Tongke' nan Relijius

Post

Bila mendengar alat musik bambu, yang pertama kali terlintas biasanya adalah alat musik khas Jawa Barat, angklung.

Alat musik tradisional satu ini memang telah terdengar gaung gemanya hingga mancanegara. Dunia bahkan telah belajar memainkan angklung. Bangga dong, sebagai bangsa Indonesia. Kita memang kaya akan seni tradisional yang membuat dunia kagum.

Nah, bicara tentang alat musik tradisional berbahan bambu, ternyata tidak hanya ada Angklung. Dari Bali ada rindik. Lalu di Lombok ada pula yang disebut Tongke'.

Berbeda dengan angklung maupun rindik, tongke', dimainkan satu nada oleh satu orang. Halnya nada pada musik-musik tradisional yang 'menganut' pentatonis, tongke' memiliki lima nada dasar: do re mi sol la.

Alat musik tradisional tongke'

Tongke' dimainkan dengan menggunakan pemukul yang telah dilapisi karet. Penggunaan karet pada pemukul tongke' dimaksudkan menghasilkan bunyi dengung, tidak sekadar bunyi bambu yang dipukul. Nama tongke' sendiri berasal dari bunyi dan irama yang dihasilkan alat musik ini pada awal keberadaannya. Tong-tong-kek, tong-tong-kek. Begitu kira-kira.

Pembuatan Tongke'
Pembuatan Tongke'

Perkembangan tongke' di Lombok, khususnya di Pancor, yang dikenal pula sebagai kota santri di Lombok Timur, tidak lepas dari nilai-nilai religi. Tongke' menjadi alat untuk membangunkan warga di dini hari ketika waktu sahur tiba. Anak-anak dalam rombongan kecil antara sepuluh sampai belasan orang memukul tongke' berkeliling kampung sambil berteriak: Sahur! Sahur! dengan irama tertentu. Untuk keperluan itu tongke' dikombinasikan dengan peralatan rumah tangga seperti gallon air mineral, hingga ember. Tidak sekadar gaduh, ada harmonisasi menarik yang menyebabkan tongke' menyenangkan untuk membuat bangun di dini hari. Mata yang berat bisa terangkat dan hati pun bangun dengan riang. Hehehe... Sedikit lebay, tapi mendengarkan tongke' untuk terjaga lebih menyenangkan daripada alarm yang membosankan.

Berpuluh tahun tongke' belum bertransformasi, sampai akhirnya sekitar tiga tahun terakhir tongke' tidak hanya dimainkan saat bulan Ramadhan. Tongke' mulai dimainkan sebagai alat musik yang membawa kegembiraan.

Bahkan dua tahun terakhir tongke' mulai dipentaskan di beberapa gelaran seni dan budaya, walaupun masih dalam skala lokal. Walau begitu, tongke' yang tetap dimainkan oleh anak berusia sembilan sampai belasan tahun ini sudah menarik minat banyak orang yang skalanya tidak lagi lokal. Audiens tongke' sudah merambah wisatawan dan pencinta musik mancanegara. Keren, kan?

Selain bunyi yang khas, cara memainkan tongke' juga cukup unik. Saat dipukul tongke' dipegang hanya dengan dua jari saja. Kalau digenggam bunyi yang akan dihasilkan akan berbeda.

Remaja setempat memainkan tongke'
Remaja setempat memainkan tongke'

Tongke' pun kini berkolaborasi dengan alat musik modern seperti gitar, biola, drum, dan lainnya. Meski begitu kolaborasi dengan alat musik tradisional lainnya tetap yang terbaik menjaga warna tradisinya.

Dan tidak banyak yang bisa membuat tongke'. Pak Salim adalah satu dari yang sedikit, bahkan sangat sedikit itu. Hebatnya, laki-laki yang memang menyukai musik tradisional ini membuat tongke' hanya mengandalkan pendengaran dan 'feel'nya untuk mendapatkan not-not yang pas. Karenanya ia bekerja dalam suasana tenang dan sunyi di rumahnya di kampung Lauq Masjid, Pancor.

Satu set alat musik tongke'
Satu set alat musik tongke'

Karena kecintaannya terhadap tongke' pula, pak Salim memasang tarif sangat murah untuk setiap tongke' karyanya. Ini juga mengingat yang memainkan tongke' umumnya adalah anak-anak dan remaja. Hanya Rp. 5000 saja! untuk satu buah tongke', nada yang mana saja.

Tongke' biasanya dimainkan lengkap minimal tujuh orang; satu untuk do, masing-masing dua untuk re, dan mi, satu orang lagi untuk sol, serta satu lainnya untuk la. Akan tetapi pada pementasan, tongke' sedikitnya dimainkan satu set yang terdiri dari dua setengah oktaf nada yang ada. Karena itu sebuah grup tongke' minimal memesan satu set yang terdiri dari dua belas alat. Pak Salim mematok harga sama untuk yang memesan satu buah saja ataupun satu set.

Laki-laki yang kesehariannya berprofesi sebagai tukang bangunan ini juga memberikan tips agar tongke' tidak gampang rusak atau berubah nada. Karena berbahan bambu, tongke' sebaiknya disimpan di tempat kering. Alasan itu pula, membuat tongke' lebih baik dilakukan pada musim panas dan kondisi bambu telah benar-benar kering.

Bambu yang digunakan membuat tongke' juga tidak sembarangan. Bambu lokal dinilai memiliki ketebalan pas untuk menghasilkan bunyi yang diinginkan.

Dan bila tongke', karena kondisi udara berubah nada, alat ini bisa di-'stem' ulang. Pak Salim juga jagonya. Tarif untuk itu tidak berbeda dengan membuat dari awal. "Karena ini soal nada. Pendengaran dan naluri yang diandalkan," begitu ungkap pak Salim.

Kegemaran dan kecintaan pak Salim pada tongke' menular dan menurun pada anak-anaknya. Yudi misalnya. Pemuda inilah yang memopulerkan tongke' sebagai alat musik. Ia menginisiasi festival tongke' yang diikuti tak kurang dari 18 grup tongke'. Kini ia tengah mempersiapkan sebuah pagelaran tongke' di Taman Budaya Mataram, juga berupaya mendorong tongke' diakui sebagai kesenian tradisional Lombok yang asli.

img_20161228_111300

Yah, memang upaya itu harus dilakukan, mengingat tongke' lahir benar-benar dari masyarakat. Apalagi tongke' memiliki pula muatan religi. Mencocokkan dengan budaya masyarakat Lombok yang dikenal pula dengan seribu masjid, jutaan santri dan wisata halal yang mendunia, rasa-rasanya tongke' tidak terpisahkan dengan seluruh lingkaran itu.

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.