Menikmati Senja di Semenanjung Ujung Kulon.

Post

Pengalaman berlibur di Pulau Peucang didasari dari keinginan untuk bisa menikmati akhir pekan diluar Jakarta. Senin-Jumat waktu dihabiskan di kantor dan sisanya terjebak di kemacetan Ibukota, siapa yang ngga bosan dengan rutinitas itu? Karenanya, aku berpikir kami butuh pelarian sejenak. Kenapa “kami”? Karena waktu itu aku pergi bersama dengan mantan pacar, tapi lupakan saja informasi itu karena disini aku tidak akan bercerita tentang keromantisan sebuah hubungan dan percayalah cerita ini juga jauh dari unsur nostalgia.

Karena penatnya rutinitas yang dijalani setiap hari, muncullah keinginan untuk mencium aroma pantai, merasakan pasir di jari jari kaki, berjemur dibawah sinar matahari dan melihat birunya air. Akupun mulai mencari referensi pantai yang ingin didatangi. Kriterianya adalah menawarkan keindahan yang luar biasa, dekat dari Jakarta, perjalanan bisa dilakukan saat weekend - jadi ngga perlu pusing bakal diganggu sama kerjaan- dan terakhir biayanya terjangkau.

Dan dibawalah aku ke salah satu website agen travel “Fun Trips Tour and Travel” yang menyediakan jasa wisata murah menuju Pulau Peucang. Sebelumnya tidak pernah terpikir untuk mengikuti “open trip” yang ditawarkan oleh beberapa jasa travel yang kini marak beredar. Tapi setelah mempelajari beberapa saat di internet sepertinya ini bukan ide yang buruk. Hasil pengamatan tentang Pulau Peucang yang berada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon Banten pun menarik hati. Tanpa pikir panjang aku pun segera mendaftarkan diri di paket wisata 3D2N dengan harga Rp 780.000 (sudah include transportasi, sewa kapal, makan, biaya homestay, tiket masuk tempat wisata, pemandu dan sewa kano, bahkan persediaan air mineral. Hanya belum termasuk biaya alat snorkeling yang akan kami sewa selama 2 hari dengan harga Rp 45.000).

Perjalanan di mulai dari meeting point di Plaza Semanggi. Kalau ngga salah ingat waktu itu ada sekitar 30 orang dan kami berangkat menggunakan bis full AC. Syukurlah karena perjalanan darat menuju Dermaga Sumur memakan waktu sekitar 7-8 jam. Tiba di Dermaga Sumur pukul 4 pagi kami diberikan waktu beristirahat sejenak sampai matahari terbit, lumayan untuk meluruskan kaki dan mengisi perut sebagai amunisi perjalanan yang masih cukup panjang.  Kami akan menyebrangi lautan selama hampir 3 jam menuju Pulau Peucang. Jangan lupa siapkan sunglasses, music player plus earphone, dan kamera untuk menemani perjalanan menyusuri lautan. Meskipun pada akhirnya sepoi angin laut akan membuat kita memejamkan mata dan tertidur juga.

Tibalah kami di Pulau Peucang. Dan yang menarik dari pulau ini adalah kita bukan hanya sekedar di ajak menikmati air di pinggir pantai, berenang, selfie-wefie, atau bengong menatap laut sambil duduk di atas pasir. Semua itu tetap bisa dilakukan, karena Pantai Peucang memiliki pasir putih dan perpaduan air berwarna biru kehijauan nan cantik. Pulau ini membawa kita untuk lebih “berpetualang” dan menyatu dengan alam. Kita bisa berinteraksi langsung dengan berbagai satwa liar, seperti babi hutan, rusa, monyet yang bebas berkeliaran disekitar pulau. Dan trekking menyusuri hutan menuju Karang Copong. Sejenak aku berpikir ketika Tour Guide mengajak semua rombongan untuk bergegas jalan, “Trekking? Dengan sepatu dan baju seadanya begini.” Udah kebayang bakal kayak trekking di gunung aja kan. Tapi ternyata ngga perlu seheboh itu untuk trekking di pulau ini, karena medan jalannya yang datar. Selama sekitar 1,5 jam (sekali jalan ya) kami di suguhi pemandangan pepohonan lebat yang bisa kita pelajari juga jenisnya, rusa dan babi hutan yang berkeliaran dan di iringi suara burung merak yang bersautan. Dan sampailah kami di Karang Copong. Perjalanan yang cukup membuat kaki pegal terbayar sudah dengan pemandangan cantik ketika melihat deburan ombak menghantam karang.

Setelah di ajak menyusuri hutan, kami pun di ajak menyusuri kehidupan bawah laut. Tentu saja agenda snorkeling tidak boleh dilewatkan. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang doyan “nyemplung” dan menghabiskan waktu berlama-lama didalam air. Aku lebih senang menikmati birunya laut sambil berjemur di atas kapal ditemani lagu lagu pilihan dari music player kesayangan. Tapi rasanya sayang kalau harus melewatkan berbagai spot snorkeling di wilayah Taman Nasional ini karena bagus banget! (harus pakai tanda seru).

Setelah menyusuri hutan, menyelami bawah laut, kami pun naik lagi ke permukaan dan menginjakkan kaki di Padang Cidaon. Hamparan padang rumput luas membentang didepan mata. Ssstt, ada rombongan banteng dan merak yang lagi asik berkumpul. Mereka cukup sensitif dengan kedatangan kami dan akhirnya bergerombol pergi. Menurut info dari sang tour guide, Kalau beruntung bisa bertemu dengan badak berculah satu yang sangat terkenal tinggal dan di lindungi di wilayah ini, tapi sayangnya aku tidak berjodoh dengannya.

Sebelum menutup hari, ada suguhan manis dari langit untuk menemani perjalanan kami menuju ke penginapan. Sunset! Aku menikmatinya sambil duduk di atas atap kapal. It was a perfect moment and in an instant makes me feel so alive. I always believe 2 moments that will make you feel alive, sunrise and sunset. Yeah, a simple life is good with me.

Taman Nasional Ujung Kulon sepertinya ngga kehabisan akal untuk memberikan kejutan. Esok harinya, aku dibuat kegirangan dengan kegiatan berkano menyusuri Sungai Cigenter. Rasanya aku tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan excitement yang aku rasakan. Mungkin kalian harus langsung berkunjung sendiri kesini. Untuk sampai ke sungai ini kami beralih dari kapal besar menggunakan speed boat kecil, menerjang ombak dan kemudian masuk ke perairan tenang sungai. Satu kano di isi oleh 6 orang atau lebih (tergantung dari besarnya kano) dan 1 pemandu yang bertugas mendayung dan menyeimbangkan kano. Suasana di sepanjang sungai sangat alami dan tenang sekaligus mencekam, kami ditemani suara kicau burung dan hewan lainnya dari balik hutan. Airnya berwarna hijau pekat (entahlah apa saja yang ada didasarnya). Jejeran tanaman bakau mengelilingi kami. Dan pohon pohon dengan ranting yang menjuntai meneduhkan sepanjang sungai. Jangan kaget kalau menemui ular yang sedang asik melilit di salah satu dahannya ya. Pemandu kano kami sangat interaktif, Ia senang membawa kami melihat lebih dekat ular ular tersebut dan semua mendadak histeris. Sama histerisnya ketika Ia berkata “Disini juga suka ada buaya”, aku hanya langsung berdoa dalam hati. Ia pun menunjukkan kami beberapa jejak badak di tepian sungai, sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang menampakkan diri. Buat kalian yang tertarik dan menyukai alam liar, harus mencoba menikmati sungai ini. Setelah hampir 2 jam (pergi – pulang) menyusuri sungai, kami pun kembali tiba di muara sungai. Rasanya masih belum puas bersantai di atas kano dan menikmati ketenangan sungai. Pengalaman canoeing menjadi penutup terbaik sebelum kembali mengarungi laut ke Dermaga Sumur.

Cerita Lain: Sepotong Cerita Dari Merauke

Ujung Kulon
a simple life is good with me.

Ujung Kulon

Ujung Kulon Ujung Kulon Ujung Kulon Ujung Kulon

Ujung Kulon

Ujung Kulon

Keputusan untuk mengikuti open trip dan memilih destinasi Pulau Peucang Ujung Kulon adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah aku buat. Aku menemukan tempat baru, teman baru dan pengalaman baru. Taman Nasional Ujung Kulon bagaikan paket lengkap. Banyak hal yang ditawarkan, banyak hal yang bisa di eksplor yang akan membuat kita terkesima. Mulai dari pantai, hutan, padang rumput, sungai, semua bisa di nikmati disana. Mungkin aku akan kembali lagi kesini, di lain hari. Dan aku yakin, Indonesia akan selalu membuat kita terkesima dengan kekayaan alam nya. Mungkin di setiap wilayah akan ada banyak hal yang membuat kita berkata “Wow, thanks God I am Indonesian”. Kita hanya perlu mengeksplor lebih. Dan aku ingin melakukan itu. Oh iya, satu kesan terakhir dari perjalanan ke Ujung Kulon adalah aku bisa berkenalan dengan orang baru. Iya aku berteman dengan tiga orang sekawan yang juga berasal dari Jakarta selama disana, umur kami tidak jauh berbeda dan sepertinya gaya hidup juga. Pertemanan kami pun masih berlanjut hingga sekarang.

So, see you next time Pulau Peucang dan Taman Nasional Ujung Kulon!

Cerita Lain: Family Trip Gunung Krakatau

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.