suhu hutan malam itu begitu aneh.

Jalan terus. Jalan terus. Jalan terus… Selama 4 jam. Belum ketemu pos II. Ucapku dalam hati, “Ya Allah…. Berilah kami kemudahan….” Setelah dari salah satu tim kita ada yang sadar, ternyata kita diputer-puterin, soalnya ada salah satu dari kita ada yang dua kali jatuh ditempat sama. Lekas kita berdoa bersama….

Benar saja, baru jalan 10 menit ketemu juga pos II. Ada beberapa tenda yang berdiri disini. Gila lah pokoknya yang ngecamp disini. Kita lanjut menuju pos I. Penderitaan kita belum selesai, kita masih diganggu dengan suara-suara yang nggak wajar. Sialan! Rasanya ingin lari saja supaya cepat keluar dari hutan. HUAHAHAHA!

Dengan keadaan tubuh yang energinya tinggal 5% mau nggak mau harus terus jalan, dari siang kita belum tidur, hampir 12 jam kita jalan. Ah nggakpapa, demi mama papa dirumah, apapun kulakukan.

1 jam jalan. Sampai juga di pintu rimba Senaru. ALHAMDULILLLLAAAHHHHHH!!!! Bahagianya bukan main, serasa sampai puncak! Padahal belum pernah sampai puncak! HAHAHAHA bodo!

DAY 5

Jumat, 15 Agustus 2014

Sampai disini, kita langsung berbagi cerita apa saja yang dialami selama didalam hutan. Serem juga! Hiiiiiii….

Ah sudah malam, badan mulai lemah, lalu tidur.

Bangun. Sarapan. Lanjut turun, karena mobil yang akan mengantarkan kita ke Mataram sudah siap.

And then…singkat cerita sampai juga di rumah singgah.

Selesai sudah cerita dari Gunung Rinjani. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Sangat luar biasa. Thank you for everything, Rinjani!

“Good planning is important. I’ve also regarded a sense of humor as one of the most important things on a big expedition. When you’re in a difficult or dangerous situation, or when you’re depressed about the chances of success, someone who can make you laugh eases the tension. Sir Edmund Hillary

NOTE:

– Semarang (Terminal Terboyo) – Surabaya (Terminal Bungurasih) by bis = Rp 80.000

– Terminal Bungurasih – Bandara Juanda by bis damri = Rp 20.000

– Surabaya – Lombok by plane = Rp 450.000 termasuk airport tax

– Bandara International Lombok – Mataram – Sembalun by travel = Rp 600.000

– tiket masuk Taman Nasional Gunung Rinjani = Rp 5.000/orang/hari

– Pos Sembalun – Pintu Rimba Sembalun by mobil pick-up = Rp 15.000

– Senaru – Mataram by engkel = Rp 50.000

A boy who never stop exploring.

Leave a Reply