The Journey Menapaki Langkah

dsc_0387

Bromo adalah salah satu magnet destinasi baik dari wisatawan local maupun asing. Libur panjang lebaran aku putuskan untuk pergi kesana. Karena aku sendirian, kuputuskan untuk melihat forum backpacker semarang, pas banget ada yang mau ke bromo, namanya rian dan dia juga sendirian. Setelah aku chat, ada 2 orang lagi yang ikutan chat, ada bang hendra dan ela, mereka berencana mau ke bromo tapi mereka sedang eksplore Surabaya. Aku dan rian berencana untuk ketemu diterminal terboyo semarang dan bang hendra kita ketemu di probolinggo.

Untuk rute ke bromo dari semarang kita bisa melalui 2 jalur yaitu lewat malang terminal arjosari atau rute Surabaya terminal bungurasih, kedua rute tersebut menuju terminal banyuangga probolinggo, menuju cemoro lawang. Sebenarnya banyak rute sih, cuma itu yg paling recommended.

Hari rabu tgl 6 agt 2014, pukul 18.30 aku sudah di terboyo. Kulihat sekitar untuk mencari cowok dengan ciri-ciri berjaket hitam dan berslayer merah. “hai”, sapaku ke arah cowok berjaket hitam dan berslayer merah. Dia pun menoleh ke arahku. Dan memberi salam balik, sudah pasti dia adalah rian. Kita rencana berangkat pukul 8/9 malem, tapi terlalu lama di terboyo akhirnya kita berangkat jam 7 malem. kita naik bus ekonomi sinar mandiri. Kondisi bus sedikit memprihatikan, kursi serasa tidak ada busanya, dengan penuh sesak penumpang menemani perjalananku sampai ke Surabaya. Kita menuju terminal bungurasih surabaya dengan biaya 51k. Tak banyak obrolan kita didalam bus, hanya sebatas basa basi, kita banyak diamnya. Rian ini bersekolah diploma teknik di kalimatan dan sekolahnya pun gratis. Banyak pengamen juga malam-malam gini, pedagang yang menawarkan jajanan, rokok dll.

Sampai di Surabaya masih pagi sekali sekitar jam 2 pagi, kita nyari mushola buat solat dan sejenak istirahat. Kondisi teras musola penuh sesak oleh pelancong, penumpang bus yg menunggu pagi, mereka tidur diemperan mushola layaknya ikan pindang yang berjejer-jejer. Bahkan untuk sekedar mau solatpun susah, dengan kondisi pintu yg dikunci, untuk mengantisipasi pindang-pindang yg berjerjer ini tidur didalem mushola.

Hari kamis 7 agt jam sudah menunjukkan pukul 03.30 pagi, aku sama Rian bingung, mau ke probolinggo lansung atau menunggu pagi saja, soalnya bakal pagi sekali sampai diprobolinggo. Banyak pilihan busnya, bisa bus akas, ladju, dan banyak lagi. Perjalanan ke probolinggo membutuhkan waktu 2 jam kunikmati dengan tidur, dengan biaya 20k, harusnya sih 15-17k tp gpplah. Sampai probolinggo aku ngabarin bang hendra yg udah janjian kemarin. Mereka menginap dipenginepan deket terminal banyuangga probolinggo. Sambil menunggu mereka datang menjemput, kita nyari makan di deket-deket terminal, rumah makan mbak sri jd pilihan kita. Soto porsinya jumbo sekali, entah soto khas mana, kita makan habis 9k, murah bukan?

Dirumah makan aku disamperin sama bang hendra dan ela, itu juga pertama kalinya kita ketemu mereka, dengan bicara bahasa Indonesia khas medan, kita diajak ke penginepannya. Kita disuruh bersih2 diri dan istirahat sejenak disitu. Kita lebih cepet akrab karena mempunyai hobi yang sama. Bang hendra dan ela sama-sama bersekolah di universits swasta di semarang, mereka dua sejoli yang sedang menikmati liburan ala backpacker.

Pukul 10.30, aku, rian, bang hendra dan ela menuju terminal banyuangga buat naik elf atau taxinya orang situ, untuk menuju cemoro lawang. Cemoro lawang itu titik pemberhentian terakhir untuk semua wisatawan. Bisa juga nyewa jeep atau ojek disana untuk menikmati bromo. Untuk naik elf ini kita harus nunggu penuh sampai 15 orang, setelah lama menunggu akhirnya kita naik sama 5 bule, kita berempat dan warga lokal berlima. Perjalanan untuk sampai cemoro lawang sekitar 2 jam. Pemandangan saat mau sampai cemoro lawang sangatlah indah, kita melewati bukit-bukit hijau yg menjulang, perkebunan warga, udara yg sejuk sejenak mengalihkan rasa pegal dikaki karena berhimpitan sama penumpang lain.

Biayanya sih biasanya 25k tp kmaren kena 30k, mungkin karena liburan kali. Aku menyenggol tangan rian, “bule depanku udah kayak cinderela aja bro”. sengaja suaraku tidak tak kecilin, toh mereka tidak tau perkataanku. “iya tuh, sayang udah ada pangerannya”, saut rian. Kulihat ada rambut pirang bule yang menempel dikursi, tak ambil dan kasih tau ke rian, “lumayan nih bro, buat di pelet” kataku sambil cengengesen. “gk mampan bro, produk luar” kata rian sambil tertawa.

Selamat datang diwisata kawasan bromo. Kawasan wisata bromo dihuni oleh suku tengger, dan mereka mayoritas beragama hindu dengan ciri-ciri perawakan pendek, pipi merah merona seperti dikasih blash on dan selalu mengalungkan sarung. Jam menunjukan pukul 2 siang, tp hawa dinginnya kerasa sekali, mungkin karena ini suku tengger selalu mengalungkan sarung dilehernya. Kita nyari penginepan murah, setelah muter2 kita dapet pnginepannya pak sugeng bromo yg harganya 150/ kamar, jd kita masing-masing kena 37,5k, karena murah ya tidak dapet air panas buat mandi, soalnya airnya itu dingin sekali. Penginepan ini seperti rumah biasa, ada 4 kamar, 1 kamar mandi dan ruang tamu. Di dalam kamar ada 2 bed, selimut dan bantal yg tersusun rapi.

Kita jalan-jalan sebentar, menikmati bromo dari cemoro lawang, padang pasirnya seakan berbisik ketika tertiup angin, padang savanna yg luas ditambah masyarakatnya yang ramah. Makanan disana gak ada yg special, bakso, nasi goreng, mie instan, dan harganya itu 10k semua, jd pilihlah yg bijak. Disana jangan kuatir tidak ada signal, meski digunung towernya juga banyak, mungkin karena wisata international.

Malam di bromo sepi dan dingin. Menikmati segelas kopi kita ngobrol diruang tamu. Ternyata ada lagi yang akan menemani pertualangan kita di bromo. 2 orang cewek temennya rian akan datang dari mojokerto. Sekitar pukul 7 malem mereka sudah sampai. Mereka menginep di penginepan sama kayak kita, dia ngambil kamar sebelah kita, karena memang semua kamar enggak dikunci jadi kita bebas milih kamar, kebetulan pak sugengnya juga gak pernah kepenginepan. Sekarang tinggal pilih deh kamar yang mau ditempati. Ada dyah dan dina. Dyah ini temennya rian dari media social, katanya udah lama kenal, tp baru ini bisa ketemu, sedangkan dina ini temennya dyah, dia juga suka traveling tp nekat, tampangnya udah kayak anak jalanan.

Malem itu kita nyewa jeep kenalannya rian, dengan harga 600k untuk 4 lokasi, mahal ya? Enggak juga, rata-rata di musim liburan ini, jeepnya itu nawarin harga 750k-800k untuk 4 lokasi, dan 450-600k untuk 2 lokasi. Kita janjian pukul 3.30 pagi untuk nganter di penanjakan 1, kawah bromo, bukit teletabies dan pasir berbisik. Dalam hati, ini apa enggak telat ya jam segitu, tp yasudahlah. Kita ngopi sambil bercandaan, dan hawa semakin dingin, bantal dingin, kasur jd dingin, selimutpun juga terasa dingin. Apa boleh buat, yang penting ada tempat untuk tidur.

Pukul 02.30 pagi kita bangun untuk siap-siap buat naik jeep, airnya itu dingin bgt, serasa ada esnya. Baju double, jaket, topi kuplok, sarung tangan, slayer jd syal, sepatu, tp masih terasa dingin. Untuk yang tidak bawa topi kuplok, sarung tangan bisa beli disini, itung2 mensejahterakan masyarakat local suku tengger, soalnya kebanyakan dari mereka banyak yang menjadi pedagang kecil dirumah mereka sendiri. Pukul 03.40 pagi kita berangkat naik jeep ke penanjakan 1, dan disitu seru sekali, kita salip-salipan sama jeep, sama motor dan debu kemana2.

Saat mnuju penanjakan 1, jalanannya nanjak sekali, banyak kelokan. Ngeri juga kalo pake motor apalagi matic pasti didorong. Sampai di parkiran jeep sudah rame sekali, bener kan kita telat. Cuaca cerah menemani perjalananku, sesuai harapan, bintang-bintang serasa deket, lampu-lampu kota malang terlihat jelas, dan yang pasti DINGIN bgt, bule aja jaketnya tebel-tebel malahan ada yg pake selimut. Kebayangkan dinginnya kayak apa ? Tp kata sopir jeep bulan agustus itu bulan terhangat 20-15 c, kalo musim hujan bisa 10-0 c, embun saja beku. Kita menaiki tangga untuk sampai ke penanjakan 1, disamping2 tangga berjejer2 penjual souvenir khas bromo.

dsc_0416
Penanjakan 1 adalah Spot terbaik untuk melihat sunrise, di sini kayak ada gazebo dan sebuah undakan kursi untuk melihat sunrise, serasa mau menonton bioskop. Disini udah rame bgt, kita muter-muter, nylinap-nylinap, dan akhirnya dapat spot agak dipinggir. Ternyata disini juga ada yang mendirikan tenda. Sedikit demi sedikit cahaya muncul, warna jingga yang elok, segera membangunkan sari-sari kehidupan, sinar emas hangat menerpa pipi, memperlihatkan keindahan gunung bromo, yg bahkan saat gelappun sudah sangat indah.

Sampai puncaknya matahari muncul dibarengi dengan tepuk tangan para pengunjung. Matahari sempurna mulai muncul, kita foto-foto dan enggak sadar kakiku menginjak tangan bule, dia mengumpat dengan bahasa yang tidak aku mengerti. “sorry sir, I don’t know”. Dia masih saja mengumpat dengan bahasa asing. Bahkan ada yang manjat tower untuk mendapatkan gambar yang bagus. Sekitar pukul 7 kita mulai turun menuju kawah bromo.

20140808075958
Kawah bromo adalah tempat yang sakral, di hari upacara tertentu, suku tengger melempar kepala kerbau ke dalam kawah sebagai persembahan. Cuma aku, dyah dan dena yang turun menuju kawah bromo, hendra bilangnya udah pernah, ela dan rian males jalan karena jauh. Disana kita bisa nyewa kuda, karena dari parkiran jeep menuju pure dan kawah bromo emang jauh. Perjalanan melewati padang pasir, sudah seperti pasir gurun sahara, bedanya warna pasir disini hitam, sambil menikmati hangatnya mentari pagi, aku terus melangkahkan kaki. Kita bakal melewati sebuah pure suci ditengah gurun, ya ini untuk acara besar agama hindu. Kita juga bakalan melewati parkiran kuda, tai kuda bergeletakan, bercampur dengn pasir, ditiup oleh angin dan dihirup manusia.

Diperjalanan ada bule bilang gini take your photo ! dalam hati masak bule minta fotoku. Aku maju saja, bulenya bilang gini no no take your photo. Ohh ok, go ahead. Mungkin aku dilihat unik kali yak ? Debu bertebaran kemana-mana, sampailah aku ditangga menuju kawah bromo. Kawah yang terbuka menganga, memperlihatkan kengeriannya. aku melihat kesekitar, sungguh takjub melihat keindahan dari atas sini. Parkiran jeep pun terlihat sangat jauh, dengan berjejer-jejer jeep itu pun tampak seperti mainan kecil. Bau belerang semakin menusuk hidung, kepalaku mulai pusing karena terlalu lama diatas. aku bilang sama dyah untuk turun duluan. Sampai di jeep, aku liat dyah dari kejauhan pake kuda buat balik, eh ternyata dia jatoh dipasir dan kakinya kesleo. Maafkan temenmu ini yang meninggalkanmu dyah.

Perjalanan menuju Lokasi ke 3 bukit teletubies, kita bakal nglewati pasir berbisik dan padang savanna. Perjalanannya sangat menantang. Mas pri sopir jeep kita memacu jeepnya sudah seperti offroad di padang pasir, seperti biasa debu kemana-mana, aku jadi kenyang karena debu. Tahu serial teletubies kan ? nama bukit ini juga dinamain sesuai nama bukit diserial itu. Disana ada bukit-bukit kecil, besar, warnanya agak hijau kuning, karena ini bulan agustus, kecuali datang di musim hujan pasti hijau, tapi kalo musim hujan jarang bisa lihat sunrise. Berkat warna kuning padang savanna, bromo tampak lebih eksotis. Tampak anak kecil bule kegirangan diatas jeep dan beberapa tumpukan tas carrier. “Mas pri, mereka pergi kemana?” Tanyaku sambil menunjuk mobil jeep tersebut. “mereka kearah ranu pani, buat mendaki ke semeru”. “ohh, bisa lewat sini juga ya maspri?”. “iya bisa” jawab simple mas pri.

Lokasi ke 4 pasir berbisik, disini bahaya buat orang bermotor, soalnya postur pasir yg tdk seimbang jadi gampang jatuh, jadi harus lebih hati-hati. Disini bener-bener mirip gurun-gurun pasir di arab, sebuah lukisan liuk-liuk yang menggores pasir, lekukan pasir khas gurun, dan ternyata suaranya emang gemuruh saat ketiup angin. Kita sempet dimarahi oleh pengawas yg memonitoring gempa, soalnya sudah memasuki area seismograf.

Kita kembali ke penginepan, sebelum pulang kuputuskan untuk mandi, siang-siang saja rasanya dingin bgt airnya. Aku sama rian ditawari trip lanjutan bang hendra kepulau sempu. Aku sih belum tahu tentang pulau sempu. Dari ekspresi rian kayaknya dia juga belum tahu tentang pulau sempu. Sedikit deskripsi tentang pulau sempu dari bang hendra katanya berada dimalang selatan, untuk ke pulaunya kita nyewa perahu dan traking sekitar 1 jam untung mencapai ke segara anakan, disana kita akan mendirikan tenda. Setelah aku pertimbangkan masalah budget dan menyakini bahwa perjalanan ini akan berakhir seru, akhirnya aku setuju untuk melanjutkan perjalanan ke pulau sempu.

img_2329

Pulau sempu adalah lanjutan perjalananku, disini cuma aku, bang hendra, ryan dan ela yang melanjutkan perjalanan menuju malang, sedangkan dyah dan dena pulang ke mojokerto. Hari jumat tgl 8 agt 2014 pukul 14.30 sampai diterminal banyuangga probolinggo. Kita bisa naik bus langsung menuju malang dengan tarif 16k. aku pertama kali ke malang dan yang terbesit dikepalaku, malang itu kota macet, dimana-mana macet mungkin karena musim liburan.

Karena sudah maghrib kita mandi dulu di pombensin dideket terminal, dan menunaikan ibadah. Bang hendra mengajak kita pulangnya naik kereta. Kita pun menuju stasion malang buat booking tiket pulang dan ternyata habis.

Malam semakin larut, kita mencari tempat buat istirahat, terbesit mau ngegembel dipombensin tapi disini pombensin kecil-kecil, tidak ada teras yang lumayan luas. Kita melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki mencari penginapan murah. Tanya ke penginapan satu ke penginapan lain tak ada yang murah. Saat dapat yang murah tidak bisa sekamar cowok sama cewek. Kita istirahat di alun-alun kota malang, badan sudah capek bgt, rasanya pengen tidur dimana saja, dan akhirnya ada malaikat tak bersayap (baca : bapak-bapak) datang menyapa kita, “kalian lagi nyari penginepan dek?”. “iya pak”, saut bang hendra. “Coba kamu ke arah belakang rumah sakit ada kos semalam” kata bapak itu. Tanpa di komando dan sebelumnya mengucap terimakasih kita langsung kesana. Kos berdinding warna warni mencolok ini yang punya nenek-nenek, dan sedikit baweh. Disana juga tidak boleh menginap cowok sama cewek dan parahnya si ela juga gak berani tidur sendiri. Setelah dipaksa akhirnya dia mau tidur sendiri. Kita ambil 2 kamar, kamar 1 cewek 50k dan kmar cowok 75k.

Kamarnya tidak bagus sih, tp lumayanlah buat tidur. Disini pemanfaatan ruang kelihatan sekali, yang penting ada celah dijadikan kamar. Dinding kamar kami tampak tidak simetris, sedikit meruncing kebelakang. Kasur kita bertingkat 2, ada almari dan meja. Sebenarnya yg terpenting adalah bisa ngecharge kamera dan hp, itu sudah cukup. Setelah mandi kita pun langsung istirahat.

Paginya hari sabtu tgl 9 agt pukul 07.30, kita chek out, ceilehh kayak dihotel. Karena gak ada rencana ke pulau sempu jd aku gak tahu rute dan informasi ke pulau, dan bang hendra yg pernah kesana juga lupa rutenya. Kita sempet tanya-tanya warga tp banyak yang tak tahu. Setelah beberapa kali Tanya dan belum menemukan jawaban, akhirnya kita tahu arah menuju kesana. Rute ke pulau sempu itu menuju gadang, turen, sendang biru trus nyebrang pake perahu ke pulau sempu.

Kita nyari angkot menuju gadang dengan tarif 3k. Sampai digadang kita ke menuju turen, bisa pake elf atau bus kecil dngan tarif 6k. Aku duduk didepan mobil elf bareng rian, “mau ke pulau sempu ya dek” Tanya abang sopir. “iya bang, kita mau kepulau sempu”, jawabku. “di segara anakan banyak ikan tuh dek” kata abang sopir sambil menghembuskan asap rokoknya. “iya kah bang, bias dipancing?” “bias kok, gede-gede ikannya” perjelas bang sopir. aku sempet kepikiran buat beli alat-alat pancing. “di malang itu bnyak pesantren dan warung STMJ”, kata bang sopir. “ohh iya bang, banyak sih warung susu the madu jahe disini” jaawabku. Bukan itu saut sopir, “STMJ itu solat terus maksiat jalan”.

Busetdah, kita pun tertawa bersama-sama. Diceritain juga masjid turen yg dibangun sama jin dalam sehari jadi, terus juga kalo masuk masjid itu kita jadi pinter baca alqurannya, setelah keluar kembali jadi biasa lagi, gak tau deh benar apa tidaknya.

Sampai dituren kita naik angkot menuju sendang biru. kita mencari angkot yang sudah mau penuh penumpangnya, kita masuk kedalam angkot. Kita ketemu orang berkaca mata yg lagi makan bungkusan nasi, yg sekilas dilihat serasa mnikmati makanan di restoran berbintang gitu. Setelah berkenalan namanya taufeq dia juga mau ke pulau sempu dia dari solo, yg bekerja di Surabaya, rencananya sih dia mau ketemu temen-temennya yg dari solo yang udah duluan disana.

Di angkutan itu kayak pas mau naik elf di probolinggo menuju bromo, nunggu sampai penuh baru berangkat. Kita pun baru sadar kalo ternyata kita belum sarapan, setelah tanya bang taufeq tentang penjual pecelnya kita langsung menuju kewarung pecelnya. Setelah nunggu beberapa jam akhirnya angkot berangkat dengan pnumpang 15 orang. Angkot sekecil itu diisi 15 orang itu tidak nyaman sekali, berdesakan kaki gak bisa bergerak. Perjalanan menuju dermaga sendang biru kalian gak bakal melihat laut, yang ada hanya bukit, hutan, tebing-tebing gitu. Sebenarnya ini mau kepantai atau kegunung? Sendang biru 1 km lg, tp msh saja blm keliatan pantai, setelah sampai ke wisata sendang biru kita bayar tarif masuk wisata 10k, dan baru deh keliatan laut. Tarif angkot esbesar 20k, cukup lama sih perjalannya, sekitar 2 jam dari turen.

Di sendang biru, pantainya banyak tebing-tebing dengan degradasi warna biru, hijau tosca, dan banyak perahu yang berlayar. Disitu kita langsung nyewa perahu, tp ditanya sdh registrasi belum mana guidenya ? bang hendra bingung, aku juga bingung. “maksudnya registrasi bagaimana ya, tahun kemaren gak ada registrasi?” Tanya bang hendra. “iya, sekarang ada peraturan baru, kalo mau kepulau sempu harus registrasi dulu dikantor perhutani”. Jadi sekarang kalo mau ke pulau sempu harus registrasi dulu di pos pemantauan, kitapun menuju ke pos pemantauan atau apalah itu. Disitu banyak sekali orang yang mau nyebrang, kita di briefing gt, tentang ijin masuk ke pulau sempu, dan ternyata pulau itu adalah kawasan konservasi beberapa hewan dari monyet, ular piton, burung-burung dan banyak lagi dan dikasih tahu juga larangan-larangan dipulau sempu.

Kitapun harus nyewa guide juga dan itu wajib meskipun sudah hafal jalan, meskipun sudah masuk 100-1000 kalipun harus pake guide, soalnya jalan menuju segara anakan itu trackingnya lumayan jauh, kita jalan sekitar 1-1.5 jam dikhawatirkan kalo tersesat. Akhirnya kita registrasi dan nyewa guide yg tidak berguna itu dengan tarif 130k/5.

Pas mau nyebrang, kita ketemu 4 anak, mereka dari gresik yg mau barengan nyebrang dan ternyata dia masuk ilegal gt, udah kayak diperbatasan Negara aja. Jadi mereka itu lewat TPI yang katanya gak perlu bayar tiket masuk dan registrasi cukup nyewa perahu saja, tp karena mereka kekurangan personil jadinya mereka tetep masuk ke sendang biru buat nyari barengan. Akhirnya kita naik perahu 9 orang menuju ke pulau sempu, dengan biaya sewa perahu pp 100/9 anak, disitu kita kenalan, ada reza yg pake kacamata sok gaul, ada sam, binar dan beni. Perahu kecil kita menuju pulau sempu, cuma 15 menit saja kita sudah sampai ditepi pantai.

Karena surut kita jalan ke tepi pantai, kita nginjek karang-karang mati, atau karena eksploitasi besar-besaran ini jd terumbu karang disini jd mati. Sampai dipinggir kita langsung menuju hutan, tracking lumayan capek, naik, turun masok lubang gali lubang, enggak deh bercanda. Disini bener-bener masih kayak hutan alami, pohonnya gede-gede, akar pohon melintang kemana-mana, jalurya sih cukup jelas kalo menurutku. Katanya juga pada thun 2006 ada pelepasan ular piton, kebayang ini sudah 2014.

20140810083640
Segara anakan itu ternyata adalah sebuah laguna. Tahu laguna kan ? jadi laguna itu air laut yg terjebak ditengah-tengah tebing gt, jadi kayak ada pantai ditengah pulau. Degradasi warna yg sangat apik, biru gelap, biru jernih, hijau toska, terumbu karangnya keliatan dr atas, pasirnya juga putih bgt. Sampai disana kita nyari tempat buat diriin tenda dome, karena disana udah rame bgt, puluhan dome sudah berdiri. kebanyakan mereka dr jawa timur, ada juga disana yang dari Jakarta, bandung, solo, jogja dan bule-bule entah dari mana.

pulau sempu
pulau sempu

Setelah dome berdiri, sekitar jam 15.30 an kita istirahat sebentar, dan karena registrasi tadi, kita lupa beli nasi, disini gak ada yg jualan, bahkan air tawar tidak ada, bener-bener di alam liar. Kalo kopi itu harus selalu ada, gak asyik dong kalo tidak bawa kopi, disana perlengkapan bang hendra lumayan lengkap, bang taufeq juga bawa spirtus, arek-arek dari gresik bawa kompor gas mini juga bawa kantong doraemon jadi lengkap bgtlah. Arek-arek ini gokil gila abis, ada aja yang buat tertawa. Kita manasin air untuk buat kopi dan mie instan buat ganjal perut, tracking yang lumayan jadi agak laper.

Sore itu kita jalan-jalan nikmati indahnya laguna segara anakan. Dipojokan segara anakan ada lubang, buat air laut masuk, jd kalo pas pasang, itu bakal keliatan air muncrat masuk kedalem. Dipantai sudah rame banget, ada yang berenang, snorkling, maen bola, maen pasir, foto-foto. aku sendiri males maen air laut, soalnya enggak ada tempat bilas. Dari atas tebing keren bgt, tebing-tebing ini tampak gagah melingkari segara anakan dengan pohon-pohon dan semak perdu hijau yg tumbuh ditebing. Sebuah pantai di dalam pulau. Diluar segara anakan itu, kita langsung bisa melihat samudra hindia lepas, ombaknya besar, enggak taulah kalo aku jatuh, gak bakal ada yg nolong, timsar pun pasti nyerah dengan tebing yang curam dan ombak yang besar.

Malam makin larut, kita manasin air buat kopi lagi, sambil bersenda gurau, dengerin orang gitaran, buat api unggun, buat barbeque, jagung bakar, ubi bakar itu semua orang lain semua, kita tetep sederhana dengan minum kopi sambil ngrokok. “Nih bang tak bawain ikan bakar” kata bang taufeq. “Ikan dari mana bang?” tanyaku. “Ini dari teman-temanku yg dari solo mereka bakar-bakaran ikan”. “Ikan habis dr mancing bang?” tanyaku. “enggaklah, beli didermaga td”. Saut bang toufeq sambil ketawa. Sempet nyoba makan tripang juga yg diambil dr segara anakan, tripang goreng bumbu mie instan chef arek-arek gresik, dan rasanya pertama sih enak, tp lama-lama pngen muntah. Untung saja tidak beracun.

Menikmati malam di segara anakan yang cukup terang meski tanpa lampu, mungkin karena bulannya lagi cerah dan berbintang. aku tidur dipinggir pantai , beralas pasir, menatap langit berbintang, dengerin suara ombak dan aku pun tertidur oleh alunan music alam, ditepian pantai beralaskan matras .

Paginya, hari minggu tgl 10 agt 2016, kita rencana mau lihat sunrise, tapi ternyata mendung, manasin air lagi buat kopi dan mie instan. Tanpa di duga banyak sekali monyet ekor panjang pada turun minta makanan. Pagi itu aku nyoba naik tebing paling atas, tapi gak jadi naik paling atas, soalnya ada tulisannya bahaya. jadi agak dibawah dikit, tapi dari situ akan kelihatan gugusan pulau-pulau kecil diarah selatan, yang sekilas kayak raja ampat mini dan kalian akan lihat segara anakan yang dikelilingi tebing-tebing hijau, beserta warna warni tenda dome yg berdiri. Semburan air disisi tebing yang bolong pun sudah tinggi, peranda air sudah pasang.
Sekitar pukul 08.00 kita packing, bersih-bersih sampah yang kita tinggalin, saat kesini jangan lupa bawa plastic sampah. Karena arek-arek gresik bawa plastic sampah yg lebih gede, sampah kita masuk situ semua.

Dan aku baru sadar pas mau pulang, pantai itu jadi kotor sekali, sampah dipinggir pantai bnyak sekali. Orang-orang ini datang membawa makanan, dan saat pulang mereka meninggalkan sampah bungkus makanan mereka, sampah plastik dimana-mana, botol minuman plastic, apa mereka tidak sadar mereka akan merusak alam sekitar sempu. Lebih miris lagi bekas bakar-bakar ikan, arangnya dikubur didalem pasir. Ada beberapa kelompok yg membawa pulang smpah mereka, dan banyak juga yg membiarkannya. Jangan pernah datang kepulau sempu, kalau cuma mau meninggalkan sampah disana, lestarikan alam kita, biar anak cucu kita bisa melihat segara anakan yg begitu indah, dan saat kita kesana lagi akan masih sama dan begitu seterusnya. Jagalah alam kita.

Mungkin sebaiknya pulau sempu di tutup untuk wisata dan fokus di wilayah konservasi. Atau kalaupun mau dijadikan tempat wisata harus diperketat lagi seperti pantai tiga warna malang, jadi saat di pos pemerikasaan barang dan makanan akan diperiksa dan didata. Data ini berguna saat wisatawan kembali pulang, barang dan bungkus makanan (sampah) harus sesuai saat masuk, kalo kurang wisatawan disuruh kembali lagi dan mengambilnya. (saya kurang tahu apakah sekarang pulau sempu sudah perketat masuknya atau tidak.

Perjalanan pulang, kita mau lihat pantai kembar dua, kita cuma liat bentar , foto-foto, terus pulang. Dihutan aku sempet melihat kera OA. Sampai dipinggir pantai kita akan dijemput sama perahu yang kita sewa kemaren. Sampai di sendang biru kita mencari makan dan kita berpisah dengan arek-arek gresik. Kitapun berpisah dengan bang toufeq di terminal malang, dia menuju ke Surabaya sedangkan kita berempat menuju ke semarang.

Diperjalanan selama 6 hari ini aku mulai bener-bener sadar, sebelum aku mengenal quote “Traveling is not all about destinations but the journey”. Aku merasakannya sendiri, perjalanan bukan hanya tentang sebuah destinasi, tapi perjalanan untuk mencapai destinasi tersebutlah yang paling penting, banyak pengalaman baru dan hal tak terduga.

 

 

adrenaline junkie

Leave a Reply