Wisata Sejarah ke Palembang, Kenapa Tidak?

Post

Kamu seorang pecinta sejarah? Yuk, belajar sejarah sambil  berwisata ke ibu kota Sumatera Selatan, Palembang. Kota satu ini memang memiliki banyak peristiwa akan perjuangan bangsa Indonesia dalam masa penjajahan dulu. Oleh karena itu, Palembang memiliki beberapa destinasi wisata yang wajib kamu kunjungi untuk menambah wawasan akan perjuangan bangsa Indonesia di tanah satu ini.

Di ibu kota Sumatera Selatan ini juga adalah tempat di mana dulunya kerajaan Sriwijaya berada. Dalam bahasa Sanskerta Sriwijaya memiliki arti yang sangat bermakna lho. "Sri" memiliki makna "bercahaya" atau "gemilang", sedangkan "wijaya" adalah "kejayaan" atau "kemenangan". Maka, dalam kata lain arti dari "Sriwijaya" adalah "kejayaan yang gemilang". Bagaimana, masih penasaran untuk tahu lebih banyak mengenai destinasi wisata di Palembang yang menawarkan sejarah? Lanjut baca deh, kawan.

 

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Salah satu destinasi wisata sejarah di Palembang, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. (Sumber: panduanwisata.id)

Apakah kamu tahu bahwa beliau adalah tokoh yang diabadikan dalam mata uang kita dengan pecahan Rp. 10.000? Bukan hanya itu saja, nama beliau juga diabadikan sebagai bandara internasional di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Beliau adalah seorang Pahlawan Nasional yang berasal dari Sumatera Selatan, serta pemimpin Kesultanan Palembang-Darussalam selama dua periode, lho. Singkat cerita mengenai perjuangan pahlawan ini, beliau melawan Belanda dan Inggris dalam Perang Menteng hingga Sultan Badaruddin dan keluarga ditangkap dan diasingkan ke Ternate.

Nah, di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini kamu dapat menikmati sekitar 556 koleksi benda bersejarah, mulai dari bekas peninggalan kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang. Karena jasanya kepada negeri terutama tanah Palembang, nama Sultan Badaruddin pun diabadikan untuk museum yang kece satu ini. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini terletak di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II No. 2, tepat di seberang Sungai Musi. Bangunannya pun tak berubah dari masa awal pendiriannya.

Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA)

Museum Perjuangan Rakyat di Palembang. (Sumber: 1001wisata.com)

Jika di Jakarta ada Monumen Nasional alias Monas, di Palembang pun ada Monumen Perjuangan Rakyat atau Monpera. Monumen satu ini berada tidak jauh dari Museum Sultan Mahmud Badaruddin, lho. Disahkan pada tahun 1988 lalu, Monpera terdiri dari 8 lantai, di sini kamu bisa menikmati ruang pameran, ruang auditorium, ruang perpustakaan, ruang bengkel, dan masih banyak lagi. Lewat Monpera kamu akan benar-benar akan dimanjakan dengan berbagai informasi sejarah, terutama tentang Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang. Koleksi sejarah mulai dari foto persenjataan, baju dinas yang digunakan oleh para pahlawan, hingga mata uang tahun 1945 lalu.

Bentuk bangunan dari Monpera ini juga cukup unik lho, kawan. Bangunannya hampir menyerupai sebuah bunga melati dengan lima kelopaknya dan memiliki tinggi 17 meter. Untuk memasuki Monpera juga sangat terjangkau, kok. Monpera juga cocok untuk jadi tujuan wisata keluarga. Soalnyadi sekitar monumen ini ada taman yang bisa digunakan untuk tempat santai sambil mencicipi makanan khas Palembang.

Museum Balaputera Dewa

Museum Balaputera Dewa di Palembang. (Sumber: indonesiakaya.com)

Kamu ingin lebih mengetahui dan menikmati setiap koleksi peninggalan zaman Sriwijaya? Yuk, ke Museum Balaputera Dewa yang berada di Jalan Srijaya I No. 288 Palembang. Balaputera Dewa sendiri adalah raja terbesar dari kerajaan Sriwijaya, kawan. Pada masa pemerintahannya lah, kerajaan Sriwijaya mengalami kejayaannya. Menurut infomarsi, bahwa Museum Balaputera Dewa ini merupakan museum umum yang menyimpan 10 jenis koleksi. Mulai dari arkeologika, historika, etnografika, seni rupa hingga teknologi modern.

Di sini juga kamu dapat memasuki rumah ada khas Palembang lho, apalagi kalau bukan Rumah Limas! Rumah Limas di sini juga diabadikan di mata uang kita, lho, dengan pecahan Rp. 10.000. Selain itu, di Museum Balaputera Dewa juga menyimpan berbagai koleksi dari zaman prasejarah. Mulai dari kerangka manusia purba, tengkorak homo erectus, dan alat-alat yang digunakan saat zaman tersebut seperti batu pukul, mata panah, kapak lonjong dari bebatuan, masih banyak lagi. Bagaimana, tertarik untuk mengunjungi museum satu ini?

Kampung Kapitan

Salah satu destinasi wisata sejarah yang harus kita jaga nih, kawan. (Sumber: nationalgeographic.co.id)

Ini dia salah satu destinasi wisata yang juga mengandung nilai sejarah di Palembang. Jaraknya dekat sekali dengan Sungai Musi, kawan. Yup, Kampung Kapitan memang berada di kawasan tepi Sungai Musi. Oleh karena itu, mudah sekali untuk mencapai Kampung Kapitan ini. Hanya memakan waktu 10 menit dari pusat kota, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan kota. Kampung Kapitan merupakan daerah di mana warga keturuan Tionghoa pertama kalinya menetap di Palembang saat kota ini masih dalam jajahan.

Di sini kita bisa melihat rumah di kawasan ini menyimpan dua pengaruh budaya, yaitu budaya Tiongkok dan budaya Palembang. Budaya Tiongkok bisa dilihat dari bagian dalam rumah dan bagian teras rumahnya, kawan. Nah, untuk budaya Palembang berupa bangunan rumah yang menyerupai limas dan terdapat tiang yang menopang berdirinya rumah. Selain itu di Kampung Kapitan ini juga ada Pagoda yang tegak berdiri. Berdasarkan informasi dari National Geographic Indonesia, meski bernilai sejarah dan kerap dikunjungi Kampung Kapitan tidak terlalu diperhatikan, hingga nyaris terabaikan.

Pulau Kemaro

Pulau Kemaro yang wajib disinggahi jika berada di Palembang. (Sumber: panduanwisata.co.id)

Kamu ke Palembang tapi tidak ke Pulau Kemaro? Wah, siap-siap menyesal deh, kawan. Karena Pulau Kemaro merupakan destinasi wisata yang wajib untuk disinggahi. Selain menawarkan keindahan, di sini kamu juga dimanjakan akan sejarah dan budaya. Selain itu, legenda romantis nan tragis yang dipercayai oleh masyarakat di sini.

Singkat cerita sih tentang seorang putri raja bernama Siti Fatimah yang dipersunting seorang saudagar dari negeri China bernama Tan Bun An. Mereka pergi ke China, lalu kembali ke tanah Palembang dengan membawa 7 guci pemberian orangtua Tan Bun An. Setibanya di perairan Sungan Musi, sang lelaki membuka guci tersebut yang hanya terdapat sayur mayur layu hingga ia harus membuang guci tersebut ke sungai. Hingga guci terakhir, pecah, ternyata adalah emas. Karena takut akan ancaman bajak laut, Tan Bun An pun  langsung menceburkan dirinya ke sungai untuk mengambil guci-guci tersebut. Tak kunjung ke permukaan, Siti Fatimah pun ikut menyusul sang suami menceburkan dirinya.

Di sini, kawan, nuansa pecinan terlihat jelas dari bangunan yang ada. Di pulau ini memang terdapat kelenteng yang masih digunakan. Sebagian besar warga Palembang keturunan Tionghoa akan sembahyang di kelenteng ini. Maka, Pulau Kemaro dapat dikatakan merupakan bukti bahwa budaya Tionghoa tumbuh dan berkembang di Palembang. Oh iya, di sini juga terdapat pohon cinta. Konon sih ya, kalau sepasang muda mudi menuliskan namanya di sana, akan berakhir di pelaminan. Aih, yakin gak mau ke Pulau Kemaro yang berada di tengah-tengah Sungai Musi ini?

Bagaimana, tertarik mengunjungi ibu kota Sumatera Selatan ini tidak, kawan? Destinasi wisata di atas hanya sebagian kecil lho yang Palembang miliki. Kota satu ini masih banyak memiliki destinasi wisata yang tak kalah cantik dan memiliki daya tariknya masing-masing. Pasti kamu hafal dong arti dari "Jas Merah" yang pernah dinyatakan oleh Founding Father kita, Soekarno, bahwa "Jangan Pernah Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah". Yup, benar banget, kawan! Sebagai anak muda yang cinta akan tanah air, yuk kita berwisata cerdas dengan mengenal lebih jauh tentang sejarah dan budaya yang tesebar di negeri kita yang kaya ini, Indonesia.

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.