TRIP TO MT.PAPANDAYAN

Senin 15 juni 2015,
Barudak cau / bolang gembel / pendaki sange atau apapun yang mereka sebut ngajakin hiking ke Gunung Papandayan. Egif sang pengajak pertama ngajakin dari jam 12 siang. Berikut percakapan Egif dan Hildan by telepon:
Egif (E) : “Hallo dan..”
Hildan (H) : “Hallo gif…”
E : “Mau ikut ke papandayan gak?”
H : “Kapan gif?”
E : “Entar udah ashar”
H : “Asli gif? Ih urang belum prepare”
E : “Sama urang juga belum prepare da”
H : “Sama siapa aja gif? Duaan?”
E : “Sarap. Piraku we duaan. Egif, Aang kokok, Agung rainda, Obed, Tole, Tantan, sama
baladnya agung weh 2an”
H : “Asli ini teh? Ih meuni ngadadak kanu newbie teh”
E : “Asli dan hayu. Engke ku egif di sms-in bawa naon wae”
H : “Yasok atuh gif ditunggu”
*5menit kemudian Egif ngsms*
Dalam hati saya ngomong, “mendingan ke manglayang atau ke papandayan nyak?” . tanpa pikir panjang, saya langsung memilih papandayan da kabita ku hutan mati dan edelweisnya. Setelah itu, langsung weh prepare naon wae nu kudu dibawa. Tapi, urang mah asa mawa imah ka gunung teh da sagala dibawa. Termasuk ngeprint nama batur (tidak disebutkan namanya) biar kek orang-orang difoto kek gitu.
Beres prepare, langsung berangkat dan nyampeur heula Egif (Pekteh Egif disampeur belum apa-apa, hanas rusuh udah ashar 🙁 ). 10 menit menunggu, kami langsung berangkat dan kumpul di rumah aang koko. Disana sudah ada barudak pendaki sange menunggu. Kami melakukan brifing dan doa bersama sebelum berangkat. Kami berangkat menggunakan motor dengan formasi:
Hildan-Egif ; Agung-Kokok ; Tantan-Tole ; Reunaldi-Agum ; dan Obed-Sorangan
Berangkat dari jam 5 dan tiba di gerbang pendakian jam 10 malem. Bukan lamanya perjalanan Tanjungsari-Burangrang, tapi lamanya kendala dijalan seperti, ban motor bitu 3 kali. Untung we punya balad pangsabar dan solidna nomer 0. Mereka menunggu motor X-ride di Alfamart sampe ketiduran dan kutirisna cuaca di Garut.
Kami langsung bergegas mengisi daftar hadir dan kemudian berangkat memuncak. Tantan yang sudah 345798634 kali naek gunung memimpin di depan. Kabut, bau belerang dan dinginnya cuaca menyambut perjalanan kami menuju pondok saladah (Tempat Camping).
Setelah menghadapi jalur yang cukup ripuh bagi newbie, saya tiba bersama bolang gembel di pondok saladah pukul 24.00. Untuk mengatasi dinginnya cuaca, kami serempak melakukan senam dahulu dan dilanjutkan mengeluarkan barang-barang dan memasang tenda. Saya yang tidak begitu faham dengan kamping kecuali nyambel dan dahar duduk ngahuleng menyaksikan rekan-rekan bekerja.

Selasa 16 juni 2015,
Malam itu, udara dingin merasuki semua bagian tubuh barudak. Barudak yang kangeunahan diimah, akhirnya membuat api unggun untuk siduru bersama. Api unggun dibuat juga untuk membuat bermasak ria. Aang kokok yang gagal di master chef junior, inisiatif mengeluarkan keahliannya di tempat kemping. Sambil nunggu masakan chef, kehidupan barudak ada yang sare, gapleh, remi, turun lagi ke bawah ngecek motor dan ngaganggu batur nu keur sare.
2jam kemudian makanan chef aang matang, barudak yang keasikan dengan kehidupannya tertidur pulas dan menyisakan, Hildan, Kokok, Agung dan Agum. Kami berempat langsung melahap masakan tersebut. Kunikmat eta masakan aang. Sambelna gud. Teuing pedah lapar jeung cape kitu 🙁
Udara semakin dingin, waktu menunjukan pukul 4 dan masakan menyisakan remeh. Kami berempat kembali tidur dengan keadaan panas beuteung ku sambel, dingin dan nyeuri taktak. Leging, kaoskaki (2), kupluk, baf, baju (2), jaket, sleeping bag dipake ge angger weh gabisa sare da kutirisna cuaca siga di venezuela. Kapaksa we sare siga hayam. Leplepan.
Waktu menunjukan pukul 7, disambut dengan sinar matahari dan udara yang tetap dingin. Barudak bangun dengan keadaan mata masih lelah. Aktivitas saat itu, barudak kembali menyiapkan masakan untuk tenaga meneruskan perjalanan kembali. Masakan matang pukul 10 pagi dan habis dalam waktu satu jam.
Dengan tenaga yang ada kami kembali melanjutkan perjalanan ke hutan mati dan tegal alun pukul 12 siang. Barudak yang tak biasa teu kaop ningali kamera, melakukan sesi pemotretan biar kayak orang-orang seunah. Kami tiba pukul 13.00 di Hutan Mati dan pukul 14.00 tiba di Tegal Alun. Di Hutan Mati, banyak pepohonan yang mati akibat letusan gunung papandayan beberapa tahun yang lalu. Ladang edelweis yang luas menjadi kelebihan Gunung Papandayan di Tegal Alun. Namun butuh tenaga ekstra untuk mencapainya, karena jalur menuju Hutan Mati dan Tegal Alun lebih dari perjalanan dari gerbang pendakian ke Pondok Saladah.
Kami turun pukul 16.00 dari Tegal Alun dan tiba kembali di gerbang pendakian pukul 18.00. Barudak serentak terkejut karena jalur yang dilewati semalam cukup ekstrim bagi pendaki pemula. Untuk menghilangkan keterkejutannya, kami kembali melakukan foto-foto, mencari batu akik, ngahereuyan obed da lambat turun pedah kakinya lecet akibat sepatu dangdutnya.
Tiba di gerbang jam 18.00, kami beristirahat sejenak dan kembali melakukan laporan pendakian selesai. Stelah itu, kami langsung berangkat kembali menuju rumah masing-masing di tanjungsari.

Di tengah perjalanan yang menurun, barudak punya firasat buruk. Dan ternyata benar, motor barudak dijailan ku nu “lain”. Motor Agung rem blong, motor Tantan jeung Hildan ban bitu. Kami langsung berdoa sejenak dan membereskan masalah itu. Udah beres semua, perjalanan dilanjut. Kami menikmati perjalanan pulang. Motor Reunaldi dan Agung langsung menuju pom terdekat untuk melakukan pengisian ulang. Obed dengan kondisi duit dadas dan mengecek tank bensinnya.
Hildan (H) : “Cukup bed bensina?”
Obed (O) : “Cukup lah” (Sambil menggoyangkan dan mencelupkan jarinya ke tank)
(H) : “hayu ah itu Agung dan Reunaldi geus beres”
(O) : “hayu gas”
Obed yang berbekal tidak tahu jalan garut dan kondisi bensin saat pergi duluan dengan kecepan 120km/kjam. Barudak tertinggal jauh oleh Obed. Ditengah perjalanan, motor X-ride kami kembali mengalami bitu ban. “Ieu X-ride mereun ngarayakeun anniv dibeli meuni hayang dijajanan terus” tanya saya dalam hati. Barudak kembali menunggu sambil menyeduh kopi sisa semalam. Beres masalah bitu ban, kami kembali melanjutkan perjalanan dan menyempatkan membeli kue balok di sekitar Leles. Dengan udunan duit panyesaan, barudak akhirnya wareg.
Perut kenyang dan cuaca dingin menyengat menemani perjalanan pulang kami. Tantan dan Tole yang nyupirnya diudag mantan sudah sampai dirumah terlebih dahulu pukul 21.00. Barudak menyisakan rombogan Hildan-Egif, Agung-Kokok dan Reunaldi-Agum. Kami kehilangan jejak Obed yang sendiri. Kami melambatkan perjalanan sambil mencari Obed di pinggir jalan. Tak menemukan jejaknya, Kami kembali menaikan kecepatan kami hingga 123421 km/jam. Pukul 23.00 kami tiba di rumah Aang Kokok dan menyempatkan untuk istirahat kembali.
Kami bersharing dan bercerita kembali kekonyolan kami saat pergi dan kembali dari Papandayan. Tiba-tiba ada seseorang datang dengan ridu-nya barang bawaan. Dia adalah…. *jeng-jeng*
Dia adalah….Obed. dia datang dengan kondisi lelah akibat mendorong motor Scorpionya di Lingkar Nagreg menuju perbatasan Bandung-Garut. Obed pun bercerita kepada barudak yang ada.
Obed (O) : “Tega maraneh ninggalkeun lah” (dengan muka sedih dan konyolnya obed)
Hildan : “Kumaha rek ninggalkeun da maneh tiheula kan”
Obed : “Heeh motor uing mogok di Lingkar Nagreg terus didorong we nepi perbatasan
Bandung-Garut”
Agung : “Naha bisa mogok?”
Obed : “Heeh beak bensin”
Egif : “Lainna dicek heula kan pas Agung ngisian bensin, ceuk maneh teh cukup”
Obed : “Heeh da biasana mah cukup, tapi ayeuna mah teu ngucur da saat”
Hildan : “Terus kumaha bed? Diisian kusaha bensin?”
Obed : “Uing nginjeum ka Mang Miming (salah satu ojeg disana), ngagadekeun hape
samsung jeung ktp weh demi duit 30 rebu kangge bensin”
Barudak : “hahaha karunya maneh bed euy”
Obed : “Heeh lain tulungan atuh, urang nungguan sisi jalan”
Agung : “sing demina, urang teh ngalieuk ka kiri terus da bisi ningali maneh disisi jalan. Tapi
sajajalan eweuh maneh aslina bed”
Obed : “urang nungguan di tukang ojeg bari ngadagoan maraneh da”
Hildan : “Aslina bed. Teu ningali da. Terus maneh ceurik teu?”
Obed : “Tadinama urang rek ceurik pisan, ngan lamun urang ceurik bensin moal nambahan
deui. Jadiwe urang nginjeum duit ka Mang Miming”
*Barudak serentak keprok dengan quotes Obed*
Hildan : “Terus rek ditebus iraha?”
Obed : “Isukan we ah”
Agung : “Suku maneh teu karasa nyak da aya nu leuwih nyeri. Ngadorong motor gede”
Obed : “Aslina gung euy”
Barudak yang tertawa dengan cerita Obed merasa kasihan dengan kondisi saat itu. Kami kembali bercerita pengalaman masing-masing di Papandayang. Setelah tenaga kami pulih, kami kembali pulang ke rumah masing-masing. Sekian.

Leave a Reply