Ujung Kulon yang Mendebarkan

Awal tahun 2016 saya dibuat jatuh cinta sekaligus prihatin oleh berbagai hal yang ada di Karimun Jawa. Jatuh cinta pada isi lautannya yang kaya akan ekosistem yang terjaga, namun juga prihatin dengan perilaku masyarakat Indonesia yang cukup banyak mendatangi penangkaran hiu untuk sekedar berpose diantara hiu yang lalu lalang di sekitar kaki dan pinggang mereka. Bukannya sok berpikir skeptis, saya paham benar betapa pentingnya sebuah tempat penangkaran binatang, namun saya rasa hiu yang ada di penangkaran tersebut seharusnya tidak di eksplorasi seperti itu, karena hiu seharusnya hidup bebas, mempertahankan insting predatornya. Bukannya justru dimanja dan diperbudak dengan umpan yang disediakan manusia, untuk kesenangan sesaat manusia lainnya.
Rasa jatuh cinta dan prihatin inilah yang membuat saya dan beberapa teman tertarik untuk berkunjung ke Karimun Jawa. Saya ingat betul waktu itu bulan Maret, hujan masih setia mengguyur hampir seluruh wilayah Indonesia. Jumat siang kami sudah bersiap untuk berangkat menuju pelabuhan Jepara. Satu jam perjalanan kami habiskan dengan bercanda dan berbagai rasa antusiasme yang tinggi, membayangkan berbagai hal yang akan menyambut kami di Karimun Jawa nanti.

Namun nasib berkata lain. Salah seorang teman mendapat kabar bahwa tidak ada kapal yang akan berlayar dari Jepara ke Karimun Jawa. Alasannya? Cuaca buruk!!! Kecewa betul rasanya hati ini. Pupus sudah harapan bertemu hamparan Arcophora yang ada di sana.

Bayu, salah seorang temannya teman saya akhirnya mengeluarkan sebuah ide yang cukup menarik perhatian kami berdua belas. “Gimana kalau kita ke Ujung Kulon aja? Spotnya lumayan lah.. Daripada kita balik ke Jakarta dan gak dapet liburan apa-apa..”. Begitu kira-kira ide yang dikeluarkan Bayu waktu itu yang disambut anggukan hampir seluruh sahabat perjalanan saya waktu itu.

Walau masih setengah hati akhirnya kami menyetujui untuk berkunjung ke Ujung Kulon. Mobil yang kami tumpangi pun putar arah menuju Pelabuhan Sumur, Banten. Waktu yang dibutuhkan untuk menuju Pelabuhan Sumur cukup lama. Belum lagi jalanan yang cukup rusak di sana sini membuat saya yang kebagian bangku paling belakang merasa sekujur tubuh lelah bukan main.

Sekitar jam 1 malam akhirnya kami sampai di salah satu penginapan yang berada dekat dengan Pelabuhan Sumur, Ujung Kulon. Saya lupa apa nama penginapannya, tapi yang jelas tempatnya bersih dan kami ditempatkan di sebuah villa tradisional dengan tiga kamar di dalamnya.

Begitu kami sampai, penjaga villa pun sudah menyediakan satu teko teh panas lengkap dengan pisang goreng. “Mana tahu mbak dan mas laper.. Kan gak enak kalau harus tidur, tapi perutnya keroncongan..”. 

Selepas ngobrol sebentar dengan penjaga villa, bebersih dan cerita ini itu, kami pun akhirnya terlelap dengan iringan suara tokek yang menjadi lagu pengantar tidur malam itu.

Pagi itu di Dermaga Sumur
Pagi itu di Dermaga Sumur

Tepat pukul 6 pagi penjaga villa membangunkan kami, meminta kami untuk segera bersiap-siap. Pagi itu kami dijadwalkan untuk mengeksplor Pulau Peucang. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk bisa sampai ke pulau ini. Begitu kapal bersandar, kawanan babi hutan menyambut kami di tepi pantai. Rombongan monyetpun tampak bercengkrama di pinggir dermaga, cuek, tak memperdulikan kehadiran kami sedikitpun.

Pantai Pulau Peucang yang Cantik
Pantai Pulau Peucang yang Cantik

Pulau Peucang memiliki ombak yang tenang, berwarna biru jernih. Pasirnya putih dan lembut. Pulau tak berpenduduk ini dijaga oleh beberapa orang juru kunci sekaligus tour guide pulau. Di sini masyarakat pun bisa menginap di barak yang disediakan, namun biasanya barak ini sudah habis diserbu oleh para pengunjung dari berbagai macam travel agent.

Penghuni Tetap Ujung Kulon
Penghuni Tetap Ujung Kulon

Setelah mengurus registrasi, kami pun diajak membelah hutan Pulau Peucang menuju Pantai Karang Copong atau Karang Bolong. Dinamakan demikian karena pantai ini memiliki bebatuan dengan ukuran besar dengan lobang di dalamnya. Lobang ini biasanya dihuni oleh kawanan kelelawar dan ular laut. Ketika senja dan hari cerah, kawanan kelelawar biasanya akan beterbangan di atas bebatuan Karang Copong menyambut malam.

Karang Copong yang Misterius
Karang Copong yang Misterius

Begitu kami sampai di lokasi Pantai Karang Copong, hujan cukup deras mengguyur. Namun kami tetap memutuskan untuk naik menuju salah satu semenanjung untuk melihat Batu Karang Copong dengan lebih jelas. Jalannya bertanah dan licin, jurang dengan hantaman ombak pun sudah siap menunggu kami jika tidak hati-hati melangkah.

Di atas semenanjung itu Karang Copong terlihat begitu gagah dan misterius. Entah apa yang ada di dalam sana, namun pesonanya begitu menggoda, meski saat itu kami basah kuyup dan kedinginan, tapi ada haru dan riang yang menysup di dalam hati ketika melihat gagahnya Karang Copong.

CAMERA
CAMERA

Setelah puas mengeksplorasi area di sekitar Karang Copong, kami diajak untuk snorkeling di depan Pulau Peucang. Terumbu karangnya tidak terlalu banyak, tapi kami sempat bertemu dengan keluarga clownfish alias nemo yang super galak. Puas main kesana-sini, kami pun diminta untuk naik ke perahu karena hujan kembali mengguyur wilayah Ujung Kulon.

Pak Salim, tour guide yang menemani kami waktu itu menyampaikan kalau kami akan mengunjung satu spot snorkeling lagi. Namun belum sampai di lokasi snorkeling hujan deras beserta angin yang cukup kencang kembali mengguyur. Kali ini diperparah dengan matinya mesin kapal yang kami tumpangi.

Awak kapal bergegas untuk memeriksa kondisi mesin, berkali-kali si abang bongkar sana sini untuk melihat apa yang terjadi dengan mesin kapal yang kami tumpangi. Setelah dibongkar menyeluruh, ternyata oh ternyata tuas penggerak mesin patah!!! Kami harus menunggu kapal dari Dermaga Sumur untuk menjemput dan menarik kapal yang kami naiki saat itu.

Hujan semakin deras, angin bertiup kian kencang dan mesin kapal kami masih mati. Mulai dari ngobrol ngalor ngidul, main kartu, main truth or dare, sampai tidur sudah kami lakukan, namun kapal penjemput belum juga datang. Matahari sudah pergi ke peraduannya dua jam yang lalu, artinya kami sudah menunggu lebih dari tiga jam!!!

Seluruh tubuh rasanya sudah lengket bukan main. Baju renang yang tadinya basah sudah mulai kering. Perut yang tadinya kenyang, sudah mulai lapar lagi. Perahu nelayan yang memancing malam itu sudah tampak di kejauhan. Namun tak ada yang menjawab lampu darurat kapal kami.

“Kapal yang jemput sudah dekat, satu jam lagi sampai kok..” kata nakhoda kapal menghibur kami.

Benar saja, satu jam kemudian kapal yang menarik kami akhirnya sampai. Kami pun mulai bisa cukup tenang, meski harus menempuh 2 jam perjalanan lagi, tapi akhirnya kami tak lagi terlantung-lantung di tengah lautan. Syukurlah.

Tepat pukul 12 malam akhirnya kami sampai di Dermaga Sumur. Seluruh badan remuk rasanya. Penjaga villa bergegas menyambut kami di pintu gerbang, sambil membesarkan hati kami yang dirutuk berbagai kata, bapak penjaga villa meminta kami untuk segera ke depan kamar. “Saya sudah siapkan makan malam. Pasti teman-teman sudah sangat lapar..”.

Di meja makan sudah tertata dengan rapi bermacam-macam seafood. Mulai dari udang, cumi-cumi, kepiting  dan kerang. Tak lupa nasi panas dan lalapan yang menunggu kedatangan kami. Bahagianyaaaaa….!!!

Meskipun perjalanan ke Ujung Kulon penuh dengan hal-hal yang tak terduga, namun keindahan alam yang ditawarkan bisa membuat saya lupa daratan. Indahnya Indonesia!!!!

Seorang pegawai broadcast yang cinta Indonesia, beserta isi lautnya!!!

Leave a Reply